Pakai behel? Jangan lupa dirawat!


Tidak terasa, sudah hampir 3 tahun saya menggunakan bracket atau behel gigi. Seharusnya sih, prosesnya sudah selesai. Tapi, kepindahan saya ke Jakarta, pergantian dokter, kesibukan kerja dan jauhnya lokasi praktek dokter saya, kalau digabung jadi satu hanya menghasilkan kelambanan proses perawatan gigi saya. Yup. Pernah saya sampai 3 bulan tidak kontrol karena tidak ada waktu.

Lama-lama, saya juga jadi agak ngawur dalam merawat gigi. Kalau ada bracket yang copot, saya tidak segera menemui dokter gigi. Kalau sikat gigi juga sekenanya. Akibatnya, gusi saya jadi kurang terawat dan mudah berdarah di deretan bawah. Sementara yang atas sampai mengalami penebalan yang kemungkinan harus dioperasi. Hiks.

Karena butuh opini kedua, dokter saya menyarankan saya melakukan konsultasi ke Rumah Sakit Kesehatan Mulut dan Gigi (RSKGM) UI Salemba. Lokasinya gampang sekali, cukup turun di halte Busway UI Salemba atau naik angkot turun di perempatan setelah RSCM. Buka jam 08.00 dan yang antri banyak sekali. Untuk pendaftaran ataupun konsultasi, cuma kena biaya administrasi Rp 10.000.

Yang menemui saya adalah seorang dokter gigi praktik co-ass, namanya drg. Nadia. Walaupun dokter gigi saya sudah memberi surat pengantar permintaan operasi, dokter Nadia tidak bisa langsung menjalankan begitu saja. Dia menyarankan saya melakukan serangkaian observasi lebih dulu dan juga perawatan alias treatment intensif selama dua pekan. Jadi, saya harus melakukan foto panoramik lagi, foto dental, cetak gigi dan treatment. Saya pernah cerita kan bagaimana rasanya cetak gigi? Hoek. Seperti dijejali segumpal permen karet dingin sampai tekak tenggorokan dan bikin ingin muntah.

Selama observasi awal itu, dokter Nadia memberi serentetan nasihat. Intinya, jangan malas bersihkan gigi, kalau perlu sampai pakai benang gigi (dental floss). Padahal tahu kan? Kalau pakai behel, kita harus memasukkan benangnya satu per satu bergantian tiap gigi melalui celah kawat? Repot dan menyusahkan sekali untuk yang tidak punya waktu kayak saya. :(

Dokter Nadia yang juga pakai behel bilang, kalau sikat gigi juga harus mengenai gusi. Supaya, kotoran di kantong gusi (pocket) juga bisa dibersihkan. “Begini caranya mbak, tarik bibir bawah sampai..bweee…nah disikat juga bawahnya!” jelasnya sambil menarik bibir bawah supaya gusi gigi bagian bawah terekspos dan bisa disikat lebih leluasa. Soalnya, kata dia, kita sering kelupaan menyikat bagian bawah bracket. Akibatnya, ada gigi saya yang mengalami black triangle alias penurunan gusi akibat plak. Nah ini kalau sudah terlanjur, sangat susah kembali seperti semula. Ahhhh…sebal.

Nah, selama dua minggu masa perawatan, saya wajib menyikat gigi dengan odol Parodont*x dan kumur dengan Minos*p. Odol ini harganya lumayan mahal, Rp 22.000 kalau tidak salah, rasanya asin dan menyebalkan ahhaha. Caranya, oleskan sedikit odol di gusi atas dan bawah sambil dipijat, baru setelahnya sikat gigi menyeluruh dengan sikat yang sudah dioles odol juga. Disarankan pakai sikat gigi ortho sih, tapi saya malah tidak suka dengan kekerasan bulu sikat ortho. Akhirnya saya pakai O*al B saja hehehe.

Setelah itu, baru kumur dengan 10 ml Minos*p. Rasanya pahit, dan kalau tidak tahan bisa dicampur air 1:1. Tapi lama-lama kalau tahan, rasanya sebelas-duabelas dengan Liste*ine sih hahaha. Cuma, setelah kumur tidak boleh dibilas air. Tidak boleh makan dan minum selama 30 menit. Jadi rasanya pahit banget di tekak tenggorokan. Ugh. Tapi setelah menjalankan ritual ini dua kali sehari, hasilnya lumayan lo. Gusi terasa lebih sehat dan lebih kesat. Apalagi saya melakukan treatment ini setelah di-scaling (pembersihan karang gigi).

Bagaimana dengan dental floss? Uh, yeah…um…saya cuma melakukannya sekali hahahha! Soalnya setelah itu, benang giginya raib entah kemana dan saya tidak punya waktu mampir supermarket untuk beli yang baru. Kekekekek! Nah, karena sudah merasakan manfaat perawaatan ini, sepertinya saya akan meneruskannya. Ini bisa juga ditiru buat orang non-pemakai behel, lo. Jangan lupa sikat gigi yaaa!!!

Cheers!

PS: Harga yang saya sebutkan di atas hanya harga administrasi pendaftaran ya :D Untuk biaya foto (rongten), cetak gigi, scaling dan lain-lain beda, tapi tetap lebih murah sih daripada klinik swasta, menurut saya :)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s