Pasar Seni ITB? No Way…


Disclaimer: Tulisan ini akan sedikit panjang dan juga bias dari satu sudut pandang pengunjung (saya) yang tidak puas. Semoga Anda, pengunjung yang lain, masih bisa menyimpan kenangan baik dari acara akbar ini. Tabik.

***

Sudah agak lama sebenarnya kabar tentang Pasar Seni ITB 2014 mampir ke radar saya. “Tanggal 23 November nanti, hari Minggu, ada Pasar Seni ITB, lo. Dengar-dengar ini acara empat tahunan,” ujar teman saya. Wah, langsung terbayang di benak saya acara yang pasti seru. Banyak stand kerajinan tangan, karya senirupa dan juga makanan. Membaca berita-berita promosinya, katanya juga bakal ada berbagai panggung hiburan. Apalagi ini acara empat tahunan, wah pasti persiapannya matang dong yaa!

Jadilah saya mengajak kakak saya berkunjung ke Bandung. Kami memesan penginapan jauh-jauh hari, juga membeli tiket travel untuk ke sana. Modal sedikit besar tidak apalah, nanti bisa puas main di sana. Kapan lagi ke pasar seni, ya kan?

Setelah menginap semalam di Bandung, Minggu paginya kami menuju kampus ITB di jalan Ganesha. Sudah diketahui umum, Bandung pasti macet di akhir pekan. Jadi kami menjemput pacar kakak lalu memutuskan jalan kaki dari sana. Tidak terlalu jauh sebetulnya. Tapi mendekati jalan Ganesha dari arah Dago, saya sudah mulai curiga. Orangnya banyak sekaliiiii! Memang, daerah Dago mirip dengan daerah UGM di Jogja setiap minggu pagi. Banyak orang jalan-jalan, olahraga ringan sambil lihat-lihat barang dagangan.

Tapi begitu belok ke jalan Ganesha, kecurigaan saya terbukti: pengunjung pasar seni sangat banyak. Terlalu banyak. Kecepatan langkah saya langsung menciut seperdelapan karena terhalang oleh banyaknya orang. Dengan banyaknya manusia, kami nyaris tidak melihat adanya peta penunjuk arah. Kelimpungan, kami asal masuk saja dari area parkir sepeda. Kami malah jadi melintasi lorong-lorong tempat para penampil menyiapkan diri. Saat itu cuaca sedikit mendung, tapi tidak apa, karena kami bawa payung. Jadi terasa sedikit tenang.

Lalu, terjadilah “manasik haji” itu…

Saya ralat pilihan kata ‘banyak’ karena yang tepat adalah ‘membludak’! Ya, pengunjung pasar seni ITB terlampau banyak sampai rasanya halaman kampus yang sangat luas itu tidak mampu menampung. Saya melihat usaha panitia mengarahkan pengunjung dengan menaruh police line di berbagai sudut, tapi tidak membantu. Saya berpisah dengan kakak saya dan pacarnya dan bertekad mencari stand jualan teman saya di Jogja karena saya sudah berniat membeli. Tapi, untuk saya sampai di stand mereka, rasanya seperti manasik haji! Saya harus mengikuti arus orang-orang yang berjubelan sampai hampir tidak bisa bergerak cepat.

Orang…orang…dimana-mana orang! Kami seperti koloni semut yang diperbesar semilyar kali!

Situasi bertambah buruk karena….hujan deras!! Saat itu saya tengah mencari mesin ATM, menemukannya dan harus antri panjang seperti antri sembako. Saat itu pula air menerpa dan membasahi sebagian lorong karena bocor di sana-sini. Bayangkan saja koloni semut yang tadinya di halaman lalu dijubelkan di lorong-lorong sempit. Yah…

Perasaan saya langsung tercemar rasa sebal, capek dan ingin segera keluar dari situasi itu. Saya sudah membeli pesanan teman saya dan beberapa barang yang memang sudah saya incar. Tapi untuk stand-stand yang lain? Bukannya saya tidak kepingin, saya bahkan tidak bisa melihat dengan nyaman!

Jadi, kalau harus dirangkum daftar keluhan saya tentang pasar seni ITB tahun ini, beginilah urutannya:

1. Waktu

Pasar Seni ITB yang sungguh akbar karena hanya diadakan 4-5 tahun sekali ini sebetulnya sangat menarik dan menjanjikan. Lalu, kenapa hanya diadakan satu hari saja? Yang bisa saya simpulkan dari acara itu, orang Bandung sangat suka datang ke acara seperti ini dan itu bagus! Tapi lebih baik jumlah pengunjung yang sangat banyak itu didistribusikan dalam 2-3 hari. Jadi tidak tumpah seperti air bah!

