Gadis Jeruk Pindah Rumah


Dalam kurun waktu 3,5 minggu di South Australia, aku mengalami lebih banyak perubahan ketimbang saat hidup 3,5 bulan di Victoria. Selain jadi gadis jeruk, punya Oppa, si Toyota Corolla 85, sekarang aku juga tinggal di kos baru. Yap, gadis jeruk pindah rumah.

Di postingan terdahulu, aku pernah bilang bahwa harga yang kubayar untuk tinggal si hostel backpacker di Paringa sepadan. Aku perlu meralat pernyataan itu. 

Kenyataannya, untuk 8 orang dewasa tinggal bersama di satu rumah dengan fasilitas yang ada, situasi bisa jadi terlalu riuh. Ini bukan lagi masa sekolah asramaku dulu walau dengan perbandingan jumlah orang yang sama.

Saat SMA, kami tak perlu masak makanan sendiri dan belanja sendiri. Kami tidak punya ritme kerja yang berbeda karena semua sama: sekolah di pagi hari, makan bersama, dan punya rutinitas yang sama. Lagipula kami masih remaja, tinggal bersama sekurang-kurang setahun lamanya (sebelum perpisahan kelulusan kakak kelas).

Lalu aku juga menyadari bahwa aku terlalu soliter untuk menoleransi terbatasnya ruang privasi. Aku butuh jarak dan ritme yang bisa kusebut “hidup”. Tinggal beramai-ramai dalam lingkup perjalanan aku tak masalah. Hidup bersama untuk jangka panjang itu yang masalah. Maka, aku pun mencari rumah baru.

Ada beberapa kamar disewakan di sekitar Renmark. Misalnya saja satu kamar untuk diriku sendiri, berbagi rumah dengan satu penghuni lain di kamar berbeda. Harga murah tapi tak berperabot. Heu, bisa repot cari kasur tiup dan tetek bengek penghangat agar bertahan di musim dingin.

Lalu, aku menemukan Fiona. 

Dia adalah orang yang paling merespon komunikasiku melalui sandek. Saat ia tak segera menjawab pertanyaan kapan aku bisa melihat kamar yang disewakan, aku menelponnya dan langsung merasa klik. Logat Australia. Ibu-ibu Australia asli.

Mungkin ini dinamakan insting bawah sadar, tapi aku mendapati diriku memiliki hubungan baik dengan ibu-ibu Australia tanpa bermaksud mendiskriminasi ras lainnya. Ada sesuatu tentang mereka yang membuatku nyaman: keterusterangan, sifat santai dan blak-blakan tanpa menyimpan gerundelan. Aku belajar lebih asertif tanpa jadi agresif dari sikap macam itu.

Saat aku ke rumahnya, aku adalah calon penyewa pertama. Sebelumnya ada beberapa orang juga tapi mereka batal menyewa lantaran tak dapat pekerjaan di sekitar Renmark.

Rumah Fiona adalah rumah kayu khas pedesaan Australia. Tua, berantakan tapi juga rapi. Tidak sempurna ala rumah majalah tapi sempurna bagiku lantaran meneriakkan makna homey.

Sofa tua di ruang televisi alias lounge room dibalut selimut tua dan ditaruh di atas karpet lawas. Foto-foto anak dan cucu Fiona terpajang berserakan. Dapurnya kecil dan sempit tapi apik. Kamar yang ditujukan untukku memuat tempat tidur ukuran single dengan selimut penghangat. Perabotan yang ada adalah lemari kayu dan meja kecil di sisi tempat tidur. Harga sewa tak jauh beda dengan hostelku sebelumnya. Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan.

Pada hari kepindahan, Fiona mengirimiku sandek yang menjelaskan ia sudah memasang tirai tebal di kamar dan membeli modem wifi. Dia juga menyediakan sumbat telinga.Fiona paham aku kerja malam. Perlu tidur hingga siang.

Saat aku datang membawa barang, ia sedang memotong rumput di halaman. “Aku kerjakan sekarang daripada besok mengganggu waktu tidurmu,” ujarnya ceria. Aku tersentuh. Di kamar, ia sudah menghamparkan selimut tebal. “Beritahu aku kalau kau kedinginan. Aku carikan selimut lagi,” imbuhnya.

Dan benar, esoknya aku bilang masih merasa dingin. Ia langsung memberikan selimut rajut warna-warni yang keren sekali. “Ini buatan nenekku, jadi umurnya sudah hampir 100 tahun.” Wah. Dia pasti bercanda. “Sungguh. Nenekku membawa ini dari Inggris saat ia berumur 80an.”

Aku tak pernah menanyakan usia Fiona, tapi kutebak sekitar 70an. Ia janda, putri tunggalnya hidup di Amerika Serikat dan ia punya cucu perempuan yang sekarang sudah remaja. Fiona juga tipikal ibu-ibu tua Australia: bawel. Hahahaha.

Ada banyak aturan di rumahnya. Tapi semuanya masuk akal dan beralasan jadi aku berusaha mengingat seluruhnya. Misalnya saja:

  1. Matikan lampu dan stop kontak bila tak digunakan. Rumah Fiona adalah rumah kayu maka rawan sekali kebakaran. Selain itu, hemat energi tak ada salahnya.
  2. Semua sisa makanan dan sampah organik dibuang ke toples khusus kecuali kulit jeruk. Fiona melakukan proses kompos di halaman belakang. Sesuatu yang kudukung sepenuh hati. Kulit jeruk bersifat asam dan antibakteri yang bisa awet dalam waktu lama dan malah merusak bakteri pengurai.
  3. Semua peralatan masak harus kembali ke tempat semula. Supaya orang lain yang mau pakai tidak bingung mencari alat dan menyiapkan masakannya.
  4. Pakai sandal khusus dalam rumah dan luar rumah. Supaya tidak membawa kotoran dan penyakit tentu saja.
  5. Dan masih banyak lagi lainnya hahaha. Tapi aku senang-senang saja.

Sejak tinggal di rumah Fiona, aku merasa jauh lebih waras. Bangun, aku bisa membuat teh atau jus jeruk dan roti panggang untuk membuka hari. Menikmati sinar matahari di halaman belakang yang berbatasan dengan kebun anggur tetangga.

Tapi masa-masa aku tinggal sendiri cuma bertahan 3 hari. Dengan cepat rumah itu terisi. Selain aku, kini ada empat sekawan asal Perancis dan aku berbagi kamar dengan seorang perempuan Taiwan. Aku masih harus menoleransi level berisik empat sekawan itu yang kadang kelewatan. 

Kebiasaan mereka yang selalu mandi lama cukup bikin jengah Fiona lantaran terbatasnya air panas. Mereka juga gagap budaya karena baru datang dari Melbourne yang gegap gempita. Tapi aku tak mau ambil pusing selama mereka tak menggangguku. Kulkas anak kos berbeda dari kulkas Fiona tapi ukurannya lebih besar dari kabin hostelku sebelumnya. Aku lebih leluasa menyetok bahan makanan dan barang.

Setidaknya, sisa masa tinggalku di Australia bisa kuhabiskan dengan tinggal di sebuah tempat yang terasa rumah. Tidak mewah, tidak megah, tapi memberiku kenyamanan yang ramah.

Lain kali kuceritakan khusus soal Fiona. Perempuan tua luar biasa.

beranda belakang rumah

Sampai jumpa.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s