Australia, Aku Tiba! (1)


Rabu, 14 Oktober 2015, pesawat Air Asia QZ 540 yang kutumpangi sejak pukul 17.30 dari Bali mulai menjejakkan kaki di aspal bandar udara Internasional Darwin. Waktu menunjukkan pukul 21.30 waktu setempat. Sudah malam dan suasana lengang.

Meski penerbangan hanya makan waktu dua jam, badanku sudah lelah. Sejak siang aku sudah tiba di bandar udara Ngurah Rai, Denpasar, lalu menunggu waktu terbang hingga 4 jam lamanya. Untunglah aku ditemani papa. Ia mengantar dan menemaniku selama di Bali sejak hari Minggu, 11 Oktober lalu. Kami sepakat untuk terbang di hari yang sama tapi beda tujuan. Aku ke Australia, papa ke Surabaya.

Aku salah baca waktu penerbanganku. Kukira, aku bakal terbang jam 8 malam, ternyata (seharusnya) jam 4 sore. Jadilah aku memesankan tiket penerbangan Denpasar ke Surabaya untuk papa jam….setengah delapan malam! Bayangkan berapa lama papa harus menunggu waktu penerbangannya? Lalu seperti bisa diduga, maskapai singa terbang itu terlambat juga, jadilah papa harus menunggu lebih lama.

Maskapai yang kutumpangi juga mengumumkan bakal terlambat berangkat. Seharusnya berangkat pukul empat, ditunda hingga setengah enam petang. Sial memang. Huh! Dasar nasibe penumpang sing tikete ora larang! (Jawa: Nasib penumpang bertiket tak mahal).

Begitu memasuki terminal kedatangan, aku mulai menyiapkan diri dan hati. Jantungku berdetak lebih cepat sepersekian detik, karena ini pertama kalinya aku memasuki negara yang memerlukan pengurusan visa. Lebih lagi, ini Australia, negara yang terkenal ketat untuk apapun (yang kadang bukan dalam arti bagus menurutku).

Saran teman yang mengatakan agar tidak terlihat gugup kuingat baik-baik. Bukannya apa, kalau terlihat gugup, aku bisa kena pengecekan acak. Walaupun tidak membawa barang terlarang, tapi bisa jadi kesalahanku dicari-cari. Maka sebaiknya mencoba tampil tenang dan percaya diri.

Aku sengaja menyatakan (declare) beberapa barang yang termasuk kategori tanaman dan biji-bijian seperti aneka obat tradisional dan kopi. Maksudnya sih agar petugas imigrasi tidak mencari-cari hal lain yang bisa mereka sita. Syukurlah setelah membongkar kopi dan lain-lain yang sengaja kupisahkan di tas jinjing, aku bebas dari pemeriksaan.

Di luar pintu otomat, ibu asuh (hostmum) yang akan menerimaku di rumahnya untuk mengasuh anak-anaknya sebagai aupair sudah melambaikan tangannya dengan semangat. Aku berjalan ke arahnya dengan senyum mengembang sembari meminta maaf karena sampai larut malam. Hmm…Australia, aku sudah tiba! (Bersambung)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s