Membludaknya pengunjung justru merugikan bisnis. Tidak percaya? Di tengah “manasik hajinya”, kakak saya mendengar seseorang berteriak sebal “Aduuuh, mau lihat tapi enggak bisa!!” Tahu artinya? Orang jadi sulit melihat barang jualan dengan nyaman, moodnya hilang lalu dia tidak jadi beli atau bahkan tidak bisa beli.

Menurut saya, buat apa panitia bangga dengan membludaknya pengunjung kalau transaksi minim terjadi?

2. Ruang

Kalau saya lihat peta (Google maps, Waze, dll), kampus ITB itu besar sekali, lo. Lalu mengapa hanya ruang terbuka yang disediakan panitia? Mengapa kampus enggan membuka ruang-ruang serba gunanya? Saat hujan tiba, saya melihat kepanikan di antara para pemilik stand. Bayangkan, Anda harus menyelamatkan lukisan, bantal, produk kertas dan elektronik dari hujan! Dan, ini musim hujan! Tapi pengamanan yang dimiliki para stand hanya terpal segi empat yang tembus air di sela-selanya.

Saya rasa, kalau panitia bisa membagi ruang antara yang tertutup dan terbuka, mungkin tidak akan sepanik kemarin. Pengunjung kebasahan dan tidak bisa bernaung dengan nyaman. Kalau menurut saya sih, menyebalkan! Tambah lagi, beberapa stand dialiri air deras seperti sungai. Huh.

3. Fasilitas

Terlepas dari kacaunya pengaturan panitia, saya paling sebal karena area kampus ini mengacak sinyal telekomunikasi! Bukan, saya bukan ingin mengunggah foto narsis ke media sosial, tapi saya bahkan tidak bisa menghubungi kakak saya! Tidak ada sinyal, dab! Saya seperti anak hilang karena akhirnya memutuskan duduk di bawah pohon yang basah, mengirim pesan pendek ke kakak saya dan berharap ia berhasil menemukan saya.

ATM? Jangan tanya. Mesin ATM yang ada hanya tiga (sejauh pengamatan saya) yakni BRI, Mandiri dan BCA dimana mesin BCA tak bernyawa. Sementara bank internal kampus tentu saja tutup. Mengapa masalah ATM saya persoalkan? Karenaaaaa, tidak semua stand diberi mesin EDC untuk transaksi! Padahal harga barang di sana tidak murah-murah amat. Memangnya orang akan siap membawa uang tunai dalam jumlah besar? Tentu ia mengharapkan bisa menarik uang di ATM atau mesin EDC.

Tapi adanya mesin EDC juga tak banyak manfaat. Entah kapan, mesin-mesin itu tidak berfungsi alias mati. Percuma betul.

Nah, rasanya saya sudah selesai menumpahkan rasa sebal karena bukan senang yang saya dapatkan di sana. Oh, tentu saja saya cukup senang karena bertemu teman lama dari Jogja yang membuka stand, tapi pengalaman keseluruhan? Sangat mengesalkan.

Apakah saya tertarik mengunjungi Pasar Seni ITB lagi? Entahlah. Acara empat tahunan kemungkinan besar mengalami regenerasi kepanitiaan yang tak sempurna karena terlalu lama jaraknya. Tapi ya, kita lihat saja nanti!

Tabik!

Pembaruan tanggal 27 November 2014:

Setiap kali saya menceritakan ulang pengalaman di pasar seni ITB pada teman saya yang bertanya, perasaan sebal saya bangkit lagi dan lagi. Jadilah saya curhat kemana-mana.  Enggak ditanya pun, saya terus membahasnya supaya berkurang rasa dongkol saya. Maafkan…

Nah, salah satu teman saya memberi tanggapan yang menarik. Dia bertanya, “panitianya itu apa enggak punya ya, log kepanitiaan era sebelumnya? Kalau ada kan seharusnya bisa diperbaiki dari situ.” TRING!! Jadilah saya harus menambahkannya. Ide bagus! Ya, setiap acara kampus pastilah memerlukan laporan pertanggungjawaban kan, ya?

Dengan asumsi itu, maka seharusnya panitia memiliki catatan kendala apa saja yang dialami panitia sebelumnya. Nah, lucunya, saat saya bercerita ke teman yang lain, dia menginformasikan kalau temannya bilang “memang desak-desakan itu dulu.” Artinya? Animo masyarakat sangat tinggi tapi acara tidak mampu mengakomodasi! Semoga lain kali lebih baik yaaa! Sayang sekali lo, acara seakbar dan menarik seperti ini kalau tidak nyaman dikunjungi!

One thought on “Pasar Seni ITB? No Way…

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s