Hujan di Bawah Jembatan


Saya adalah salah satu orang yang sebal waktu naik motor saat hujan, lalu tersendat macet akibat banyaknya orang yang berteduh di bawah jembatan. “Ihh, ini kan musim hujan. Bawa jas hujan dong!” Pikir saya sembari berusaha menghindari mobil di sisi kiri saya dan motor-motor yang diparkir ngawur di sisi lainnya. Begitu deh kebiasaan para pemotor yang enggak bawa jas hujan padahal sudah tahu ini musim hujan.

Tapi kali ini saya kena batunya.
Alkisah, suatu sore saya dapat ajakan nongkrong bareng kawan-kawan UKM kampus dulu. Karena malas bawa motor, saya minta dijemput Tiwi, teman yang kantornya berdekatan dengan kantor saya. Pagi harinya hujan jadi saya menjemur jas hujan saya di motor sesampai di kantor.

Janji temu adalah jam tujuh malam. Tapi Tiwi belum juga datang di jam tujuh lewat sepuluh. Saya kontak dia setengah jam kemudian, ternyata ia sudah sampai di kantor saya. Begitu saya tutup telepon, ada panggilan masuk dari teman yang sudah ada di lokasi janjian. Argh! Telat nih!

Bergegas deh, saya ambil helm di motor dan menuju teman saya yang sudah menunggu. Niat bawa jas hujan terlupakan. Pasti teman saya bawa, pikir saya. Malam itu teman saya bawa motor matic yang tidak pernah saya lihat. “Ini motor titipan si H, dia pulang ke Jogja” kata dia.

Seperempat jalan menuju lokasi pertemuan, tampak kilat menyambar di kejauhan. Beberapa pemotor sudah tampak menepi dan mengeluarkan jas hujan. “Mereka pakai atau copot jas hujan sih, Ga?” celetuk teman saya. Di arus yang berlawanan saya lihat beberapa pemotor berlalu dengan jas hujan basah. “Kayaknya kita perlu pakai deh. Bawa kan?” saya bertanya. “Ada kok, ponco (jas hujan berbentuk mantel lebar). Agak di depan aja ya,” sahutnya.

Beberapa detik setelah dia bilang begitu, tetes-tetes besar dan rapat mulai menerpa. Langsung saja kami menepi dan membuka jok. Seperti ada yang pencet tombol “pause”, Tiwi menunduk tertegun beberapa detik. Saya ikut melongok mengintip bagasi motor. HAH? Tidak ada jas hujan di situ! Hyaaaa!! Mampus!

Posisi kami saat itu ada di Dukuh Bawah menuju Manggarai. Tidak ada tempat berteduh karena cuma ada kali di sisi kiri. “Ayo cepat jalan! Di depan ada jembatan! Cepat!” cerocos saya. Sampai di bawah jembatan layang itu yang melintang dari Kuningan ke Menteng itu, sudah banyak pemotor lain menepi dan berteduh. Kami segera bergabung di pinggir dan membiarkan motor kehujanan. Biarin aja, bukan motor kami ini! *jahat.

Untungnya (kok ya masih untung), kami masing-masing bawa payung. Tapiiii…enggak lucu (dan tidak aman) dong kalau kami lanjut bermotor pakai payung. Lagi-lagi, saya semacam kena karma. Saya juga paling sebal sama pemotor yang nekat menembus hujan sambil…payungan! Halo, bahaya tahu!

Sambil menikmati bau sungai di belakang dan seberang kami, kami menunggu hujan reda sambil tertawa-tawa. Aroma kali Jakarta rupanya punya efek obat bius karena kami malah sibuk menyumpahi si H dan kebodohan kami sambil tertawa seperti orang gila. Saat ada mobil polisi lewat, Tiwi usul, “Gimana kalau minta ditilang aja? Pak Polisi, bawa aja deh motornya, kami numpang!” Ha ha ha! Ide bagus tuh, biar si H saja yang tebus motornya! *senyum iblis.

Saat kami sedang menyusun rencana, tiba-tiba ada dua mobil menepi. Para pengemudinya keluar dan tampak beradu argumen. “Kayaknya mereka abis tabrakan deh,” kata Tiwi. Empat pria itu berbicara sambil menunjuk-nunjuk bemper dan kap mesin yang berasap dari satu mobil. Tidak ada satupun yang berpayung. Heran deh. Kami berteduh karena kehujanan, kok mereka malah hujan-hujan sih? Tsk

Sejam berlalu, kami bosan. Kepala mulai pusing dan perut mual terpapar aroma kali belakang. Akhirnya kami melanggar pantangan dan memutuskan melanjutkan bermotor pakai payung pelan-pelan. Target kali ini sederhana saja, menemukan Indomaret atau Alfamart terdekat yang jual jas hujan!

Sambil menggigil di depan, Tiwi bilang, “Nah, lain kali lihat orang-orang berteduh di jembatan jangan langsung marah,” kata dia. Iya, betul juga. Siapa tahu mereka buru-buru jalan lalu lupa ambil jas hujan yang dijemur (seperti saya). Atau, apes bawa motor pinjaman yang tidak dilengkapi jas hujan. Huh, awas ya H! Kamu kudu traktir kami nanti! Batin saya sembari memegang gagang payung kencang-kencang agar tidak terbang.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s