Numpang lewat, Darwin…


Genap tiga hari aku kembali ke Australia, ke Darwin tepatnya. Niat awal, akan menghabiskan sisa visa berlibur dan bekerja di wilayah Northern Territory saja sampai Oktober nanti. Menikmati asiknya cuaca musim kemarau nan cerah, hangat dan santai.

Aku sudah bercita-cita mengenakan kaos kutung, celana super pendek dan sehari-hari bersandal memamerkan cat kuku kaki merah menyala. Bersantai menikmati sunset cantik dari tepi pantai. Tapi salah, saudara.

Detik aku menulis ini, aku sedang di bandara, menunggu penerbangan domestik dalam 3 jam. Ke selatan, South Australia. Menyongsong musim dingin yang tadinya kuhindari. Oh, hello winter…

Segala hal terjadi begitu cepat dan aku harus segera memutuskan. Tawaran pekerjaan, proses aplikasi, wawancara, pembatalan, pengunduran waktu keberangkatan, silih berganti dengan cepatnya sampai kepala mau pecah rasanya. Begini rasanya jadi pengembara…hahaha.

The only constant is change…yang ‘tetap’ adalah ‘perubahan’. Kalimat ini adalah intisari hidup yang masih aku percayai sampai kini. Dan betapa cocoknya dengan situasiku. Seiring waktu, segala hal berubah walaupun setiap orang merasa menjalani hal yang sama setiap hari.

Apalagi bagi orang yang sedang dalam perjalanan panjang. Keputusan pagi tadi bisa berubah di siang apalagi keesokan hari. Terlalu banyak hal yang harus diputuskan dan dipikirkan dalam 3 hari di Darwin ini dan berakhir dengan keputusanku untuk pergi. Lagi.

Kali ini aku mau menjajal dunia perkebunan di South Australia. Kemarin, baru saja aku mengirip pesan singkat pada seorang supervisor agen pekerjaan perkebunan, kontaknya aku dapat dari teman sesama WHV, bahwa aku sudah tiba di Australia. Tidak berapa lama, supervisor itu langsung telepon menawarkan pekerjaan di South Australia.

Waduh. Ya enggak gampang juga. Otakku memproses informasi itu dengan cepat sementara kuping mendengarkan penjelasan deskripsi pekerjaan. Posisi saat itu, aku sudah menyanggupi trial pekerjaan bebersih (dibayar, upahnya bagus juga sebetulnya) selama beberapa hari dalam 2 minggu berikut. Di sisi lain, Kylie, ibu asuh lamaku, berhasil mengenalkanku pada satu keluarga di Darwin yang bersedia membuka rumahnya untuk kutumpangi. Mereka akan pergi liburan dan butuh orang menjaga rumah dan memberi makan anjing peliharaan plus menyiram tanaman hingga akhir Juni. Lumayan berhemat biaya sewa tempat tinggal.

Dilemanya, pekerjaan bebersih dimulai jam 6 pagi. Ini Darwin. Bus, satu-satunya moda transportasi publik, baru beroperasi jam 6 pagi. butuh setidaknya 30 menit untuk mencapai tempat kerja. Terlambat pastinya. Jalan kaki? Sejam. Lumayan yah, betis kencangggg! Tapi tidak efisien. Cari sepeda, ya enggak tiba-tiba ada yang jual sepeda murah dalam waktu singkat.

Di atas segalanya, masalahku adalah uang saku terbatas. Kepulangan sebulan kemarin lumayan memangkas tabungan. Waktu juga terbatas. Dengan sisa waktu 4 bulan yang kumiliki, aku tak bisa santai lagi. Harus segera mandiri, punya pemasukan yang lebih besar dari pengeluaran. seperti semua orang tahu, Australia negara mahal. Hiks.

Tapi, lagi-lagi, aku dikelilingi banyak orang baik. Teman-teman sesama WHV yang kukenal baik sebelum berangkat ke Australia,  ketika tiba, yang pernah bertemu muka atau bahkan yang baru saja berkenalan, semuanya menjadi “peri baik hati” dalam kapasitasnya masing-masing.

Untuk antar-jemput ke bandara, aku dibantu Arip dan Hilal yang memiliki kendaraan pribadi. Lalu keluarga muda pasangan Wisnu-Cicil yang bersedia kutumpangi 3 hari ini dan banyak menyemangati. Beberapa lainnya memberi informasi lowongan pekerjaan di sana-sini, ada pula yang menawari jasa kredit bunga nol persen dan tempo pembayaran menyesuaikan gajian hahaha. Ada juga yang mendukung semangat dan membesarkan hati. Haduh, pengen peluk satu-satu. Maaf ya sudah merepotkan…

Jadi, siap tidak siap, aku pasrahkan saja pada Tuhan dan waktu. Pilihan sudah dibuat, walaupun banyak godaan dan pertimbangan, tak ada kata ‘mundur’ di sini. Doakan aku ya!

Darwin, 2 Juni 2016 dini hari
Sembari menggelar badan di karpet ruang tunggu Bandara.

One thought on “Numpang lewat, Darwin…

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s