Kartu Kredit


Belum lama ini saya memiliki kartu kredit sendiri, keluaran “bank capek antri” (tahu kan ya? :D). Statusnya pemilik kartu utama. Bukan lagi numpang punya kakak saya sebagai pemilik kartu tambahan he he he! Senang! Ih, kok senang sih? Itu kan kartu utang! Wah, saya enggak ingin ikutan perdebatan geng “anti kartu kredit” ya, karena buat saya, KK alias kartu kredit itu lumayan banyak manfaatnya.

Tapi ya itu, proses aplikasinya ruwet dan hanya Tuhan serta analis KK bank yang bersangkutan yang tahu apa alasan kita berhak mendapatkan atau tidak KK itu. Hih. Sebelum tembus yang sekarang, sudah berkali-kali saya mengajukan proses aplikasi KK di bank, dan semuanya menolak. Termasuk bank penerbit KK saya sekarang. Tapi wajar sih, dulu saya apply waktu belum genap setahun bekerja. Konon, bank butuh jaminan kestabilan (baca: gaji) dari karyawan berstatus tetap. Kalau lama kerja Anda masih di bawah setahun, belum berstatus pegawai tetap pula, jangan harap bisa dapat KK.

Percobaan kedua, ketiga dan keempat saya adalah aplikasi KK BN* (tebak sendiri). Tenaga penjualnya kan lumayan agresif yah, tapi enggak ada satupun aplikasi saya diterima sampai saya trauma. Setelah kegagalan ketiga, saya cuma melipir minggir kalau didekati pegawainya di pusat belanja. “KTP saja kok kak, kita bantu apply?” Enggak mas, saya sudah lelah ditolak! Sudah! Sudaaaah!, sahut saya sambil berlari berderai air mata. Drama.

Yang kelima adalah bank yang saya enggak harapkan karena cuma iseng saja. Itu loh, Citib*nk. Wajar kalau saya enggak berharap proses aplikasi akan lanjut lantaran yang ditawarkan adalah KK jenis platinum untuk pendapatan minimal sekian puluh juta setahun. Uhuk! Keselek slip gaji.

Nah, yang keenam, adalah aplikasi KK bank CI*B Nia*a, dimana saya tercatat sebagai nasabah. Yang ini perlu saya ceritakan sedikit karena rasa sebalnya masih terasa di tenggorokan.

Jadi, suatu siang ponsel saya menerima panggilan masuk. “Selamat siang, dengan ibu Elga? Kami dari bank CI*B Nia*a bu, kami ingin mengirimkan KK ke kantor ibu. Boleh dibantu melengkapi datanya?” Lalu saya memberitahukan beberapa data. Serta menyanggupi mengirim kopi slip gaji dan kartu identitas. Sepanjang percakapan, terkesan bahwa bank ini memang akan mengirim KK. Ada kan yang begitu? Pembicaraan ditutup dengan janji mengirim KK ke kantor dua pekan lagi. Setelahnya, ibu saya mengabari kalau ia juga sudah ditelepon pihak bank untuk verifikasi. Wah, tumben…soalnya ibu saya jarang bisa dihubungi.

Setelah 3 minggu berlalu begitu saja, saya tiba-tiba ingat proses itu. Lalu karena penasaran, saya telepon nomor layanan pelanggan bank itu. Tahu jawabannya? “Maaf bu, proses kartu kredit ibu belum disetujui.” What?! Neraka ke bawah, hell to the low, hellooow!! Yang telepon menawarkan siapa ya? Saya juga enggak ajukan aplikasi sendiri. Kok malah begitu! Sejak itu saya masukkan bank ini ke daftar hitam juga. Sebal saya!

Kenapa sih kok saya ngotot punya KK sendiri? Karena, saya pernah pesan tiket pesawat, rupanya opsi pembayarannya memerlukan kode verifikasi yang dikirim ke…nomor kartu utama! Argh! Mana kakak saya waktu itu sulit dihubungi sementara waktu verifikasi hanya dibatasi 5 menit. Pernah juga, saya menelepon layanan pelanggan untuk masalah transaksi. Tapi rupanya yang berhak dan bisa menelepon lagi-lagi adalah pemegang kartu utama! Sial, rasanya sangat bergantung orang lain dan terbatas.

Belum lagi soal bercampurnya transaksi dan tagihan yang membingungkan. Karena saya adalah pemilik kartu tambahan, maka limit atau batas nilai transaksi juga tergantung kartu utama. Jangan dikira, limit kartu saya bisa digunakan maksimal oleh saya pribadi. Oho, bukan begitu. Sistem limit KK adalah gabungan. Jadi, andai keseluruhan limit KK kakak saya dan saya adalah Rp 9 juta, dan saya diberi limit Rp 5 juta. Bukan berarti kakak saya hanya bisa menggunakan Rp 4 juta. Limit itu dibagi bersama. Kalau dia sudah pakai Rp 7,5 juta, ya saya cuma bisa pakai Rp 1,5 juta. Begitu sebaliknya. Ribet kaaan!

