Musisi Juga Perlu Belajar Berinteraksi


Baru-baru ini, semalam tepatnya, pertama kali saya menghadiri konser musik indie di Ibukota. Yang beraksi adalah band dua orang, Banda Neira, berkolaborasi dengan sederet musisi lain: Layur, Gardika Gigih, String Duo (Suta Suma dan Jeremia Kimoshabe).

Yang saya kenal cuma nama pertama, Banda Neira. Itupun kenalnya baru saja. Sementara sisanya, silahkan tanya pada para penggemar masing-masing atau riset via Google ya.

Tapi, setelah menonton konser mereka sekali yang berdurasi sekitar 2 jam itu, saya berkesimpulan, lebih baik beli keping lagunya saja. Atau kembali mendengar mereka melalui YouTube. Kenapa? Karena saya merasa “sia-sia” menempuh belasan kilometer dan mengebut pekerjaan demi pertunjukan yang pada akhirnya tidak bisa saya nikmati.

Eits, sebelum para penggemar garis keras marah, saya ingin cerita dulu. Boleh ya?

Saya memang bukan “pencari” lagu indie. Saya mungkin terbilang kaum kebanyakan yang menyukai hal-hal yang gampang. Gampang disenangkan, gampang berubah haluan dan tidak pernah spesifik membatasi diri pada satu-dua genre musik.

Sementara musik indie, biasanya punya penganutnya sendiri karena mencoba menerabas pakem “gampang” itu tadi. Lagu-lagu yang sangat spesifik, sehingga kadang penyukanya punya karakter: terbatas (jumlahnya), loyal dan pemikir. Yang itu cuma tebakan asal saya saja sih.

Walaupun bukan penggemar musik Indie garis keras, saya cukup menyukai beberapa musisi indie yang lagunya menerobos kuping dan merebut hati saya. Eh? Ya, sebut saja Sophie (Jogja), Endank Soekamti (Jogja), Jasmine Akustik (Jogja), Superman Is Dead (Bali. Dulu mereka indie ga sih? Enggak ikut awal karirnya), Shaggy Dog (Jogja), atau Irama Tongkol Teduh (Jogja. Kalau belum bubar), atau Frau (Jogja).

Jadi, satu hari saya iseng mendengarkan lagu-lagu milik Rara Sekar dan Ananda Badudu, duo di dalam Banda Neira, dan jadi suka beberapa lagunya yang diunggah di YouTube. Suara Sekar dan Nanda punya karakter yang membius dengan lagu-lagu puitis. Tipe lagu yang pasti disuka remaja sensitif masa kini. Saya mau pakai kata “galau” tapi nanti dikira tidak peka atau latah salah kaprah. Apa-apa kok disebut galau.

Lanjut.

Nah, pas seorang teman yang kebetulan penggemar berat mereka kasih tahu bakal ada konser Banda Neira, saya tertarik. Lalu saya membeli tiketnya jauh hari melalui situs internet tapi masih gamang soal kehadiran. Bahkan sampai 6 jam jelang pertunjukan.

Mereka bakal manggung hari Rabu. Hari yang bisa dibilang semi-sakral bagi saya yang kuli tabloid mingguan. Hari itu aroma tenggat sudah tercium kuat. Pun, teman yang mau ikut nonton adalah wartawan harian. Butuh usaha ekstra untuk hadir. Bisa nonton syukur, enggak ya takdir.

Tapi dengan berbagai siasat, kami malah berhasil mencapai lokasi 3 jam sebelum jam mulai yang tertera di tiket. Jam 16.00 ambil tiket, langsung melipir cari spot sepi mengetik berita. Saya butuh juga sih untuk menranskrip wawancara. Penjaga tiket bilang, jam 18.00 sore pintu ruang konser mulai dibuka.

Jam 18.00 lewat lima, kami buru-buru menyelesaikan pekerjaan di sebuah kafe kemahalan (tapi tak ada pilihan), lalu bergeser kembali ke lokasi pertunjukan. Sudah banyak penggemar datang dan saya langsung merasa jadi alien. Habisnya, sepertinya cuma saya yang datang lantaran penasaran. Lainnya seperti groupies alias kelompok penggemar setia.

Kami menunggu acara mulai sampai jam 20.00. Padahal, seharusnya acara dimulai jam 19.00. Mungkin para musisi terjebak macet? Entahlah. Tapi saya terlanjur agak lelah. Lelah yang berarti capek badan loh ini. Dikira capek hati? Sebentar lagi.

