Nge-bengkel di Australia


Saya punya dua mobil sekarang. Satu Oppa, satu lagi Ford Futura hijau tosca keluaran 1995. Sepuluh tahun lebih muda dari Oppa, transmisi otomatis dan interior lebih mewah. Wih, Elga kaya dong ya? Di Australia, mobilnya dua, Ford pula salah satunya! Tunggu sebentaaar, ini panjang ceritanya hahaha!

Ini si Ford 1995 tanpa nama “pemberian teman”, adik Oppa

Pertama, saya harus ingatkan, punya mobil, apalagi yang sudah tua, berjarak tempuh ratusan ribu kilometer, entah sudah pindah tangan berapa kali, di Australia pula itu…mahal! Kalau tidak terpaksa, mending naik transportasi publik atau jalan kaki aja, kak!

Sayangnya, di kota sepi macam Renmark, moda transportasi yang memberi keleluasaan beraktivitas adalah mobil pribadi. Bus? Ada sih. Dua kali sehari, rute ke Adelaide tapi hihihi!

Seperti yang sudah saya ceritakan, Oppa sudah tua dan sakit. “Mirip aku kalau pagi, yang sakit punggung lah, yang sakit kaki lah,” ujar Mel, si mekanik tua Italia. Untuk kesekian kali, Oppa bikin masalah. Dan kali ini, saya menyerah.

Pada satu pagi, dini hari, Oppa mogok setelah distop polisi. Iyap! Saya dipinggirin polisi lagi untuk ketiga kali! Tapi enggak sempat nawarin kopi kali ini :p Padahal, paginya Oppa baruuuu saja saya ambil dari bengkel lantaran jalannya tersendat-sendat.

Bahkan saat saya bawa ke bengkel, mesin Oppa sempat mati. Di. Tengah. Jalan raya.

Itu ngeri lho. Karena saya tidak seharusnya berhenti di tengah persimpangan jalan yang tidak ada ruang berhenti. Untung para pengendara di sekitar saya cukup sabar dan tidak membunyikan klakson (bukan Jakartans, saudara!) Plus, bengkelnya tinggal beberapa jengkal. Nyaris saja saya harus turun dan dorong Oppa menyeberang!

Ongkos perbaikan Oppa kali ini nyaris sama dengan sebelumnya. Lalu, biarpun Mel mekanik yang baik dan pengertian, saya jengkel dengan cara dia langsung memperbaiki Oppa dan memberi saya tagihan. Lah, saya kan sudah minta untuk cek dulu saja. Lalu kasih tahu berapa kisaran biayanya baru saya putuskan mau apa. Ini sih kayak orang enggak dikasih pilihan mau amputasi lengan atau tidak, tahu-tahu dioperasi dan ditagih bayar. Kesal.

Oya, biaya bengkel di Australia bisa bikin sakit lambung dan migrain kalau dirupiahkan. Biaya tenaga mekanik (labour hire) dihitung per jam mulai dari AU$ 70 biasanya. Belum ongkos suku cadang atau lain-lain yang perlu diganti. Untuk minyak pelumas saja, satu jenis bisa minimal AU$ 8, padahal mobil butuh bermacam cairan mulai dari cairan kemudi, cairan pendingin, pelumas rem, pelumas mesin… Nah, hitunglah sendiri.

Singkat cerita, karena sudah diperbaiki, saya bawa deh si Oppa jalan-jalan sebentar. Enggak sengaja lewat jalan tanpa aspal. Eh, sengaja ding. Niatnya ke pinggir sungai cuma tidak lewat jalan biasanya.

Menyadari jalan kerikil panjang itu terlalu bumpy, saya putuskan balik kucing. Di sinilah si Oppa mulai berulah. Suara mesinnya seperti orang tersedak sesuatu. Bleppp bleppp brrrmmm. Tapi saya masih percaya diri membawanya ke rumah teman bersama beberapa teman lain yang ikut menumpang. Agak cemas juga sih…

Lalu saya pergi berburu foto langit berbintang, Oppa saya tinggal di tempat teman. Saya minta teman membawa mobilnya karena saya tidak yakin dengan kondisi Oppa. Pulang dari berburu langit berbintang hampir 3 jam kemudian, saya bercanda soal distop polisi pada teman saya. Yang para pembaca budiman bisa tebak lanjutannya :p

Saya terpaksa meninggalkan Oppa di pinggir jalan dan pulang jalan kaki. Jam 4 dini hari! Zzzzz!

Lusanya, Mel membantu saya menderek Oppa ke bengkelnya sementara saya menumpang mobil teman untuk berangkat kerja. Selama beberapa hari berikutnya saya bahkan meminjam mobil teman. Haduh, terpujilah kebaikan kalian.

