Pergi Tanpa Ekspektasi, catatan 33 hari di Aussie (1)


Katanya, waktu berjalan cepat kalau tidak ditunggu. Mungkin karena itu, tanpa terasa (berarti), tiga puluh tiga hari sudah berlalu sejak kakiku menapak Australia, atau bisa juga disebut Aussie. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan, tapi rasa bosan, kantuk dan ketidaklihaianku mengelola waktu, sering membuatku urung. Lagipula, kalau tidak kupilah, kalian pasti bosan nantinya. Jadi, mumpung rasa kantuk belum menyergapku, aku ingin sedikit berbagi ingatan dan hasil pengamatan selama tinggal di negara bagian Australia: Northern Territory (NT),khususnya Darwin, ibukota NT dan area sekitarnya.

Suasana

Bisa kubilang aku pergi ke Aussie tanpa ekspektasi berarti. Oh tentu saja ada harapan-harapan serupa doa. Misalnya, aku berharap keluarga asuhku nanti menerimaku dengan terbuka, aku berharap bisa melakoni tugasku sebagai au pair dengan baik, dan seterusnya. Tentulah ada kecemasan bahwa nantinya aku akan merasa sendirian, gagap bahasa dan seterusnya, tapi dengan doa dan keputusan bulat, aku berangkat dengan mantap.

Salah seorang teman pemegang visa berlibur dan bekerja (work and holiday visa/WHV) di Jogja, yang pernah tinggal di Darwin, pernah mengatakan bahwa Darwin sebetulnya kota yang sangat kecil dan sangat sepi. “Mirip Wates (Kulonprogo, DIY) nggak sih?” tanyaku. “Lebih sepi!” jawab temanku. Ah, masa sih? Masa Wates yang isinya kebanyakan sawah ketimbang rumah masih lebih sepi, pikirku sangsi.

Dan….ternyata iya. Maksudnya sih bukan soal bangunan atau bagaimana, tapi Darwin memang mirip kota seperempat mati. Waktu aku tiba sekitar 21.30 waktu setempat, jalanan kota (catat, k-o-t-a) sudah tak tampak satu manusia..eh mobilpun. Kondisi jalan serupa Jakarta pukul dua dinihari, atau Jogja jam empat pagi. Sepiiiiiiii!

Ya harap maklum, pertokoan sudah tutup sekitar jam 5 sore, sementara supermarket paling mentok jam 7 malam. Kalaupun ada yang buka hingga dinihari, hanya klub malam atau pom bensin, kurasa. Mengingat seluruh penduduk Aussie kurang dri 50 juta jiwa (terakhir kubaca 20 juta jiwa saja kurasa, koreksi kalau salah), ya wajar kalau kota baru macam Darwin, yang dibangun di tahun 70an (nanti kubenahi lagi sumbernya) tak memiliki cukup banyak penduduk. Alhasil, tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan di luar rumah lantaran penduduknya cuma segelintir hahaha!

Tapi lagi, kurasa salah satu adat atau kebiasaan warga Aussie dalam bekerja adalah ora ngoyo (Jawa: tidak memaksakan diri) mencari uang hingga larut malam, kecuali pekerja malam (pekerja jalan, penjaga toko 24 jam, dst). Ayah dan ibu asuhku misalnya, menyukai menikmati segelas anggur di sore hari sepulang kerja dan mengawasi anak-anak mereka di rumah. Oh, jangan salah, kehidupan malam juga ada. Misalnya sinema ruang terbuka, berbagai restoran dan klub malam juga menawarkan layanan untuk bersantai dan bersosialisasi.

Makanan

Saat wawancara beberapa bulan lalu, Kylie, hostmum-ku pernah menanyakan apa saja makanan yang aku suka dan bagaimana rasanya? Kubilang, aku makan apa saja walaupun aku suka sesuatu yang pedas. Dan betul, aku bukan pemilih walaupun aku membawa serenteng sambal kemasan untuk berjaga-jaga. Yah, kurasa aku jujur pada diriku sendiri, karena seminggu sejak aku tiba di Australia, aku belum sekalipun menyentuh nasi. Aku makan apapun yang tersedia baik dimasak oleh Kylie, Jim ataupun kuracik sendiri dari bahan-bahan di kulkas.

Setelah sebulan, mungkin baru 4-6 kali aku masak nasi. Sisanya, Kylie juga memasak nasi untuk campuran kari atau risotto atau sushi. Lalu apa rasanya? Ya, jangan berharap ada rasa gudeh, soto, lodeh atau sop buntut di sini. Rasa dari rempah-rempah masakan barat memang cenderung tipis dan kurang akrab di lidah. Tapi bagiku, tetap terasa enak. Mungkin karena itu tadi, aku makan segala yang tersedia.

Sarapan bisa berupa yoghurt dingin dicampur buah potong dan biji chia, atau kalau ikut cara anak-anak asuhku: sereal dituang susu dingin. Ibu asuhku tidak pernah memasak atau menghidangkan makanan panas selain saat makan malam. Semua serba praktis dan cepat. Aku sih sudah teracuni bumbu penyedap, jadi aku tetap sering bikin indomi ahahha!

(bersambung)

One thought on “Pergi Tanpa Ekspektasi, catatan 33 hari di Aussie (1)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s