Dan…munculah 6 orang berbarengan di panggung. Sekaligus? Tadinya saya pikir gantian, tapi ternyata mereka menyanyikan lagu dan memainkan musik bersama-sama. Benang merahnya adalah hujan. Ceritanya, mereka sama-sama penyuka hujan dan banyak karya yang terinspirasi atau muncul karena peristiwa alam itu.

Lalu, sampailah saat berinteraksi. Apa yang terjadi?

Hanya Rara Sekar yang sibuk berusaha mengangkat topik dialog, berinteraksi dengan penonton sementara 5 pria sisanya terlihat kikuk dan grogi.

Sekar: Lagu ini tentang apa Layur?
Layur: emm..tentang..aduh bingung juga kalau disuruh cerita tentang apa..ya…

Sekar: Kalau kamu gimana Nanda?
Ananda: Ya…(Ngomong apa, tapi langsung disela sendiri seperti ngobrol dengan diri sendiri)

Walah! Rupanya, para musisi ini jagoan bermusik tapi kelabakan soal interaksi. Ananda berprofesi sebagai wartawan, pasti sering bertanya pada orang. Tapi saat dia yang ditanya, gelagepan. Sampai-sampai Sekar melontarkan humor garing “ini kayak talkshow yang enggak laku.” Ha ha ha.

Nggak. Saya enggak ketawa riang. Sebagai penonton, saya sebal ketika musisi yang saya tonton tidak bisa “menyapa” saya dengan “baik dan benar”

Mungkin musisi tidak mengira bahwa mereka harus menggunakan bahasa lisan dalam bentuk percakapan dengan penonton saat mereka memutuskan berkarya: membuat lagu, merekam, mengunggah video dan tampil di depan orang. Mungkin mereka merasa musik adalah bahasa universal yang menjembatani kesulitan berbahasa.

Mungkin.

Atau mungkin, sesederhana mereka berkarakter pemalu dan kurang jam terbang dalam hal berinteraksi secara langsung. Kalau itu sebabnya, ya sudah pasti jawabnya cuma satu: latihan!

Latihan untuk menyiapkan “cerita” atau bahan percakapan. Konser tidak memerlukan percakapan panjang, tapi kekikukan dan kegugupan bisa menyusutkan antusiasme. Mungkin saya saja yang tidak puas dikasih kalimat “ya..itu deh” sebagai jawaban “apa inspirasi lagu ini.”

Memangnya penonton bisa telepati?

Saya membayar tiket, menempuh perjalanan jauh, untuk bertemu “langsung” dengan pemilik suara. Dengan seniman di balik karya yang selama ini berinteraksi lewat medium lain. Saya ingin tahu bagaimana musisi bermain musik secara langsung, bagaimana mereka berimprovisasi. Tapi saya juga mau dengar cerita. Entah inspirasi, entah kisah, entah pengenalan diri dari si seniman.

Kalau si seniman terbiasa berbincang dengan diri sendiri, dengan hewan peliharaan atau benda mati, ya latihan untuk berinteraksi dengan sesama manusia. Dalam jumlah banyak. Dan sekaligus.

Bila kesulitan bercakap, bisa juga berkomunikasi dengan cara menghibur. Misalnya memainkan alat musik andalannya, atau bertanya balik pada penonton, atau bikin kuis, atau melontarkan candaan. Apapun lah. Tapi setidaknya berstruktur kalimat utuh dan tidak terpenggal di tengah dan digantung di jurang.

Fiuh. Kalau tahu begini, lebih baik saya pesan keping album mereka dan kembali menonton via YouTube saja. Teman saya yang lain bilang, mereka seniman-seniman absurd. Sayangnya, saya tidak punya antena ke-absurd-an yang memadai untuk memahami gelombang komunikasi macam itu.

Alhasil, ketika para penggemar berat berteriak, “lagi! Lagi!” Saya bergegas menyelinap keluar ruang. Pulang dengan rasa gagu yang ambigu. Oh ya, juga encok pinggang karena kelamaan menunggu.

Dan, tulisan ini tidak bermaksud menjelekkan pihak tertentu atau menggeneralisir band indie. Karena saya jarang nonton konser indie secara langsung. Dulu di Jogja saya cuma sempat nonton konser Jasmine Akustik. Tapi ya, si Paksi, vokalisnya, memang sudah biasa berinteraksi karena sering siaran di radio.

Semangat!

P.S: menjelang 2 lagu terakhir, Ananda mulai tampak rileks dan bisa berinteraksi. Hahahaha pemanasannya lama bener.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s