Operasi Gusi di RSKGM UI


Sebelumnya saya sudah cerita, kalau saya akan melakukan operasi gusi di RSKGM UI. Jadi, setelah dua minggu melakukan saran perawatan yang diberikan drg. Nadia, gusi saya lumayan mengempis. Hmm, ternyata ngefek juga lo timbunan plak pada pembengkakan gusi.

Tapi gusi saya masih belum menyatu dengan gigi seperti seharusnya. Lalu, suatu pagi, drg. Nadia kirim sandek, “Mbak, kasusnya sudah selesai didiskusikan, bisa kontrol kembali hari X?” Jadilah saya kembali ke RSKGM UI untuk konsultasi kembali. Saat konsultasi itu, drg. Nadia bilang kalau gusi saya memang harus dipotong. Ia memanggil dosennya, drg. L untuk konsultasi langsung dan melihat situasi saya.

Drg. L ini dosen super sibuk di FKG UI hehehe. Jadi drg. Nadia terlihat senang waktu drg. L menyanggupi untuk hadir saat operasi saya. “Yes, gue pecah rekor operasi sama drg. L!” serunya ke temannya. Drg. L mengingatkan saya pada Mr. D hahaha. Sama-sama terlihat “sulit” tapi bedanya yang ini perempuan. :p

Setelah drg. L mengecek kondisi saya, dia menyetujui semua saran drg. Nadia dan menambahkan beberapa metode operasi yang saya sama sekali enggak ngerti. Ya sudahlah, yang penting beres ya kan? Begitu drg. L pergi, drg. Nadia melakukan bone sounding pada gusi saya untuk menentukan seberapa dalam atau seberapa panjang gusi saya harus dipotong.

Pertama, gusi saya diolesi sesuatu yang manis (katanya rasa stroberi) untuk mengurangi nyeri saat ditusuk anestesi. Waktu disuntik obat bius di bagian gusi depan, masih bisa saya tahan. Tapi rupanya drg. Nadia perlu mengukur bagian dalam juga dekat langit-langit mulut. Jadilah ia menyuntikkan anestesi di sana. Rasanya? Saya kasih emotikon (T_T) saja ya, hahaha. “Yang ini agak terasa ya mbakkk,” ujar drg. Nadia. Hiks auch..iya dok.

Hari operasi disepakati sepekan kemudian. Saat pertemuan untuk bone sounding itu, saya cuma bayar biaya administasi saja ke resepsionis. Sebenarnya saya juga sudah siap membayar biaya lain-lain kalau diminta. Eh, ternyata tidak.

Hari Operasi

Operasi saya disepakati hari Jumat pagi. Padahal, hari Kamis adalah waktu tenggat saya sebagai reporter mingguan. Tapi saya menyanggupi dengan harapan punya waktu sepanjang akhir pekan untuk pemulihan.

Saya bangun sekitar 1,5 jam dari waktu janji. Agak terburu-buru mandi dan tidak sempat sarapan, saya hanya menelan sesendok madu, minyak kelapa murni (VCO) dan air putih. Setidaknya untuk tenaga lah. Langsung deh saya naik ojek sampai Salemba.

Di resepsionis saya sodorkan kartu pasien, membayar biaya administrasi dan menunggu sebentar sembari main Clash of Clan :p tidak lama nama saya dipanggil seorang co-ass berbaju biru. Kursi periksa saya kali ini berbeda. Kalau sebelumnya ada di deretan tengah, kali ini saya ditempatkan di deretan dinding. Mungkin karena perlu konsentrasi dan tidak terganggu hilir-mudik dokter pasien di sana.

Sederet alat sudah disiapkan drg. Nadia. Dia juga meminta salah satu asistennya memotret mulut saya sebagai keterangan “before”. Motretnya pakai kamera ponsel, yang membuat saya berpikir beruntungnya mahasiswa kedokteran di era teknologi seperti sekarang.

“Bentar ya mbak, nunggu dosennya turun. Ini saya juga belum apa-apakan,” ujar drg. Nadia. Oya, saya sama sekali tidak pernah bertanya latar belakang drg. Nadia. Dia hanya menyebut kalau ini tahun terakhirnya di sana dan sudah hampir lulus. Makanya, dia mengenalkan saya pada beberapa koleganya, jaga-jaga kalau dia sudah tak ada untuk meneruskan perawatan saya. Hmm, perawatan gigi memang cukup personal sih ya..

Sekitar 15 menit menunggu, drg. L tiba. Sebelumnya drg. Nadia sudah berpakaian operasi dengan celemek plastik putih, penutup kepala, penutup mulut dan sarung tangan karet. Saya juga sudah ditutup “taplak” operasi hahaha. Taplak itu cuma bolong di bagian mulut. Mungkin maksudnya biar saya juga tidak terdistraksi dan ngeri dengan prosesnya. Aww..saya takut darah dok!

