Sulitnya Jadi Jahat


Peringatan dini: tulisan ini bisa menyebabkan kantuk, kuap dan kebosanan yang sukar dijelaskan. Yah, kalau diteruskan, Anda sudah diingatkan. Selamat “mendengarkan” siaran kali ini.

+++

Kemarin lusa saya nonton Cinderella di layar lebar. Iya, Cinderella yang itu. Yang diterjemahkan di Indonesia sebagai si Upik Abu. Yang ditindas ibu dan saudara tiri tapi tetap rajin dan baik hati. Yang mendapat sihir istimewa dan sepatu kaca dari ibu peri. Berdansa dengan pangeran, lalu…lalu lanjutannya semua orang sudah tahu.

Tapi kali ini saya tidak ingin membahas si Cinderella. Oh, tokoh Cinderella, eh Ella (diperankan Lily James), di film buatan ulang Disney terbaru ini cukup pas kok. Cantik, polos, pantang menyerah dan baik hati. Pangeran juga seperti gambaran yang diharapkan: ganteng, cekatan, pemberani diselipi sedikit usil dan pembantah.

Tapi, saya ingin mengaku, saya lebih tertarik pada karakter ibu tiri yang diperankan Cate Blanchett. Aktor lumayan senior di Hollywood dan sudah berperan di banyak film terkenal seperti Elizabeth, Babel (I love this movie!), Lord of The Ring, dan banyak lagi.

Sebelum ke situ, mungkin bisa kita ingat lagi seperti apa gambaran penokohan dalam dongeng, terutama versi Disney di era 80an hingga 90an.

Ceritanya selalu melibatkan dua sisi yang tegas: hitam dan putih. Ada yang jahat, ada yang baik. Keduanya bertentangan atau dipertentangkan. Di awal tokoh baik selalu ditindas si tokoh jahat, tapi pada akhirnya kejahatan dikalahkan, dan kebaikan menang, lalu tokoh baik “bahagia selama-lamanya.” Gambaran tokoh jahat juga jelas: gelap, sinis (bibir yang cemberut atau mengejek), mata yang bergaris hitam menyorot tajam, dan semacamnya.

Nah, saat saya menonton Cinderella ini, ada hal yang mengingatkan saya pada cerita-cerita dongeng yang dibuat ulang di masa sekarang. Tak cuma sekadar dibuat ulang dengan teknologi computer graphic (CG) yang lebih canggih, lebih apik atau kostum lebih cantik dan seting yang lebih ajaib, tapi juga ada (sedikit) interpretasi ulang pada penokohan. Sedikit. Soalnya kalau banyak, jadinya cerita baru. Hah. Garing.

imageDi Cinderella, mbak Cate Blanchett memang memerankan Lady Tremaine, ibu tiri yang jahat, kejam dan penindas. Penampilannya saja sudah mengesankan ia orang yang “sulit” dan penuh gengsi. Keangkuhannya seperti aristokrat yang tidak mau menyeka debu di bajunya dengan tangannya sendiri.

Tapi di sela-sela film itu, ada adegan ibu tiri yang memergoki momen kedekatan Cinderella dan ayahnya. Sambil menatap ayah dan anak yang berpelukan,sorot matanya terlihat tajam kemerahan seolah hampir menangis, bibirnya mengatup kaku, dan rahangnya keras.

Oh wow. Menurut saya, ekspresi itu kompleks banget. Ekspresi yang tidak dijelaskan dalam versi dongeng anak-anak di buku. Di cerita dongeng versi buku, penokohan ibu tiri mungkin sekali hanya dijelaskan dalam kalimat “kejam, tamak, dan suka memperlakukan Cinderella dengan kasar.”

Tapi dari beberapa detik ekspresi itu, juga ekspresi ibu tiri saat menerima kabar ayah Cinderella mati…rasanya seperti ada kemunculan benang merah yang hilang. Benang merah yang jadi “sebab” dari akibat yaitu “alasan” ibu tiri menyiksa Cinderella.

Memang bukan single cause atau penyebab utama. Mungkin saja, ibu tiri memang sudah kejam dari sananya. Tapi momen-momen ekspresif itu, terlanjur membuka celah agar kita mengintip kerapuhannya sebagai manusia.

Ibu tiri sangat iri. Egonya terluka.

Dalam ekspresi tanpa kata itu, saya bisa merasakan seorang perempuan yang terluka, bahkan saat dia terlihat tidak peduli. Seolah ia merasa kalah karena tidak bisa menggantikan perempuan yang sudah mati. Yang sangat dicintai suami barunya. Sementara dia mendapatkan materi tapi tidak hati.

