Berpisah dengan Melbourne


Bocah berumur 4 tahun itu terlihat enggan melakukan perintah ibunya: Beri Elga pelukan perpisahan yang erat. Sembari beringsut pelan, ia melingkarkan tangan kecilnya ke leherku dan memberiku pelukan berjarak. Gengsi. Aku tahu itu. Tapi, saat ibunya pergi ke dapur, ia menarikku mendekat padanya. “Cium,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Dan lelaki kecil itu menciumku. Tepat di bibir! Aduh nak…aku akan merindukanmu!

Sebut saja nama bocah itu O, aku hanya bertemu 4-5 kali dengannya sejak Februari lalu. Ibunya memintaku datang setiap dua minggu untuk bebersih rumah sekaligus menjaga dan bermain bersama O selama sang ibu bekerja 3 jam di luar rumah. Bebersih rumah dan mengasuh anak adalah sebagian pekerjaan serabutanku di Melbourne. Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan O karena aku akan meninggalkan Melbourne. Tak terasa, sudah 3,5 bulan lamanya aku di kota yang katanya “most liveable city” alias kota ternyaman sebagai tempat tinggal ini. Dan hari ini, adalah malam terakhirku di sini.

Aku tidak menyangka bahwa dalam tempo waktu singkat, aku bisa mengalami berbagai hal yang rumit, kompleks, memusingkan namun juga memperkaya pengalaman hidupku. Keputusanku untuk berpindah ke Melbourne dari Darwin memang tidak memberi manfaat finansial untukku karena aku tidak memiliki pekerjaan penuh waktu atau jam kerja yang panjang. Aku harus pandai mengelola keuangan dengan situasi pekerjaan tak menentu. Tapi, di sisi lain aku menemukan banyak jiwa-jiwa baik dalam perjalananku.

Keluarga asuhku di Darwin yang kini bermukim di Launceston, Tasmania, sudah menjadi keluarga kedua bagiku, teman-teman pemegang visa yang sama yang selalu memiliki cerita, kawan baru dari dunia maya dan jumpa darat, keluarga-keluarga baik yang mempekerjakan aku sekaligus menawariku tempat dan bantuan bila kubutuhkan serta kawan-kawan lama yang tak sengaja jumpa.

Minggu-minggu pertamaku di Melbourne tidak berjalan mulus untukku. Aku merasa mengambil keputusan salah tapi tak bisa berpindah. Situasi keluarga asuhku tak seperti yang aku bayangkan. Rumit, kompleks dan penuh tekanan. Rasanya kebahagiaanku dan rasa ingin tahuku untuk menjelajah tempat baru terserap dan bergumpal menjadi energi negatif siap ledak dan membebani pikiran. Melbourne menjadi tempat yang memusingkan dan mengungkungku dalam keramaian. Aku tidak suka kota ini, batinku saat itu.

Tapi berpindah tempat bukanlah opsi yang kumiliki dengan mudah. Aku harus pulang dalam tempo beberapa bulan untuk menghadiri pernikahan abangku. Pun, aku merasa tidak bisa mengingkari komitmen sebagai aupair yang telah kujanjikan. Bekerja dengan keluarga dan anak-anak, jauh lebih kompleks ketimbang bekerja sebagai karyawan resto, misalnya.

Selama masa-masa terberat itulah, keberadaan orang-orang ini menguatkan hatiku, mengusir sepi dan menjadi pengalih fokus energiku agar tak melulu murung karena situasi rumah keluarga asuhku. Aku mengalami berkemah pertama termewahku di Australia bersama Anne, trekking bersama teman WHV tetangga satu kawasan, berburu barang murah bersama teman au pair, daaaan banyak hal lain yang menempati sudut khusus ingatan abadiku nanti. Jika ada waktu, akan kutuliskan beberapa di antaranya. Janji yang tak ada batasan waktu tenggat tapinya ya. Pada akhirnya, keluarga asuhku di Melbourne membuatku belajar mengenai kesulitan hidup dan terus memegang integritas diri

Jadi, dengan ini aku berpamitan dengan Melbourne beserta isinya, dan kawasan sekitarnya, dan orang-orang yang sempat bersimpangan jalan denganku di sini. Pamit untuk sekarang, entah kapan akan kembali atau tidak, tiga setengah bulan di Melbourne akan tersimpan di hati. Selamat tinggal Australia (sekarang), sampai berjumpa lagi di bagian kawasan yang lain!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s