Gadis Jeruk di Renmark (2)


Halo! Postingan pertamaku tentang kedatanganku di Renmark, South Australia kemarin kutulis seusai bekerja hari pertama. Aku mencoba menulis selagi masih segar dalam ingatan sebagai bagian catatan perjalananku pada babak dua di Australia. Sisa waktu visa: 129 hari.

Astaga…kemana pergi ratusan hari sebelumnya?

Seperti kubilang, aku cukup beruntung karena mendapatkan akomodasi yang baru dan nyaman untuk harga sewa yang sepadan. Sayangnya, sewa AUD130 per minggu itu tidak termasuk penggunaan mesin cuci. Untuk cuci baju, butuh AUD4 per mesin baik mesin cuci atau pengering. Yah, setidaknya Indah dan Citra bersedia kuajak patungan hahaha.

Kami tidak punya mobil untuk berangkat kerja sehingga harus menumpang pada sesama pekerja yang bermobil. Biaya tumpangan bervariasi mulai dari AUD5-10 per hari. Yap, semahal itu. Aku “terlambat” datang sih, jadi teman-teman Indonesia yang sudah tiba duluan tak bisa mengikutkan aku di tim mobil mereka. Kebanyakan pekerja berasal dari Taiwan atau Asia timur lainnya. Total pekerja Indonesia di tempatku bekerja hanya 7 orang saja, selain kami bertiga, empat teman lain sudah lebih dulu melanglang buana di dunia perkebunan dari Australia bagian utara, pantai timur hingga selatan.

Untunglah kawan seunit kami, Tim dan Anna, memiliki mobil dan bekerja di sesi yang sama dengan kami sehingga gampang urusan berangkat. Kami diminta sudah tiba di pabrik pengepakan sebelum jam 5 sore. Jam 4 sore kami sudah bersiap dan membawa bekal makan malam untuk dimakan saat istirahat. Tim yang menyetir ke pabrik pengemasan yang ada di Murtho. Tidak terlalu jauh sebetulnya, sekitar 15 menit menyetir. Tapi kalau jalan kaki ya mungkin butuh sejam lebih plus udara dingin menggigit!

Sepanjang jalan terlihat pohon-pohon jejerukan berderet rapi di kiri kanan jalan. Buah-buah bulat berwarna kuning oranye masih menghiasi pohon-pohon berdaun hijau lebat dan tidak terlalu tinggi. Pohon jeruk itu bercabang banyak dan penuh daun serta buah. Warna kuning dan hijaunya sangat cantik dan kontras. Mirip pohon natal gaya bebas alias freestyle :P Banyak buah matang berserakan di tanah, jatuh karena terlalu matang atau terbuang saat dipetik. Benar-benar mirip Farmville, pikirku. Aku ingat memainkan permainan online dari Zynga games itu bertahun-tahun lamanya dan sempat kecanduan. Selalu buru-buru cari koneksi internet supaya tidak lupa memanen hasil perkebunan hahahha!

Pohon-pohon jeruk ini jumlahnya kurasa ribuan karena ditanam di lahan yang luas sekali. Wajar saja bila saat musim panen tiba, para perusahaan perkebunan memerlukan banyak tenaga kerja juga untuk memetik buah dan mengemasnya. Buah sebanyak ini tak bisa dipanen dalam sehari tapi harus segera didistribusi dan dijual hingga luar negeri.

Tak lama kami sudah berbelok ke area pabrik pengemasan. Gedung besar dengan dengungan suara mesin sudah terlihat di depan. Mobil-mobil pekerja sudah banyak berderet di area parkiran dan banyak orang dari berbagai negara terlihat berseliweran dengan rompi warna menyolok dan bersepatu olahraga. Baiklah…ini saatnya memulai karir singkat sebagai Gadis Jeruk*!

(Bersambung)

 

 

*nama Gadis Jeruk kuambil dari judul novel terjemahan karya Jostein Gaarder

 

 

 

 

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s