Selera


Akhir-akhir ini, saya makin malas ditanyai pendapat. Terutama soal makanan dan tontonan (atau bacaan). “Coba saja sendiri. Ini kan soal selera,” jawab saya singkat.

Orang yang bertanya biasanya nyengir, tersenyum masam atau protes tak puas.

Habis, bukannya apa, tapi tiga hal yang saya sebut di atas memang soal “selera” kan? Saya malas menjawab lalu berdebat kusir soal siapa yang lebih benar. Omong-omong, adakah “debat kuda”? *plak!

Apakah saya takut berdebat? Enggak. Cuma malas. Malas terhanyut, lalu emosi jadi panas. Seolah saya harus mempertahankan pendapat dengan segala cara agar menang. Padahal aslinya saya lebih suka diskusi. Iya, saya memang pencinta damai. Puih.

Contohnya ya, saya tengah “mendiskusikan” soal cerita Harry Potter dengan teman saya. Sebenarnya isi diskusinya sih ya cuma mengulang isi sambil menambahkan antusiasme di sana-sini. Iya. Saya memang maniak. Di tengah obrolan nostalgi nan menyenangkan tentang versi film dan versi bukunya, seorang teman lain yang turut mendengar tiba-tiba nimbrung sembari bilang “ah, bagusan di filmnya ah!”

Saya entah kenapa meladeni dengan bilang “ya harus baca dulu bukunya!” (Terbukti kalau saya gampang kepancing). Lalu berakhir debat kusir yang saya sudahi dengan muka cemberut, nada ketus “ye, siapa juga yang minta pendapat situ?” Ha. Kekanakan ya.

Begini loh. Menurut saya, pertanyaan bernada mutlak seperti “bagus tidak,” atau “enak tidak?” hanya akan menghasilkan jawaban “ya” dan “tidak.” Setelah si penanya menonton/membaca/makan dengan “ekspektasi bawaan” hasil jawaban itu, lalu rupanya ia tidak puas, ia bakal sibuk mencela atau mengumbar antitesis pernyataan sebelumnya.

Lihat kan? Semua pendapat kita itu subjektif sifatnya.

Selera juga merupakan pendapat subjektif. Pendapat yang tergantung latar belakang pembentuk persona. Tergantung preferensinya atas genre, tipe, kadar, dan banyak hal lain yang tak bisa dipukul rata.

Kalau demikian, kenapa ada film yang dapat rating bagus berdasarkan suara mayoritas? Kenapa ada makanan yang disukai orang banyak? Kenapa ada buku yang meraih penjualan terbaik? Ya mungkin karena hal-hal itu mampu merengkuh selera banyak orang yang kebetulan sama.

Memang, ada pakem atau aturan racikan bagaimana standar makanan dibuat agar bisa dimakan, buku diedit agar layak baca, atau film diproduksi agar layak tonton. Tapi masalah hal-hal itu dipilih atau tidak, dipuja atau dicaci, itu lagi-lagi kan soal selera.

Makanya saya lebih suka pertanyaan terbuka seperti “bagaimana pendapatmu soal buku/makanan/film itu?” Bukan pertanyaan mengarahkan seperti “bagus/enak/lucu/ atau tidak?” Ya kalau menurut saya bagus, menurut situ tidak, apakah itu menjadikan saya berselera buruk?

Bukankah lebih menarik bila bisa kita membedah aspek-aspek yang menarik dan tidak menarik lebih dalam dan terbuka ketimbang menjatuhkan vonis “ya” atau “tidak”? Eh, lagi-lagi soal” menarik atau tidak” ini juga selera. Ada yang berselera berdebat, ada yang berselera diskusi, ada juga berselera sebodo-amat.

Oh ya, saya juga belajar menghindari berkomentar “biasa saja.” Bisa jadi, komentar saya itu terdengar offensive (ini apa ya padanannya? Memojokkan?) bagi orang lain, sehingga justru menutup kesempatan saya berdiskusi lebih lanjut dengannya. Karena jujur saja, kata “biasa saja kok” sering saya gunakan untuk memutus percakapan yang tidak saya inginkan.

Nah, jadi kalau ada yang bertanya “Kamu suka buku/film/makanan ini tidak, Ga? Bakal saya jawab: “Hmm..kalau aku sih (ada penegasan subjektif/ke-aku-an) suka, karena begini-begitu-beginu-begana. Tapi itu aku ya, enggak tahu kalau kamu.”

Cheers!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s