Rangga, Cinta dan Strategi Iklan


Pagi ini, seorang teman bertanya melalui Blackberry messenger, “Ga, dulu kamu nonton AADC enggak?” Saya tertegun setengah detik lalu membalas, “Semua anak SMA waktu itu pasti nonton, lah.” Kemudian dia memberi tautan video berikut:

Ada Apa Dengan Cinta – 2014 (minidrama)

Ah. Jadi ini hasil dari teaser foto yang dibagi Dian Sastrowardoyo di akun Instagramnya beberapa waktu lalu tentang reuni alumni AADC? Sebuah minidrama yang merupakan bagian dari iklan layanan sebuah portal chatting: LINE.

Dalam potongan-potongan adegan sepanjang 10 menit 24 detik itu, si pembuat iklan, eh film, berhasil mengumpulkan tidak cuma Cinta (Dian Sastro) dan Rangga (Nicholas Saputra), tetapi juga seluruh anggota geng Cinta:  Alya (Ladya Cherill), Carmen (Adinia Wirasti), Maura (Titi Kamal) sampai Milly (Sissy Priscilia)!

Seperti menyambung cerita dengan versi asli  AADC yang diluncurkan 2002 lalu (astaga! Dua belas tahun sudah!), cerita dibuka dengan adegan Rangga yang sudah bekerja di New York. Tiba-tiba, ia mendapat pesan masuk (melalui LINE, tentu saja) dari atasannya yang menugaskan ia melakukan perjalanan ke beberapa kota, termasuk Jakarta. Saat berkemas, buku AKU terjatuh dan Rangga teringat sesuatu.

Nah di situ, LINE mulai memasukkan jualan utamanya: fitur Find Alumni.

Rangga mencari Cinta melalui fitur tersebut dengan memasukkan nama sekolahnya dan mencari nama Cinta. Lucunya, di antara nama orang lain yang terdiri dari 2 kata, nama Cinta tetap satu kata. Kita tidak pernah tahu nama belakang mereka, bukan? He he he. Rangga lalu mengirim pesan singkat: Cinta? (di sini saya bisa bayangkan cewek-cewek mulai histeris “awww misterius!” Gitu kali ya?)

Sementara itu, Cinta di Jakarta, 12 tahun kemudian, sudah bekerja di sebuah media gaya hidup (terlihat dari seting lokasi tentu saja) dan bersiap untuk bertemu teman-teman gengnya. Wajah-wajah gadis remaja yang dulu jadi idola se-Indonesia tentu sudah berubah semua. Jauh lebih dewasa (iyalah). Cinta menerima pesan Rangga di sela obrolan riuh mereka dan mendadak diam.

Setelahnya, Cinta perlu waktu lama untuk memutuskan membalas satu kalimat tanya itu. Heboh sekali galaunya. Setelah dia membalas dengan basa-basi menanyakan kabar, Rangga mengajak bertemu. Lalu Cinta galau lama lagi. Menit kelima, dia masih belum bisa memutuskan juga, sampai saya menyeletuk ke teman “Ini entar ujung-ujungnya bandara lagi, deh.” Sementara teman-teman Cinta bilang kalau tindakannya sudah tepat, lebih baik lupakan saja Rangga. Toh sudah lama sekali tidak ada kabar.

Stop. Di sini saya mulai penasaran. Memangnya dulu pisahnya enggak baik-baik ya? Bukannya mereka ketemu di Bandara lalu berjanji saling berkabar? Memangnya enggak sempat surat-suratan? Kirim email? Hahahah! Ya apapun itu, saya melihat kegalauan mbak Cinta di sini terlalu lamaaaaaaaaaaa. Duhhh, tinggal putusin mau ketemu apa enggak aja lama bener. You wasting the time, girl.

Long story short, ternyata beneran, ujung-ujungnya mereka bertemu di bandara ha ha ha! Tapi setelahnya hubungan dilanjutkan dengan fasilitas video call, video recording dan lain-lain dari LINE :P

Usai menontonnya, saya dan teman sepakat kalau marketing LINE ini bisa dibilang sangat berhasil. Mengutip teman saya Dila, faktor “ingatan kolektif” adalah sesuatu yang dimanfaatkan dengan baik oleh pengiklan. Dua belas tahun lalu, film AADC meledak besar-besaran di kalangan remaja bahkan mengubah perfilman Indonesia. Setidaknya setiap remaja SMA, pada masa saya, merasakan antri panjang, berdebat dengan calo dan rela berjubelan demi menonton Rangga dan Cinta. Alur ceritanya cukup realistis, pemainnya enak dilihat dan ya, jalan ceritanya bisa dibilang sangat bagus dibanding skenario film domestik lain saat itu. Tambah pula, faktor musik pengiring dan soundtrack buatan Melly Goeslow juga mengerek fenomena waktu itu.

Setidaknya ratusan ribu orang menonton film itu. Belum menghitung bila masing-masing orang menonton lebih dari satu kali. Saya punya teman yang nonton sampai 7 kali! Bayangkan, betapa membekasnya film ini dalam sejarah masa remaja saat itu? Pengiklan tahu benar celah klangenan ini. Dengan ending cerita perpisahan di bandara, para penonton AADC di masanya merasa “tidak puas” dan ingin mendapat jawaban. Jadi Rangga sama Cinta bagaimana? Sekarang mereka jadi apa? Teman-temannya jadi seperti apa sekarang? Setidaknya, ratusan ribu orang memiliki kenangan atau ingatan yang sama akan satu hal: cerita Cinta dan Rangga. Faktor ini saja sudah cukup hebat sabagai penggerak tindakan atau keputusan secara massal :D

Saya juga merasakan faktor ingatan kolektif itu dan lebih dari bernostalgia dengan menonton mini drama ini. Walaupun singkat, tapi minidrama ini seperti mengobati kangen pada kisah Rangga dan Cinta yang fenomenal di masanya. Dian Sastro walaupun sudah menjadi ibu masih terlihat segar dan cantik, sementara Nicholas Saputra…yah…jauh lebih cakep dibanding waktu SMA :P

Saya yakin, ratusan ribu orang yang menonton minidrama ini tidak keberatan bahwa ini semua cuma bagian dari iklan. Kami tidak peduli. Bahkan berterima kasih. Karena si pengiklan mau keluar modal demi menghadirkan deretan gambar-gambar apik dan menyatukan semua tokoh kesayangan ini. Sekali lagi.

Teman saya bilang, iklan ini bisa menang penghargaan karena jadi viral. Kita lihat saja nanti ya. Hal itu sangat mungkin sekali. :)

 

Cheers!

 

 

4 thoughts on “Rangga, Cinta dan Strategi Iklan

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s