Ketika kakakku menikah


“Cinta adalah keputusan yang bertubi-tubi…” ~ Romo Istimoer Bayu Ajie

Captured from @hendiva87 on instagram

Captured from @hendiva87 on instagram

Delapan Mei Dua Ribu Enambelas. Bandung. Kakak laki-lakiku tersayang, Yudi, melepas lajang. Aku menghentikan sejenak perjalanan setahunku di Australia, terbang 6 jam dari Melbourne kembali ke Indonesia untuk menghadiri peristiwa sekali seumur hidup itu. Ini momen kakakku, saudara kandungku satu-satunya. Tak mungkin aku melewatkannya.

Aku tumbuh bersamanya hampir 14 tahun, sebelum ia meninggalkan rumah duluan untuk sekolah di luar kota. Kami tidakterlalu akur saat kecil, tak peduli berapa kali ibu mengingatkan “kalian hanya dua bersaudara, yang rukun ya!”

Sebagai anak (yang kebetulan) bungsu, aku sering “menindasnya” dengan keistimewaan anak bungsu yang manja. Aku selalu duduk di bagian tangki motor ayah saat kami bepergian. Kakakku selalu duduk di belakang. Perkecualian adalah saat ibu ikut, karena aku akan digendong ibu atau terpaksa duduk di antara dua orang dewasa. Saat kanak-kanak, duduk di motor tanpa harus menyetir itu luar biasa. Merasakan angin menerpa dan melihat sekitar dengan bebas tanpa menolehkan kepala.

Pada satu ketika, aku membiarkan kakakku duduk di muka saat paman menjemput kami pulang sekolah. Kebetulan. Mungkin aku sedang dipenuhi roh kebaikan. Tapi dasar aku bocah manja, aku tidak bisa membiarkannya bahagia. Sepanjang perjalanan singkat itu, aku terus mengusili dan mencubiti kakakku dari belakang. Ini adalah dosa pertamaku padanya yang selalu membuatku merasa bersalah sampai dewasa. Habis, dia mirip korban tak berdaya…aku gemas sekali padanya!

Tapi kakakku tahu cara memanipulasi posisi adiknya yang kesayangan keluarga ini (meh!) Ia selalu menyodorkanku pada ayah dan ibu untuk merayu sesuatu. Misalnya dulu, ia ingin diperbolehkan menonton film G30S-PKI (Iya, produk orde baru itu) yang menurutku sangat traumatis karena sangat grafik saaat itu. Ayah ibuku tidak ingin kami menontonnya. Kakakku menjalankan taktik rutinnya. “Dek, sana dong minta sama mama papa.” Berjingkat pelan aku ke halaman menemui ayah dan ibu malam-malam. Ibuku langsung paham. “Ya sudah, tapi resiko kalau tidak bisa tidur tanggung sendiri ya!” dan kakakku melonjak-lonjak gembira. Aku sih lempeng saja. Bukan aku yang pingin nonton!

Malam itu, kakakku tersayang terbaring nyalang semalaman. Takut merem. Rasain, pikirku. Kalau ada satu fakta yang ingin kubocorkan pada dunia, ialah: kakakku tersayang sangat penakut semasa kecilnya hahahaha! Entah kenapa dulu ia juga lebih mudah menangis ketimbang aku. Mungkin jiwa kecilnya tidak terima, setelah 2 tahun bahagia, ia harus menghadapi saingan mendapatkan perhatian ayah-ibu. Mana ibu selalu menyuruhnya untuk menjagaku. Bocah manja menyebalkan tapi asik dikerjain.

Ada masa-masa kakakku menganggap aku lucu. Saat itu aku bahkan tidak ingat, saking otakku belum mengembangkan kemampuan mengingat. Aku ditinggal berdua kakakku. Ia melihat rambutku yang tidak seberapa lebat itu lalu timbul niat untuk membantu. Merapikan rambutku. Tentu saja, kakakku tersayang berinisiatif mengambil gunting dan memangkas habis rambutku. Sialan. Kalau aku tahu, saat itu aku pasti sudah mencegahnya. Ibu masih ingat karena saat menemui kami, ia berseru “Lho Yudi, rambut adek KAMU POTONG???” Bah,rambutku kini tumbuh lambat sekali dan tidak setebal rambut ibu dan kakakku. Sial. Sial.Oh ya, sudah pernah kuceritakan? Di keluarga kami ada dua “kubu,” aku dan ayah lalu kakak dan ibu. Sifat kami mirip-mirip, fisik juga, dua banding dua. Adil? Ha, kalau ayah diam, aku harus menghadapi mereka sendirian.

Pun cengeng begitu, kakakku adalah superman kecilku. Waktu kami usia SD, aku pernah ditonjok oleh kawan main kakakku. Di perut. Sampai aku tidak bisa mengeluarkan suara. Kakakku memutuskan pertemanan mereka dan marah untukku. Padahal kalau dipikir, mungkin saat itu aku yang cari gara-gara. Kali lain, saat aku belajar naik sepeda yang lebih tinggi dari badanku dan tidak tahu cara berhenti. Saat itu aku diamkan saja sepedanya…lalu, karena gaya gravitasi tentu…ngeeeeeng miring ke kiri dan disambut hangat semak duri! Kakakku dengan heroiknya menaiki sepeda lain yang lebih kecil dari kejauhan sambil bersuara “uuuiiiuiiiuiiii…ambulan datang dek!”

Kenangan-kenangan macam ini merambatiku saat aku menyaksikan kakakku tersayang, yang tumbuh sehat dan lebar (ha!) itu, mengucapkan janji pernikahannya. Di gereja. Antara takjub dan tak percaya, ada gadis waras yang mau dengannya *aduh! Siapa yang lempar buku doa ya :P Wajar, beberapa tahun lalu, setiap ketemu ia selalu bilang padaku “Dek, kenalkan temanmu dong!” Sayang, aku lebih posesif pada pertemanan ketimbang persaudaraan. Jadi selalu kujawab, “teman-temanku sudah enggak tersedia!”

Tapi sejujurnya, aku ingin dia menemukan sendiri pilihannya. Bertemu, menjalani proses dan memutuskan sendiri siapa yang ingin ia jadikan pasangan hidup. Aku bahkan belum pernah bertemu calon istrinya, iparku sekarang, sampai sekian tahun aku di Jakarta. Kalau kata papa, yang bertemu duluan dengannya, “kok mirip Ria (nama kecilku)?” Dih, mirip dari mana. Tidak mungkin juga kakakku punya sister-complex kan? Hahahaha!

Duduk di bangku gereja bersama puluhan kerabat dan teman, aku memberikan restuku sepenuh hati untuk kakakku tersayang. Dalam pemberkatan pernikahan itu, wejangan Romo Bayu meresapi hatiku. “Cinta bukanlah perasaan romantis yang penuh keindahan. Cinta adalah keputusan yang bertubi-tubi, bahwa pada hari ini ‘aku memutuskan untuk mengasihimu’ dan itu yang harus dilakukan sepanjang waktu sampai waktu yang ditentukan Tuhan untuk kalian hidup di dunia.” Betapa benarnya, betapa kuat pernyataan itu. Kakakku tersayang, satu-satunya orang yang berbagi darah ayah dan ibu denganku, pada hari itu, saat kau memutuskan menikahi perempuan pilihanmu, ingat-ingatlah selalu pernyataan itu. Hingga bertahun, berpuluh tahun berlalu: cinta adalah keputusan yang bertubi-tubi. Tapi untukku, aku tidak perlu melakukannya padamu. Kita menjadi saudara sampai kita mati. Terima itu.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s