Di tengah cerita ibu tiri menceritakan kisahnya. Perempuan yang telah menggantikan perasaannya sebagai wanita biasa dengan logika bertahan hidup sehingga menghalalkan segala cara. Sesuatu yang bila dijabarkan, bakal terlihat wajar dan, yah, sangat manusiawi.

Bertahan hidup adalah naluri manusia. Tapi ketika diimplementasikan ke cara-cara yang dingin dan kejam, jadilah ia antagonis. Tapi, apakah antagonis itu manusia juga? Saya rasa iya. Tapi kali ini, antagonis itu tidak seratus persen hitam. Dia abu-abu yang kompleks dan rumit.

Manusia yang bila didorong hingga batasnya, bisa melakukan sesuatu yang tak terduga. Bisa 180 derajat berbeda dengan titik awalnya. Titik di mana kita percaya, semua manusia baik adanya. Tapi hidup membentuk karakter, dan kejahatan bisa jadi mutlak, bisa jadi tidak.

Alasan-alasan pemicu itu juga saya temukan di Maleficent, diperankan Angelina Jolie, yang merupakan interpretasi ulang kisah putri tidur, atau ratu jahat di Mirror Mirror (Snow White) versi sutradara Tarsem Singh (ah, pantesan endingnya India banget) yang diperankan Julia Roberts. Mungkin versi Julia Roberts tidak terlalu kentara, tapi Maleficent itu mirip tokoh Snape di Harry Potter.

Tokoh yang (seharusnya) jahat namun memikat justru karena abu-abu tadi. Karena alasan-alasan yang membuat kita simpati dan mempertanyakan penilaian kita selama ini. Perbuatan mereka, sebagai akibat, mungkin tidak bisa dibenarkan. Tapi alasan-alasan, latar belakang, sebagai sebab atau pemicu, bisa DIPAHAMI.

Walaupun taktik penjabaran karakter ini sudah tertebak intensinya, saya tetap suka. Bisa jadi produser ingin lebih memasukkan unsur drama. Membuatnya serealistis mungkin untuk memanipulasi emosi kita.

Tapi ya tetap saja saya mewek waktu Maleficent terluka. Atau waktu ia tidak menyangkal perbuatannya saat dikonfrontasi Aurora. Ih, mbak judes jahat ini masih punya hati walaupun dia gengsi setengah mati.Seperti momen saya mewek dan berbalik memuja Snape pada buku Harry Potter and The Half Blood Prince. Ah…jadi kemana-mana.

Karena karakter abu-abu itu ruwet, saya menduga itu sebabnya nama-nama besar yang dipajang memerankannya. Apakah tokoh protagonis itu tidak sulit? Ya sulit juga sih.

Tantangannya adalah menampilkan kebaikan murni yang menyerupai orang suci. Tapi karena kita percaya, atau setidaknya ingin percaya, bahwa manusia itu dasarnya baik, baik di dalam atau permukaan, ya karakter baik jadi terasa wajar saja.

Padahal ya, kenyataannya mana ada orang yang tetap murni dan baik hati tanpa cela? Manusia adalah makhluk yang terus mempertentangkan kebaikan dan kejahatan di hatinya. Saya sangsi ada orang yang bisa sempurna baiknya seperti santa (saint). Karena saking baiknya, malah rasanya tak dapat dipercaya.

6 thoughts on “Sulitnya Jadi Jahat

  1. Saya rasa tidak perlu ada peringatan dini sebagia disclaimer di atas. Ulasan ini berbeda dari yang biasa menampilkan sosok hitam-putih dan baik-buruk saja. Terkadang kita manusia sering lupa bahwa kita ini sosok abu-abu yang bisa menjadi hitam 88% atau broken white. Yang hitam 100% mungkin Lucifer, yang putih 100% mungkin Gabriel. Saya katakan mungkin, karena saya pun tak tak tahu pasti. Entahlah, yang pasti saya abu-abu, dan saya suka ulasan Anda.

    • Hahaha soalnya tulisannya panjang dan kemungkinan besar enggak jelas benar mbak Jurusbiru. Iya, mungkin sekali seperti itu. Di antara Gabriel dan Lucifer, ada kita yang selalu bergeser-geser. Terima kasih sudah mampir ;)

    • Tapi tidak dipungkiri, dia memang berlaku kejam. Mungkin ini mirip empati pada pembunuh. Perbuatannya salah, tapi kita bisa memahami mengapa dia begitu.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s