Gadis Jeruk di Renmark (3)


-Paringa, South Australia, 6 Juni dini hari-

Seharusnya judul serial ini mulai kuganti jadi “gadis jereng” hahaha! Soalnya, baru dua hari bekerja sebagai penyortir jeruk di South Australia, mataku sudah jereng alias hampir juling mengamati ratusan jeruk dalam hitungan menit di gudang pengemasan Murtho.

Oya, memang kota yang aku datangi adalah Renmark, tetapi tinggalku di Paringa dan kerjaku di gudang pengemasan (packing shed) di Murtho. Tapi biar gampang, anggap saja aku tinggal dan bekerja di Renmark :D Toh sama-sama di South Australia semua. Ya? ya?

Di hari pertama, ada belasan orang baru selain aku, Indah dan Citra yang mulai bekerja di hari yang sama. Kami disambut oleh Trish, perempuan berambut cepak pirang berwajah mungil yang sepertinya bertanggung jawab urusan sumber daya manusia di situ. Pabrik pengemasan di Murtho ini dimiliki perusahaan bernama Costa.

Kami diberi rompi warna oranye stabilo dan disuruh menuliskan nama kami di bagian dada dan punggung dengan spidol. Semua pekerja memang wajib memakai rompi atau jaket atau kaos lengan panjang berwarna menyala karena alasan keselamatan kerja. Kalau misalnya tidak pakai warna yang jelas terlihat, bisa ditabrak forklift gara-gara sopirnya tidak bisa membedakan kita sama kardus loh :P

Setelah membagikan rompi dan kertas yang harus kami tandatangani, Trish segera “melempar” kami pada Avril, supervisor kami nanti. Avril memiliki pembawaan yang ramah dan cekatan. Tipe Aussie yang selalu terlihat positif di manapun dia berada. Avril memberi tur singkat menunjukkan ruang makan, toilet, hingga tempat berkumpul saat kondisi darurat.

Kami membebek Avril ke mana ia melangkah untuk menunggu perintah. Secara acak ia memanggil kami satu persatu dan mengenalkan pada pekerja lain untuk dilatih di bagian itu. Citra dan Indah masih mengobrol dengan Anna, kawan serumah kami lainnya sementara aku berdiri agak terpisah. Mataku bertatapan dengan mata Avril yang baru saja kembali dari menempatkan dua orang di bagian pengepakan. Ia membaca nama yang tertera di rompiku, “Elga? Ayo ikut aku,” katanya.

Aku mengikuti langkahnya menuju mesin pengepakan yang tengah beroperasi. Seorang ibu paruh baya terlihat memilah jeruk di ban berjalan. “Ini Belinda, kamu belajar sama dia untuk menyortir ya,” ujar Avril padaku. Belinda mengucapkan salam dan aku langsung tahu bahwa dia juga Aussie. Logat memang tidak bisa bohong yah.

Secara cepat Belinda menjelaskan bahwa aku dan dia bertugas memilah jeruk sebelum dipak di kardus. Haduh! Itu artinya jeruk-jeruk yang kupilah tidak boleh bermasalah. Belinda menunjukkan “cacat jeruk” yang harus kuhapalkan dan kucermati dan kuterapkan dalam pekerjaan. Misalnya sun burn alias terbakar matahari yang cirinya berwarna kuning dengan pori-pori terlihat dan keras bila dipencet. Heloooo, jeruk itu warnanya sudah kuning dan aku masih harus mencari kuning terbakar matahari?? Kuning mana lagi yang harus kau dustakan?

Logat Belinda juga membuatku sulit mencerna perkataannya sembari mengawasi ratusan jeruk yang lewat di depan mataku. Semuanya terlihat sama saja bagiku: jeruk. Cacat jeruk lain yang baru sedikit kumengerti di hari kedua adalah albedo yang mirip selulit kulit. Kalau Belinda yang bilang, pengucapannya jadi “albaito” entah kenapa, dan asosiasinya di otakku jadi “albino” :P Contoh lain, “Halo” yakni lingkaran cokelat di sekitar stem buah yang diucapkan jadi “hollow” dan kuasosiasikan “hole-0” alias keterlubangan (?) euhhh…

Jeruk yang kusortir banyak berjenis navel alias sunkist. Jenis kesukaanku dulu yang harganya mahal itu. Sekarang aku malah merasakan bekerja menyeleksinya. Hidup memang lucu. Jeruk-jeruk ini dipak dengan berbagai tingkatan seperti first grade atau kualitas terbaik, lalu second grade dan seterusnya. Pasar Jepang permintaannya beda dengan pasar Amerika Serikat dan seterusnya.

