Doraemon dan Ekspektasi Penonton


[Mungkin mengandung SPOILER]

Pada saat saya menulis ini, saya tidak berniat membuat sebuah ulasan menonton, ataupun mencoba meyakinkan pembaca tentang persepsi saya paska menonton film Doraemon (Stand By Me), yang tayang perdana 10 Desember 2014 lalu. Nantinya juga akan ada bias yang sangat kuat karena hal itu. Tapi justru karena itu saya tertarik membahasnya.

Sama seperti makanan, pilihan film adalah soal selera. Maka, reaksi penonton pun pada sebuah film sudah pasti berbeda-beda. Kalau ada film yang sangat laris di pasaran, pastinya karena ia bisa memenuhi sebagian besar selera yang kebetulan sama. Ada unsur kebaruan yang dijual, entah teknologi, cerita atau konsep. Tapi animasi besutan Ryuichi Yagi dan Takashi Yamazaki ini bukanlah film yang ditujukan untuk merengkuh pasar itu. 

Doraemon adalah karya komik klasik karangan Fujiko F. Fujio yang nyaris pernah dibaca setidaknya sekali oleh anak-anak di manapun, termasuk di Indonesia. Selain membaca komiknya, saya ingat selalu merengek untuk tidak ikut sekolah Minggu karena ingin menonton Doraemon. Robot kucing biru ini dengan mudah jadi favorit karena berbagai alat ajaib yang bisa dikeluarkannya. Walaupun ujung-ujungnya adaaaa saja masalah yang muncul sesudahnya. He he he. Bisa dibilang Doraemon adalah potongan masa kecil saya dulu, yang rupanya masih bisa jadi potongan masa kecil anak-anak jaman sekarang karena kartunnya masih tayang.

Karena bisa dibilang tumbuh bersama Doraemon, saya memiliki keterikatan kuat dengan cerita dan tokoh-tokohnya. Seingat saya, cerita Doraemon tidak pernah tamat. Tidak pernah ada perubahan Nobita SD menjadi dewasa kecuali dalam selipan-selipan cerita saat mereka ke masa depan. Dalam sejarah penulisan cerita oleh Fujiko F. Fujio, waktu Doraemon, Nobita, Shizuka, Suneo, Giant bahkan Dekisugi dan Jaiko, terhenti pada kehidupan sehari-hari Nobita semasa SD.

Sehingga, saat menonton filmnya, saya tidak berharap macam-macam. Soalnya pengarang aslinya toh sudah tidak ada. Akan berlebihan kalau muncul cerita baru bagi tokoh yang tidak pernah tamat itu. Coba, cari komiknya. Adakah kalimat The End di situ? Seingat saya tidak pernah ada. Kecuali cerita lepas tentang fantasi petualangan Nobita dan kawan-kawan ya.

Saat melihat cupilkan trailer filmnya, saya bisa membayangkan akan menyaksikan adegan penyelamatan Shizuka oleh Nobita di badai salju yang terkenal itu. Saya juga bisa membayangkan adegan Nobita berkelahi mati-matian dengan Giant untuk membuktikan ia cukup mandiri saat ditinggal pergi. Tapi apakah Doraemon betulan akan pergi lalu tidak kembali? Tidak juga. Bagian cerita itu ada dalam konteks “seandainya” yang memang terselip di komiknya entah nomor berapa. Tapi setelahnya cerita berlanjut seperti semula: Nobita dan masalah-masalahnya sebagai anak SD yang cengeng dan Doraemon dengan alat-alat ajaibnya.

Lalu ketika cerita bergulir dan mengerucut pada “pernikahan” Nobita dan Shizuka, saya segera teringat cerita “Malam sebelum pernikahan Shizuka” yang ada di komik. Saya menangis sejadi-jadinya. Karena saya juga menangis saat membaca cerita itu di komiknya. Bukan karena adegan itu terlalu cengeng, tapi karena itu tentang Shizuka dan ayahnya. Momen singkat saat kita boleh mengintip hubungan Shizuka dengan orang tuanya. Saya merefleksikannya pada pengalaman saya sebagai Daddy’s little girl. Anak perempuan manapun yang dekat dengan ayahnya akan tahu hal ini.

