Oppa, si Mobil Jeruk (2)


Selamat merayakan lebaran bagi teman-teman pembaca blog sekalian. Maafkan aku bila tulisanku menimbulkan sakit hati atau ketidaknyamanan. Mari kita lanjut siaran :)

Ceritanya, kemarin aku membawa Oppa, si mobil jeruk, ke tempat Mel Scidone, mekanik Italia yang direkomendasikan ibu kosku, untuk diperiksa. Sama seperti manusia, sesekali mobil juga perlu periksa kesehatan.

Puh. Alasan. Padahal sebetulnya ini gara-gara aku lupa mengonfirmasi kapan Oppa terakhir menjalani perawatan pada pemilik sebelumnya. Lalu, beberapa kali saat mengendarai Oppa, mataku terasa cukup pedih karena gas buang yang aku curigai bocor entah di mana.

Mel, lelaki tua berambut putih dengan perawakan ala Godfather itu menerima mobilku jam 10 pagi. “Nanti kutelpon kalau sudah ada hasilnya,” katanya sambil menerima kunci dariku.

Sekitar dua jam kemudian aku menerima pesan suara dari Mel yang memintaku menghubungi dia. “Sebaiknya kau ke sini karena terlalu panjang kalau kujelaskan lewat telepon,” ujarnya. Karena Fiona tak di rumah, aku berniat jalan kaki ke tempat Mel. Tak jauh. Tapi, ia mengirim pegawainya untuk menjemputku.

Seperti masuk ruang praktek dokter, Mel memintaku duduk dan menghadap buku catatan diagnosa Oppa. Mel menghadapku dengan wajah serius. Hasilnya?

Oppa sakit. Sangat.

Kabar itu tidak mengejutkan tentu.Saat membeli Oppa, aku sudah berjanji dalam hati takkan menjual Oppa saat masa tinggalku di Australia habis. Sebagai Toyota Corolla keluaran 1985, umur manusia Oppa mungkin setara kakek-kakek 70 tahun. Akan kutinggal di pinggir jalan atau kujual ke wrecker alias penerima mobil rongsok, janjiku setengah bercanda.

Tapi biar begitu, vonis Mel tetap membuatku sedih. Secara umum, semua suku cadang Oppa sudah sekarat. Radiator Oppa bocor dan pompa airnya sudah tak berfungsi normal. Aku harus ingat mengisi ulang radiator dengan air setiap pagi sebelum mengendarainya. “Kalau tidak, tamat sudah,” cetus Mel.

Mel bilang, seseorang mencopot penutup gas buangan Oppa dan menggantinya dengan pipa (sialan). Lalu karet rem sudah tak sempurna dan bla bla bla lain yang tak aku pahami sungguh. Halo, ini mobil pertamaku dan level pemahamanku pada mesin kendaraan roda empat masih di level playgroup.

Mel bilang, untuk memperbaiki Oppa perlu biaya besar. “Aku yakin kau takkan mau menghabiskan ribuan dollar untuk kendaraan murah ini,” katanya. Tentu saja! Mana mampu aku menghabiskan sebanyak itu? Aku hanya nyengir dan bertanya apa yang harus kulakukan agar Oppa masih bertahan setidaknya untuk 3 bulan. Bisakah dia kubawa ke Adelaide yang 250 kilometer jauhnya dari Renmark?

Tentu saja bisa, kata Mel. Kalau aku mau mengalami mogok di tengah jalan karena mesin Oppa kepanasan. Baiklah. Lupakan Adelaide. Mungkin nasib Oppa memang hanya membawaku ke radius maksimal 50 kilometer saja dari Renmark. Well, that’s not much really.

Lalu tadi siang aku membawa Oppa ke tempat Mel lagi untuk perawatan dan ganti oli. Mel berjanji menyelesaikannya dalam waktu sejam karena aku harus berangkat kerja.

Lima belas menit jelang waktu yang dijanjikan, aku kembali ke tempat Mel. Aku menanyakan berapa biaya yang harus kubayar kali ini. Aku ancang-ancang kurang dari AUD80 karena temanku bilang biasanya ganti oli di bengkel habis sekitar AUD 50.

Mel memberikan nota pembayaran sambil menepuk pipiku, “karena kau gadis yang ramah dan baik, aku berikan diskon.” Aku menerima nota itu dengan senyum lebar dan….apaaaaa??? Seratus empat puluh dollar?? Huhuhu bukan cuma Oppa yang sekarat. Sekarang dompet Gadis Jeruk juga ikut sekarat.

6 thoughts on “Oppa, si Mobil Jeruk (2)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s