Hujan di Pabrik Jeruk


Hari ini hujan di Paringa. Terus kenapa? Ya enggak apa. Cuma jadi pengen cerita saja, bagaimana korelasi hujan dan pekerjaan mengemas jeruk hahaha.

Kebanyakan orang menganggap hujan itu romantis dan melankolis. Betul. Kalau dinikmati dari dalam rumah, menghadap semangkuk mi rebus panas dan di hari libur pula. Tapi hujan di Australia, artinya sebagian orang tidak bisa kerja. Tidak kerja artinya tidak dapat penghasilan. Maklum saja, banyak pekerjaan yang dihitung per jam bukannya gaji bulanan macam kebanyakan kerja di Indonesia.

Hujan sangat mempengaruhi sektor perkebunan. Saat hujan, aktivitas memetik buah biasanya dihentikan. Bagaimana situasi pemetikan saya harus tanya dulu sama kawan-kawan yang jadi pemetik. Asumsi saya, karena kerja luar ruang dan tenaga manusia, maka hujan bisa bikin orang sakit (dingin jelas), juga bikin buah cepat busuk karena dipetik basah.

Lalu, saat buah tidak ada, maka pekerja di pabrik pengemasan yang kebagian jatah menyortir hasil petikan jadi tak ada kerjaan. Belasan rekan kerja saya di posisi first sort dapat sandek “cinta” dari supervisor yang memberitahu mereka tak usah datang kerja alias libur hari itu. Bahagia? Bisa iya, bisa enggak. Kan seperti saya bilang, kami digaji per jam. Tidak masuk, artinya melayang uang kerja 7-10 jam hari itu. Banyak lho.

Kebetulan saya posisi penyortir lapis kedua. Jadi tidak ada buah baru, masih bisa menyortir buah sebelumnya hasil sortiran anak-anak first sort. Eh tapi…hari ini hujan juga agak mengacaukan pekerjaan saya.

Gudang pengemasan kami banjir hari ini. Jangan bayangkan banjir Jakarta tapi. Genangan air di lantai gudang saja sih sebetulnya. Alhasil aktivitas menyortir dan mengepak harus dihentikan dulu. Terus kami boleh leha-leha? HAH! MIMPI! Avril si SPV (supervisor/penyelia) memanggilku dan memberitahu situasi sambil berkata “tolong kamu kerjakan apa saja yang bisa kamu lakukan. Sapu-sapu kek, ngelap besi pegangan tangan kek, terserah.”

Jadilah saya “pura-pura” kerja. Ngelap besi-besi rangka, teman saya ngelap pagar, menyapu…yang mana agak tak guna kalau menyapu debu. Ini gudang gitu ganti. Dibersihkan ya debu lagi hahaha.

Tapi Alex, SPV lainnya, akhirnya menemukan “pekerjaan” untuk kami semua. Kami? Semua orang, mulai dari penyortir, operator mesin pengemasan, pengontrol mutu, sampai sopir forklift kebagian kerjaan ini: repack.

Repack adalah memasukkan jeruk, selusin, ke dalam kantong-kantong jaring untuk dijual ke supermarket-supermarket. Kalian para pembeli bagai membeli kantong keberuntungan karena enggak bisa memilih jeruk macam apa di dalamnya.

Lalu jeruk apa yang kami masukkan? Jeruk yang Belinda bilang, “kalau aku sih enggak bakal mau beli!” Tapi, sembari menghadap bin raksasa dan membungkuk-bungkuk memungut jeruk, kami jadi ngobrol. Anak Taiwan, Italia, Indonesia hingga Tonga. Kami jadi bisa saling belajar bahasa. Yah, sebagian besar sih belajar kata makian :p

Satu bin bisa memuat ratusan butir jeruk dan kami 8-12 orang yang mengerjakan. Tak henti-hentinya kami melirik jam dinding berharap waktu makan malam segera diumumkan. Tapi entah kenapa jam itu seperti kehabisan batere.

“Kalian bisa bayangkan enggak mengerjakan ini (repack) sampai delapan jam?” celetuk Cristina, pengontrol mutu asli Italia. “Bayangkan melakukan ini 6 bulan!” sahut Freddy, temanku sesama WHV Indonesia. Cristina bengong sedetik lalu, “iya kamu benar juga.”

Dan malam itu, kami mengepak ratusan kantong jeruk kelas bawah yang kalau mengutip kata Cristina “sekarang kalian sudah tahu asalnya, kalau ketemu di supermarket jangan dibeli dan jangan sarankan teman membeli.”

***

Sekian cerita Gadis Jeruk kali ini. Sampai jumpa di siaran selanjutnya!

Salam!

One thought on “Hujan di Pabrik Jeruk

  1. hahaha… klo aku lagi kunjungan ke pabrik (di kantor sendiri) juga ga boleh bengong ngeliat doang. wajib bantu…. untungnya aku kebagian dokumentasi terus. Bisa ngebayangin kayak kamu Ga, kan klo desainer disuruh ikutan QC kain berratus-ratus yard *__*

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s