Secara visual, saya suka penggarapan animasi Doraemon ini yang gambarnya sangat lembut dan memakai bahasa Jepang sederhana. Walaupun saya tidak bisa bahasa Jepang, tapi saya lumayan bisa menebak kemana arahnya. Berbagai ekspresi Doraemon dan Nobita juga seperti yang saya ingat: kocak dan konyol. Sepertinya pak Fujiko punya imajinasi sederhana namun melihat jauh ke depan. Pantas, serial komiknya masih digemari sampai kini.

Apakah saya suka film ini? SANGAT suka. Sebab, ekspektasi saya hanya sebatas melihat visualisasi komiknya, cerita yang sudah familiar dengan saya, dalam bentuk gambar bergerak yang memakai teknologi terkini. Saya tidak malu mengatakan bahwa saya menangis sesenggukan sepanjang film. Menangis untuk cerita yang saya sudah tahu.

Bahkan saya bisa merasakan apa yang dirasakan Nobita dewasa saat memandang Doraemon yang tertidur di taman dari kejauhan. “Dia adalah teman masa kecilmu. Nikmati waktumu bersamanya,” kata Nobita dewasa ke Nobita SD. Transisi saat Doraemon pergi tidak pernah ada dalam cerita sebenarnya. Jadi saya hanya bisa menebak-nebak dalam kondisi seperti apa, Doraemon akhirnya berpamitan dan Nobita melanjutkan hidupnya sendiri. Tapi saya bisa membayangkan situasinya pasti penuh dengan ketegaran dan kesadaran akan perpisahan yang tak terelakkan. Sedih tapi sekaligus sadar hal itu harus dijalani.

Potongan-potongan fragmen di film ini seperti membuka peti kenangan berdebu di sudut ingatan. Seperti mengulang kenangan yang hangat dan menyenangkan. Seperti bertemu teman lama yang selalu akrab dan tak terpisahkan.

Tapi itu saya.

Di sisi lain, saya bisa membayangkan orang dengan ekspektasi berbeda akan kecewa. Pertama, bagi penonton baru yang tidak pernah membaca komiknya, tidak menonton kartunnya, atau lebih parah, tidak tahu Doraemon itu apa, mereka tidak akan ikut tertawa atau menangis bersama Nobita. Karena jalan ceritanya memang hanya familiar bagi mereka yang mengalami kebalikan dari hal-hal itu.

Salah satu kekurangan plot cerita Doraemon di sini adalah saat Doraemon mengejutkan Nobita dengan kemunculannya, tapi tidak ada proses pengenalan dia pada lingkungan sekitar Nobita. Tiba-tiba saja, ayah dan ibu Nobita sudah menganggapnya bagian keluarga. Tiba-tiba saja, Suneo dan Giant menganggap biasa keberadaan Doraemon yang jelas-jelas makhluk berbeda yang tidak umum di masa mereka. Selain itu, untuk keperluan cerita film yang tentunya lebih berat ke unsur drama, alat-alat ajaib yang muncul ya yang paling terkenal saja: Baling-baling bambu, Pintu kemana saja, Mesin waktu atau lingkaran penembus.

Ada teman saya yang bilang bahwa ceritanya biasa saja dan tidak ada hal-hal baru di film ini. Sementara yang lain bilang, ceritanya terlalu memaksa dan beda dengan yang dibayangkannya. Itu wajar saja. Sebab kembali ke soal selera itu tadi. Harapan penonton itu seperti doa. Isinya berbeda-beda dan tidak mungkin dipenuhi dengan pengabulan yang sama serupa. Kalau kebetulan doa saya yang dikabulkan dan yang lain tidak, mungkin itu cuma soal apa yang diminta. Apalagi film ya, pasti ada yang memuja, ada yang menyerca atau ada juga yang di tengah-tengah dengan jawaban standar: biasa saja.

Kali ini saya akan ambil bagian di kelompok pertama. Bagi yang belum menonton, tontonlah dan nilai sendiri filmnya punya arti apa buat Anda. Bagi Anda yang kecewa, ya anggap saja kali ini doanya belum dijawab. He he he.

 

Gambar diambil dari Wikipedia

Gambar diambil dari Wikipedia

 

2 thoughts on “Doraemon dan Ekspektasi Penonton

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s