Pada saat menyortir, jika menemukan jeruk cacat, kemungkinannya adalah dibuang ke lubang sortiran juice, down grade atau ke tempat sampah besar. Jeruk yang masuk down grade adalah karena penampilannya terlihat tak terlalu menarik atau bernoda. Misalnya karena memiliki red scale alias bintik-bintik kemerahan. Belinda menjelaskan, pada kategori first grade, hanya ada toleransi 5 titik merah.Sedangkan untuk second grade, 10 titik merah.”Hey, aku serius” sergahnya saat aku cuma nyengir lebar. Yeah, yang benar saja aku bisa menghitungnya dalam hitungan detik. “Saranku, enggak usah dihitung, lempar saja ke downgrade,” dengusnya. Hahahhaha nah kan!

Belinda memang bawel, dia selalu berkicau kalau aku melewatkan banyak cacat. Pihak pengontrol mutu bolak-balik menghampiri aku dan Belinda untuk komplain. “Ini masih bagus kenapa kamu buang ke juice? Yang ini kan terbelah, jangan sampai lolos,” ujar mereka. Pun begitu, Belinda juga kerap memujiku kalau aku berhasil menemukan cacat jeruk yang susah dikenali seperti albedo atau sun burn. “Well done! Nah kamu sudah berkembang,” ujarnya berkali-kali sebelum “Ih, ini split besar yang kamu lewatkan!” Hahaha!

Saat kami menyortir kualitas first grade, aku merasa sedang main basket di Timezone bersama Belinda. Saking cepatnya kami harus memungut dan melempar jeruk-jeruk cacat ke lubang pembuangan. Sampai-sampai, aku merasa asal buang. Kalau Belinda menanyakan alasanku membuang jeruk yang barusan kulempar, aku cuma bisa menjawab asal. Dalam sepersekian detik, mata dan tangan harus berkoordinasi dengan otak untuk memutuskan nasib sebuah jeruk: buang atau lewatkan.

Pada penyortiran second grade, kriteria jeruk layak sedikit diturunkan. Boleh sedikit noda asal tidak keterlaluan. Boleh sedikit halo tapi tidak menoleransi sun burn, albedo dan split. Kategori split ini agak sulit kuterangkan, pokoknya kulit jeruk seperti tersilet atau ujung jeruk seperti mekar itulah split. Masalahnya, jeruk-jeruk yang harus kami sortir, penampilannya juga bikin hilang selera. “Kalau kau tanya pendapatku, semuanya terlihat jelek,” ujar Belinda. Aku cuma bisa setuju sama dia.

Belinda masih akan ditandem denganku selama beberapa hari sebelum aku dilepas sendiri. Aduh, aku masih belum percaya diri. Tadi saja, Belinda cuma pamit ke toilet sebentar dan aku sudah kelabakan. Pihak penjamin mutu sampai menghampiriku dan menemaniku menyortir. Lalu Avril datang menanyakan keadaanku dan “menegur” Belinda menanyakan apakah dia tidak membantuku. Huwaaaa….bagaimana nanti kalau aku ditinggal sendiri? Bisa-bisa jeruk busuk lolos masuk kardus ke Jepang!

Yah, walaupun semua orang bilang nanti aku bakal terbiasa, aku tetap saja tidak tenang. Tapi untuk saat ini, aku berusaha dulu sajalah. Sekarang aku mau meluruskan badan dan kaki. Berdiri berjam-jam sambil menggiring jeruk bikin bahu, punggung dan betisku pegal. Di atas segalanya, otakku berhenti berfungsi sementara. Sampai jumpa!

 

 

2 thoughts on “Gadis Jeruk di Renmark (3)

  1. I feel you!!!

    Sampe dimarahin terus gw selama dua bulan karena dianggap selalu ada salah. Waktu sortir kentang, saat conveyor belt berhenti tapi kentang tetep bergerak. Ternyata mata gw jadi kecapean.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s