Sebelum dibantu derek, Irham dan Lylis (sesama teman WHV Indonesia) sempat membantu saya untuk mencoba jump start Oppa dengan mobil mereka yang…

Berakhir dengan surat tilang polisi karena Irham lupa bawa surat izin mengemudi. Tepat saat kami menepi mau menghadapi Oppa yang ada di pinggir jalan, mobil patroli berhenti tepat di belakang kami. Mereka sampai menyuruh Irham mengambil SIMnya di Paringa (menghabiskan 30menit perjalanan pulang-pergi) dan tetap memberi surat cinta denda pada Irham. Pada titik ini saya cuma ingin teriak histeris. Kenapaaaaaaaa???

Dengan segala situasi tak terduga, urusan mobil dan biayanya ini betul-betul bikin sakit kepala. Nah, di sinilah teman saya, Fran, berperan. Francesca, adalah rekan kerja senior saya di Murtho. Orang yang sangat tepat waktu, cerdas dan rekan kerja yang sangat bisa diandalkan.

Ngobrol-ngobrol di antara dia mengganti stiker mesin jeruk saya, dia bilang ingin menjual mobilnya lantaran tak pernah ia gunakan. Fran sudah punya tumpangan dari teman serumah dan mobilnya butuh ganti aki alias batere dan registrasinya hampir mati. “Aku enggak mau keluar ratusan dollar untuk batere dan rego sementara aku cuma tinggal beberapa minggu saja di sini,” katanya.

Cling! Tercetus ide, untuk membeli mobil Fran saja kalau sesuai harganya. Oppa sudah siap masuk peti. Tak terduga, Fran bilang, “apa aku berikan saja untukmu ya? Tapi aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa.” HAH?

Fran melanjutkan, ia akan mencoba menjual lebih dulu mobilnya. Jika dalam 2-3 hari mobil tak terjual, mobil itu jadi milikku. Alasannya, Fran tidak ingin merasa bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu padaku karena mobilnya. Baiklah, aku setuju.

Beberapa orang menghubungi Fran dengan berbagai ketentuan. Ada yang minta Fran belikan aki dulu untuk tahu mobilnya jalan atau tidak, baru memutuskan. Yang lebih aneh, ada yang mau datang dari Adelaide untuk melihat mobil itu. Halooo, mobil ini saja dari Adelaide! Pada saat itu, saya tidak tahu apa jenis mobil Fran. Pokoknya yang penting bisa jalan.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya yang mendapat hak mobil itu. Kami bertemu di bengkel Mel (saya datang sangat terlambat karena jalan kaki dari rumah. Rasanya bersalaaaah banget!) Lalu bersama kami ke Berri untuk memperbarui registrasi. Semua biaya saya yang tanggung. Lalu dibagi bersama Citra dan Indah.

Saya anggap ini mobil pinjaman. D akhir masa tinggal nanti, rencananya mobil ini saya jual untuk balik modal. Baik untuk saya, Citra dan Indah, maupun untuk Fran juga. Karena toh sebetulnya dia berhak menjual dan mendapatkan pembayaran atas mobil yang dia beli beberapa bulan silam ini.

Lalu Oppa bagaimana? Saya sudah siap melepas Oppa. Ibarat transaksi perdagangan saham, apa yang saya lakukan adalah cut loss. Mencegah kerugian lebih dalam. Ya sudahlah ya…

Yang tidak terduga, dulu saat masih mencari mobil untuk dibeli, saya sempat mempertimbangkan membeli Ford karena mesinnya berpenggerak belakang (rear-wheel drive). Eh, siapa sangka saya bakal sempat mengemudikan mobil ini, di Australia pula!

Oya, jangan kira mobil ini baik-baik saja. Beberapa hari pertama, selalu ada asap keluar dari kap depannya. Rupanya saya memang ditakdirkan berurusan dengan bengkel. Semua tabung cairan sudah saya isi. Akhirnya setelah sekian kali, saya buka kap saat masih berasap. Nah lo! Asapnya muncul dari dekat pipa cairan setir. Cairan itu bocor dan mendarat di pipa pembuangan makanya berasap. Pantas, baru saya isi penuh kemarin, hari ini sudah nyaris kering. Ahhhh!

Untungnya (setelah sempat beli cairan “penambal”), ketahuan bahwa mobil ini perlu ganti satu komponen supaya tidak bocor. Kali ini tidak terlalu mahal, tapi semoga setelah ini tidak ada edisi lanjutan ke bengkel lagi! Lelaaaah!

Momen terakhir bersama Oppa. Selamat tinggal…mobil pertama.

5 thoughts on “Nge-bengkel di Australia

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s