Kali ini, proses anestesi berjalan lebih menyiksa. Karena drg. Nadia menggunakan cairan berbau tajam sampai ke tekak tenggorokan. Pahit dan semriwing sampai saya ingin muntah. Untungnya, asisten dia sigap menyedot (suction) dengan selang kecil. Tapi tetap saja..ada yang tertelan. Hoek! Penyuntikan anestesi dilakukan lebih cepat dan kali ini drg. Nadia sudah memperkirakan dosisnya lebih banyak dari waktu bone sounding kemarin. Dalam hitungan detik, area rahang atas saya mati rasa. Syukurlah!

Dari balik taplak hijau operasi, samar-samar saya bisa melihat alat-alat yang digunakan. Tapi karena masih agak ngantuk, saya curi-curi tidur sebentar juga :p drg. L di sisi kiri saya sambil sesekali memberi instruksi “pakai pisau yang ada kaitnya aja, nak (sepertinya dia panggil semua mahasiswanya ‘nak’).” Atau, “kamu agak atas lagi potongnya, biar bisa dikuret dari belakang.” Haduuuuh saya enggak mau bayangkan! Eh, tiba-tiba drg. Nadia bilang, “bentar dok..ini darahnya rembes terus.” Dih. Horor.

Sesekali saya merasakan lampu kilat. Halah, berasa artis padahal si asisten sibuk mendokumentasikan. Yap, saya yakin mulut gigi saya bakal jadi contoh kasus di sela-sela kuliah mereka. (.___.). Tambah lagi, kadang drg. Nadia terlalu fokus mengubek-ubek mulut saya sampai tidak sadar tangannya memencet hidung saya. Help! Help! Enggak bisa napas, dok! Eh, pas saya bilang begitu, dia malah menegur asistennya. Puk puk mas asisten…

Sepanjang operasi, saya memang tidak merasakan apa-apa. Tapi bukan berarti tidak peka dengan bunyi “kress, kress” atau, “grrk, grkkk” aduh, itu menyentuh gigi, tulang, atau proses potong gusi? Tapi sekitar sejam kemudian, saat bibir atas saya ditarik-tarik untuk dijahit, saya…mulai terasaaaaa! Hwaaaa! Tapi ya ditahan sajalah. Anggap latihan agen khusus kalau disiksa penculik yang memaksa kita membocorkan informasi rahasia. Kresss!!!

Begitu proses gingivectomy (potong gusi) selesai dan tinggal merampungkan jahitan, drg. L sudah lenyap dari pandangan mirip jelangkung (ampun dokkk). Ckckck sungguh sibuk beliau. Saya sempat menguping kalau pekan depan jadwalnya sudah sepadat menteri, seminar di sana, pertemuan di sini, kasih materi di situ, dan lain-lain. Wih…

Setelah rampung menjahit, drg. Nadia mengoleskan alkohol pada permukaan luka (syukur masih ada sisa anestesinya yaaa). Lalu dia bilang akan menempelkan bubble gum untuk melindunginya. “Ini bubble gum-nya paling enggak harus bisa tahan 3 hari ya mbak,” pesannya. Bubble gum ini sebetulnya cuma lapisan mirip permen karet saja sebagai pengganti perban luka. Enggak bisa dimakan lah, apalagi ditiup. :p

Jadi, selama seminggu ke depan, saya harus berhati-hati kalau sikat gigi. Jangan berkumur dan jangan menghisap. Lah, minumnya bagaimana, dok? “Minum makan biasa aja mbak, tapi pelan aja, sikat gigi juga hati-hati,” jawab drg. Nadia. Tapi…tapi…membuka mulut saja aku sulittt.

Sebelum pulang, saya menebus resep obat pereda nyeri, asam mefenamat dan obat oles oxyfresh (yang baru ketauan sama sekali tidak bikin fresh). Semula biaya operasi saya perkirakan sampai Rp 2 jutaan, eh tapi saat membayar di kasir, tidak sampai Rp 1 juta. Yay! Syukurlah.

Karena duit sisanya lebih dan kepala saya sudah mulai berdenyut, saya jadi manja. Tadinya saya berniat pulang naik TransJakarta, tapi begitu keluar gerbang UI, saya langsung menyetop taksi. Enggak apalah sekali-sekali hehehe. Saya cuma ingin segera menaruh badan di kasur dan melupakan sakit ini. Sakit gigi (dan mulut) betulan lebih menyakitkan dari sakit hati….hiks.

Secara umum, saya senang bisa mencoba fasilitas perawatan gigi di RSKGM UI. Selain biayanya murah, dokter-dokter muda itu juga sangat terbuka dan tidak pelit memberi saran. Bahkan kadang cenderung blak-blakan hahaha. Berkat saran drg. Nadia, saya diingatkan supaya lebih telaten merawat gigi.

Beberapa pasien saya lihat ditangani dokter lain dengan cara serupa oleh dokter-dokter lain. Kesannya memang dijejali teori, tapi ada benarnya juga, lo. Andai harus memilih antara UI atau klinik swasta, saya tetap pilih yang pertama. Semoga Anda semuatidak lalai merawat gigi juga yaaa!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s