Seminggu Bersama Jeruk


Hari ini, genap seminggu aku bekerja di gudang pengemasan jeruk di South Australia. Setelah enam hari kerja bersama ribuan jeruk, aku merasa semakin memahami perasaan jeruk-jeruk itu. Wajah aneka jeruk berwarna oranye, kuning cerah, kuning kehijauan atau kuning kemerahan terus terpatri di ingatan.

Aku mulai memimpikan kehidupan bersama jeruk-jeruk. Setiap pulang, selalu terbayang berapa jeruk dengan albedo yang kuloloskan hari ini. Berapa banyak jeruk layak yang tak sengaja kulempar ke lubang downgrade atau juice.

Kulit wajahku juga makin bertekstur jeruk walaupun sudah pakai pelembab wajah dua hari sekali. Udara dingin dan mandi air panas membuat kulit manusia cepat kering. Capek? Hahahahahahhaahajelashahahha!

Pundak rasanya mau copot sementara betis serasa kaku karena berdiri lama dan tangan melakukan dribble berulang-ulang. Iya, selama enam hari, tugasku belum berganti. Masih jadi penyortir jeruk tahap dua. Penyortir tahap satu memisahkan jeruk busuk dan jeruk hijau saja. Penyortir tahap dua, memilah mana yang layak dikemas sesuai level pasarnya.

Bedanya, hari ketiga aku sudah tidak bersama Belinda. Huhuhu…anak magang sudah dilepas ke medan perang. Kalau sampai banyak jeruk cacat lolos masuk kardus, itu salahku! Betapapun aku berusaha teliti, mataku cuma dua, tanganku cuma dua. Jadi pasti ada saja yang lolos begitu saja.

Tapi, aku jadi belajar ilmu ninja. Hanya dengan lirikan sudut mata, kadang cacat jeruk terdeteksi juga. Lama-lama tanganku punya radar sendiri. Jeruk yang kupegang, kebanyakan memang perlu dibuang. Gabungan semua itu jadi jurus “ular kepala sembilan mematuk katak” wattaaa! Ssaaatt sseettt plakkk!

Kehidupan kami para gadis jeruk (soalnya teman-teman berangkat kerjaku perempuan semua), juga begitu-begitu saja. Pulang kerja dini hari, antri mandi sambil online, sesekali masak nasi atau mi lalu makan, tidur, bangun, masak, berangkat kerja lalu begituuu seterusnya.

Setelah seminggu, rupanya daya tahan kami diuji. Kalau biasanya masih bisa bangun jam 8 atau 9 pagi (maklum, kami kan manusia pagi). Hari ini saudara, tebak kami bangun jam berapa?!

Setengah satu siang! Padahal kami sudah harus masuk kembali jam 3.45 sore. Itu juga masih pakai acara belanja bersama dulu. Soalnya bahan makanan sudah habis, mau makan apa kalau enggak belanja?

Walau tidak gampang dan menguras tenaga, tapi aku masih bersyukur bisa merasakan kerja di perkebunan walaupun bukan di kebun sungguhan. Bisa beku kedinginan aku! Plus, semoga kali ini ada yang bisa ditabung supaya bisa melunasi tanggungan dan jalan-jalan lagi! Semangaaaat! Woossshaaaa!

Dari Paringa, South Australia, demikian siaran Gadis Jeruk kali ini. Sampai jumpa di seri lainnya…

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s