Di Ujung Musim


Kuncup merah jambu mulai bermekaran dari ranting-ranting gundul tanpa daun di kebun sebelah rumah. Itu bunga plum, kata Fiona, ibu kos. Sementara di kejauhan, tampak hal senada terjadi di deretan pepohonan dua ratus meter dari rumah. Putih warnanya. Kalau itu, kata Fiona, cikal almond

Di berbagai sudut Riverland (Renmark, Paringa, Murtho dan seterusnya), menjelma hamparan pohon berbunga mirip musim mekar sakura di Jepang.

Ujung kaki musim semi sudah menyentuh bumi…

kuncup bakal plum

Tak terasa, karir saya sebagai gadis jeruk sudah hampir berakhir. Kurang dari 50 hari, saya akan angkat kaki dari negara ini. Menyudahi pengembaraan setahun di negara koala. 

Sama seperti musim dingin akan segera diusir musim semi, musim jeruk juga akan segera selesai. Teman-teman sekerja, satu per satu mulai berpamitan. Melanjutkan perjalanan ke sisi lain dunia, atau pulang ke negara asal. Saya patah hati berkali-kali. Dan ini bukan tentang romantika seperti banyak orang kira. Bukan.

Tadinya, saya berencana mengakhiri perjalanan setahun saya di Australia dengan bekerja saja. Kali ini fokusnya memang mau mengembalikan dana pinjaman lunak dari ibu tercinta. Tidak terpikir lagi untuk menjalin relasi dan bertekad menjauhi segala drama. Biar saja apapun terjadi, saya akan mengandalkan diri sendiri. 

Tapi siapa sangka, cuma beberapa bulan saja, saya bersentuhan dengan orang-orang yang menarik saya untuk membuka diri. Menjalin pertemanan. Suasana kerja yang menyenangkan, makan bersama, eksplorasi kota sekitar, hingga acara-acara di luar kerja yang akrab dan santai. Yang mau tak mau, saat perpisahan terjadi, ada yang hilang dari hati.

Saking terhanyut rasa melankoli yang menyebalkan, Kylie, ibu asuh Australia saya sampai turun tangan. Pada saat saya mewek karena baru mengantar teman pulang Indonesia duluan (sebelumnya dua teman asal Inggris Raya juga pamitan), Kylie mengirim foto cowok macho. Dasar.

Saya bilang, itu cukup menghibur soalnya saya lagi sedih. “Aku tahu ini resiko traveling, selalu akan ada perpisahan. Harusnya aku sudah terbiasa. Tapi tiap kali saat itu tiba, tetap sedih rasanya,” adu saya.

Yang kemudian dibalas Kylie, “My sister always said to me. Your heart breaks and you deal with it or you choose to never meet these people. I know how you feel. It was how I felt when I left Darwin. It’s how I will feel when you leave Australia.”

Sialan. Makin mewek kan!

Kylie punya kebijaksanaan dan kebaikan yang terlalu hangat untuk ditolak. Kata-kata itu seperti jari yang menyentuh dagu saya untuk mendongak memandang langit.

Saya membalas, I’d rather to go through thousand heartbreaks than never meet these people…” Saya memilih untuk patah hati berkali-kali ketimbang tak pernah bertemu orang-orang luar biasa itu. 

Dengan perubahan-perubahan tak terduga, tak ada yang tahu kapan saya harus meninggalkan Renmark. Kota kecil yang kalah ramai ketimbang Wonosari, Jogja :P 

Tapi, saya merasa bersyukur, waktu dan takdir membawa saya ke sini. Pemberhentian terakhir untuk menutup satu musim yang segera selesai. Mirip satu episode mimpi yang panjang. Diingat hingga saat sadar.

Apa yang nanti terjadi, terjadilah…

Senjakala di South Australia

2 thoughts on “Di Ujung Musim

  1. It’s always a bittersweet, Traveling. Mengetahui bahwa salah satu sensasi paling mendebarkan dari perjalanan adalah rindu rumah, dan di saat bersamaan merasa berat hati untuk berkata selamat tinggal, sampai jumpa kepada tempat baru yang mungkin kita sebut rumah.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s