Membeli Walau Tak Butuh


Perencanaan keuangan yang baik pasti memiliki unsur pengeluaran (spending) yang bijak. Belanja sesuai kebutuhan. Beli hanya untuk yang perlu, bukan yang dimau (buy what you need, NOT what you want). Seringnya, alih-alih hanya membeli yang sudah diniatkan, biasanya anggaran yang sudah disusun malah jebol gara-gara kebanyakan meleng beli ini-itu. Merasa butuh padahal tidak. Cuma nuruti nafsu saja. Kalau begini, namanya ya konsumtif. Sifat bahagia dari memiliki barang memang sementara, tapi saya juga terlalu sering melakukannya. Yep, guilty as charged.

Tapi, sepertinya perencanaan keuangan macam itu sudah tidak relevan bila dilakukan secara rigid alias kaku. Ada juga pengeluaran yang melenceng jalur tapi bersifat positif, seperti yang sudah dibahas banyak orang: membeli untuk membantu. Ajakan untuk membeli dari para pedagang keliling yang sudah renta atau memanfaatkan jasa dari orang yang tidak memiliki fungsi prima anggota tubuhnya pasti sudah sering Anda dengar. Bahkan banyak contohnya dengan foto-foto mengharukan. Ini bukan sarkasme ya. Memang mengharukan.

Orang-orang itu, dengan keterbatasan fisiknya masih mau bekerja sebagai sumber rejeki. Walaupun barang yang ditawarkan kadang tidak bermanfaat, kuno atau berkualitas buruk (contoh: sandal teklek (kayu), peralatan plastik murah, dan lain-lain), mereka ingin dibayar karena jerih payah itu. Bukan cuma menadah tangan lalu minta-minta. Kadang rasanya miris ya, menyaksikan mereka yang sudah tua masih harus bekerja. Bukannya mereka harusnya melakukan pekerjaan para manula? Yang santai-santai, yang tidak perlu banyak tenaga. Tapi hidup memang begitu cara kerjanya. Setidaknya dengan membeli dari mereka, kita bisa ikut meringankan beban tanpa menyinggung perasaan. 

Apakah setelah membeli Anda merasa ada sebersit bahagia? Sedikit…well, bangga? Rasanya tidak salah kalau kita menerima dan menikmati perasaan itu. Walaupun mungkin saja faktanya, Anda adalah satu di antara sedikit tangan yang membeli. Tapi perasaan itu tidak terhindarkan. Setelah sekian lama saya tidak melakukannya, kesempatan untuk merasakan itu rupanya lewat juga.

Karena ingin menggantung pigura di kamar, saya butuh paku beton. Entah kenapa persediaan saya tidak ketemu. Saya sempat mencarinya di salah satu toko alat-alat serba ada di mal (shame on me!) tapi rupanya sudah habis. Saking seringnya naik motor kemana-mana, saya tidak awas akan keberadaan toko-toko besi konvensional. Iya, toko yang tidak ada di mal. Di Jakarta yang padat ini, rasanya lebih praktis bila saya ke mal untuk setiap kebutuhan sekaligus ketimbang menyusuri jalanan padat untuk mencarinya satu-satu. Malas parkirnya!

Karena masih belum menemukan yang dicari, saya urungkan niat bertukang sementara. Sampai hari ini, saya cuma berniat membeli cemilan ke swalayan dekat kantor, mata saya menangkap toko bangunan di….seberang kantor! Kemana saja sih saya? Soooo ignorant! Jadilah saya menyeberang ke toko lawas yang berantakan itu. Tapi saya kesulitan memanggil penjaga toko.  Lha bagaimana, saya menuju etalase kaca, tidak ada yang jaga. Di tambah, ada pick-up tua yang parkir menghalangi jalan. Ketika memutari mobil itu, ternyata jalan masuk toko terhalang sepenuhnya. Niat berdagang tidak sih, pikir saya sebal.

Sampai, seorang nenek tua, yang rupanya duduk di bangku penumpang sedari tadi, keluar dan bertanya “cari apa dik?” Saya bengong. Nenek ini yang punya toko??? Melihat perawakannya yang bungkuk, rambut perak yang menipis dan matanya yang sudah mengapur, saya menebak usianya sudah di atas enam lima. Sambil terbungkuk-bungkuk, ia menggeser kursi dan barang yang menghalangi jalan supaya saya bisa masuk toko. Ah…eh..saya gelagapan. Tak lama, suaminya yang tak kalah renta keluar pula. Saya menyebutkan jenis paku yang saya mau dan mereka tergopoh-gopoh mencarinya, seperti senang ada yang bertandang.

Si nenek tahu apa yang saya cari, sementara si kakek kebingungan mencari di mana. Akhirnya nenek mengeluarkan stok paku beton yang sudah karatan. “Mau berapa dik?” Saya menjawab asal, “seberapa saja tante.” Ia menyuruh saya menuang paku itu ke dalam secarik koran yang ia sediakan. Sudah, mau berapa, terserah saya. “Sudah tua, sudah malas hitung,” ujar nenek toko. Saya manggut-manggut. Biarlah berkarat, biarlah ukuran pakunya tak seragam.

Saat itu juga mata saya mencari-cari barang apa yang familiar dan tak aneh bila dibeli oleh gadis manis seperti saya (ada huek di sini?). Akhirnya sasaran saya adalah sekring lampu dan juga…palu. Oke, saya sudah punya palu (beli di mal itu tadi, cih), tapi tidak ada yang lebih mantab untuk memaku selain palu berkepala besi. Palu saya yang beli di mal itu kepalanya plastik. Heloooo!

Si nenek toko menatap saya takjub. “Buat apa palu dek?” kata dia. Nah lo. Memangnya aneh ya kalau cewek beli palu? Tadinya saya mau bilang “Buat kalau ditanya sama cowok di halte ‘punya palu nggak mbak’ saya bisa jawab ‘punya’ tante,” tapi niat itu saya urungkan. Sambil nyengir saya bilang kalau saya mau bertukang pasang pigura. Total belanja yang seharusnya cuma Rp 5.000, membengkak jadi Rp 70.000. Ya bagaimana, tadinya saya hanya berniat beli paku, tapi berakhir dengan palu dan sekring yang tak perlu.

Tapi Rp 70.000 itu, sungguh tidak bisa dibandingkan pengeluaran konsumtif saya yang lain selama ini. Dan hal itu membuat saya sedikit…em…merasa malu. Ya memang tidak ada yang melarang bagaimana saya harus memanfaatkan penghasilan, tapi kenyataan itu kalau dijabarkan blak-blakan, cukup mengusik hati juga. Nah, ini saya baru ikut andil satu. Saya tidak berani membayangkan, kalau ternyata saya adalah satu-satunya pembeli hari itu, atau bahkan minggu itu untuk toko kakek dan nenek itu. Huaaaa!

Perubahan jaman dan persaingan usaha memang tidak terhindarkan. Tapi, di antara orang-orang yang dengan mudahnya bergerak dan berubah, ada mereka yang bingung dan linglung. Mereka hanya bisa melakukan yang mereka mampu, yang caranya mereka tahu. Walaupun tidak lagi cocok dengan keadaan zaman. Seperti kaus usang yang sudah kesempitan. Tapi kalau kita mau, mungkin kita bisa sedikit melambatkan langkah lalu menjajari mereka sesekali.

One thought on “Membeli Walau Tak Butuh

  1. saat kita bisa berbagi
    seberapapun itu
    tidak ada kata yang bisa mengungkapkan sensasinya
    bangga, iya, krn kita bisa berarti bagi orang lain
    tapi ini lebih dari itu

    nice post

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s