Saya juga selalu membayar tagihan secara lunas atau di atas minimum pembayaran. Saya belum paham sistem bunga berbunga yang dikenakan KK, makanya saya jaga sebisa mungkin agar tidak terlambat dan tidak kena denda. Tapi ya namanya kartu bersama, adalah saat saya setor pembayaran penuh, kakak saya masih belum membayar tagihannya. Jadilah nominal yang saya setorkan, dihitung sistem untuk membayar tagihan kakak saya. Errr…

Kalau dimanfaatkan dengan benar, ada banyak keuntungan yang bisa didapat dari KK. Misalnya promo atas barang yang memang kita mau beli atau butuhkan. Untuk pembelian barang yang lumayan mahal, sebisa mungkin sih saya cari yang ada fasilitas cicilan nol persen. Waktu saya jalan-jalan ke Vietnam, dan saya lupa tukar US$ ke VND, KK menyelamatkan saya untuk bayar taksi he he he!

Mungkin juga ini yang namanya jodoh enggak kemana. Bank yang dulu pertama kali menolak saya, jadi bank pertama juga yang memberikan KK ke saya. Kejadiannya juga waktu saya tidak sengaja jalan-jalan ke Ambasador. Seorang mas-mas mendekati saya menawarkan KK. Saya tolak dengan alasan baru saja ditolak (padahal sudah setahun lalu). Dia gigih bilang akan mencek untuk saya, kalau memenuhi syarat, ia akan membantu prosesnya. Ya sudahlah. Nothing to lose. Lalu suatu waktu dia telepon minta saya melengkapi data. Lalu ia menyarankan saya memasukkan referensi lain selain kakak (saya duga karena status tempat tinggal kakak saya yang kontrak), dan saya sodorkan nama ibu saya. :P

Eh, beberapa hari kemudian, saya dapat telepon verifikasi dari bank. Saya juga diminta mengirim slip gaji, tapi kali ini ke alamat surel resmi. Kalau yang dulu-dulu, kirim ke tenaga penjualnya (yang entah diapakan oleh mereka yaaa). Saya sih sudah menangkap sinyal positif tapi ogah berharap. Ternyata tidak lama, saya menerima sandek yang mengonfirmasi persetujuan bank itu atas pengajuan KK saya. Hah? Beneran? Yayyy! Horee! Tidak sampai 10 hari kerja, kartu itu sudah dikirim ke kantor.

Begitu kartu berlogo Visa dan satu kartu utama itu saya terima, saya langsung bilang ke kakak saya untuk menutup kartu-kartu tambahan dari KKnya. Baru setelah 2 pekan saya bisa mengembalikannya. Lalu, siang ini kakak saya mengirim sebuah foto:

cc dirusak

“Done!” tulis kakak saya.

Selesai. Kartu tambahan saya sudah diserahkan kembali ke bank untuk ditutup. Sesuai prosedurnya, kartu itu dirusak supaya tidak bisa digunakan lagi. Hiks. Agak terharu juga. Selama setahun bersamanya, KK tambahan ini sudah saya pakai untuk beli ponsel tablet untuk alat kerja saya (ya walaupun cicil 12 kali hahaha!), membayar biaya berobat darurat sebelum minta ganti kantor ( lalu dijitak karena enggak punya dana darurat), juga sebagai alat pembayaran saat saya ke luar negeri pertama kali. “Oh no, your card is broken,” kata supir taksi Hanoi waktu saya serahkan kartu plastik beraksen kerowak ala sayap kelelawar itu. Hahahaha! Bukan bang, memang begitu dari banknya! Lagian, sok bikin unik KK aja sih bank capek antri!

Jadi begitulah, akhirnya saya berpisah dengan kartu tambahan itu dan menggunakan my very own credit card. Limitnya masih sedikit. Tapi toh, saya cuma pakai untuk belanja saja. Cuma ya begitu, saya terus berusaha bijaksana memakainya. Jangan sampai terlilit pembelian yang tidak sanggup saya lunasi. Caranya? Ya dicatat dong pemakaiannya dan diingat tanggal jatuh temponya! Setelah ini saya yakin bakal dapat banyak tawaran KK lain. Memang aneh kok sistem KK ini. Yang sudah punya diberi lagi dan lagi, yang belum punya padahal punya kemampuan memiliki (seperti saya dulu) malah tidak diberi. Woooo!

 

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s