Menabrak Kangguru di Australia


Sepandai-pandai kangguru melompat, akhirnya tertabrak juga. Yeah, pagi ini saya menabrak kangguru. 

Adalah subuh yang biasa, kisaran 5.35 waktu South Australia. Saya menyetir mobil berangkat kerja dengan kecepatan sesuai panduan: 80-100 kilometer per jam. Penumpang saya hari ini cuma Sevgi (teman dari Jerman) dan Citra. Indah absen karena sakit. Langit sudah cukup terang, di kejauhan tampak beberapa mobil jalan berurutan.

Saya menyalakan lampu jauh karena jalan menuju pengepakan jeruk cukup berliku dan ada bagian tanpa garis marka. Lagipula mobil di depan saya cukup jauh dan tak bakal terganggu. Setiap orang di mobil sibuk dengan pikiran masing-masing.

Saya, misalnya, berpikir bahwa hari ini harus sudah menaikkan iklan di Gumtree (situs jual beli populer di Australia) untuk menjual si Ford tanpa nama pemberian Francesca. Saya akan meninggalkan Renmark kurang dari tiga pekan untuk kembali ke Indonesia. Masa berlibur dan bekerja saya sudah mencapai titik akhir.

Tiba-tiba, lampu menyorot 3-5 makhluk berekor panjang dan berkaki belakang besar. Semuanya dalam posisi tegak berdiri. Dan dua di antaranya ada di tengah jalan. Sial! Pikiran terakhir saya dalam sepersekian detik adalah “kali ini jangan menghindar, tubruk saja,” dan… BHAM! Satu kangguru besar sempat terlihat menghantam sisi pengemudi dan sekian detik berikutnya saya tak tahu apa yang terjadi.

Sevgi dengan suaranya yang lembut menginstruksikan saya untuk menepikan mobil dan otomatis kemudi saya belokkan ke kiri. Mobil penuh asap dan tenggorokan saya tercekat. “Kalian tidak apa-apa? Ayo semua orang keluar dari mobil,” perintah Sevgi. Saya tidak sadar kalau kantung udara di setir sudah terbuka dan menghantam (atau menyelamatkan) muka saya. Pintu pengemudi entah kenapa tidak terbuka sepenuhnya.

Di luar mobil, Citra terbatuk-batuk dan Sevgi terus menyakinkan kalau kejadian tadi tak terhindarkan dan bahwa kami sepantasnya bersyukur masih selamat. “Reaksi bagus Elga, kamu melakukan hal yang benar,” ujarnya sambil mengajak berpelukan bertiga.

Di bawah terang matahari yang masih samar, saya melihat kerusakan akibat kontak dengan keluarga kangguru tadi. Kap mobil sisi pengemudi ringsek dan lampunya pecah. Keluar asap dari mesin dan pemutar musik masih menyala. Ada bekas penyok besar di kap.

Begini kira-kira kondisi mobilnya

Saya terlalu banyak terlibat kecelakaan selama di Indonesia. Lalu sekarang, saat saya sudah mau pulang, harus banget ya nambah satu lagi pengalaman di Australia?  Yah, hidup kalau mulus tanpa drama kayak jalanan Antartika kan enggak seru, Ga, kata diri saya sendiri.

Seperti saat kecelakaan lain yang saya alami saat dewasa, saya tidak syok. Otak saya merespon situasi darurat dengan cara yang bisa diandalkan: bekerja. Saya langsung berpikir tentang sejuta daftar hal-yang harus-dilakukan setelah kejadian. Misalnya, saya harus memikirkan bagaimana menderek mobil ini pulang atau ke bengkel, apa ada pedagang besi yang bisa dihubungi, lalu apa bisa saya batalkan registrasi mobil ini. Oh ya, akinya masih baru jadi bisa dijual terpisah. Mungkin menelpon Mel di jam smoko break (istirahat) nanti, coba minta tolong menderek mobil. Dan lain-lain.

Itu yang terlintas sambil mendengar Sevgi dan Citra bertanya “what we’re gonna do now?” Oh iya, kami masih harus berangkat kerja. Saat itu kami terdampar di tepi jalan sementara mobil-mobil jarang melintas. Teman-teman yang kami kenal pasti sudah berangkat duluan. Yah, ayo cari tumpangan, kata saya sambil mengacungkan jempol ke arah jalan. Yap, kami coba hitchhiking ke pabrik pengemasan. 

Beruntung, satu mobil kabin ganda menepi. Pengemudinya bapak-bapak Ostrali. Sevgi yang menanyakan apa kami boleh menumpang sementara saya memunguti barang berharga di mobil. Ugh, mobil perempuan. Isinya berantakan. Saya menyambar tas plastik, mengisinya dengan dompet teman yang ketinggalan, map berisi izin mengemudi, surat registrasi dan (uhuk) paspor saya. Tak ketinggalan tas ransel mahal yang baru saya beli di Adelaide kemarin yang masih di bagasi :p

Sepanjang jalan hanya Sevgi yang bisa mengobrol dengan si bapak dan saya hanya menimpali sesekali. Otak saya masih berputar. Saya cuma sempat bilang “thank you very much, we appreciate it,” dan Sevgi melihat saya sambil tersenyum. Eh, itu kalimat keluarnya bener enggak ya? Hahaha.

Ajaibnya, kami tidak telat kerja. Masih ada waktu 5 menit.Citra segera menelpon entah siapa, saya segera menaruh barang-barang di meja ruang makan. Cuma sempat mengabari beberapa teman dan memulai kerja seperti biasa. Kecuali, saat menyortir jeruk, kepala saya penuh puluhan rencana dan analisa.

Salah satunya, “duh, bakal kena denda enggak ya nabrak kangguru.” Dan itu saya tanyakan ke Nada, pengontrol mutu di sesi pagi. “Enggak. Kamu bisa menabrak sebanyak apapun kangguru yang kamu mau. Tapi mahal kan benerin mobilnya. Punya asuransi?”

Em…nope. Asuransi mobil di Australia rata-rata dibayar untuk kaver setahun. Saat saya diberi Francesca, waktu saya tinggal 1,5 bulan. Walaupun tahu ada resiko begini-begitu, tetap saja terlalu mahal buat saya untuk membelinya. Jadi, kalau masih punya waktu lebih dari 6 bulan saat punya mobil, belilah asuransi. Apalagi kalau bekerja di desa kayak saya. Kanggurunya lalalala di mana-mana.

Mungkin saya bisa ikutan isi form kayak ini kalau punya asuransi. Sumber: internet.

Selama di Australia, saya sudah bertemu kangguru di jalan berkali-kali. Saat trip Great Ocean Road, teman Italia saya bisa menghindar dan bikin deg-degan. Saat kerja di Murtho, saya sempat menghindar walau kecepatan tinggi bersama Oppa (Toyota lama saya). Waktu itu cuma sama Indah dan kami pulang kerja sesi malam. 

Herannya, ada beberapa orang yang tak pernah ketemu sama sekali. Mitsu-san misalnya, bertahun-tahun kerja di Renmark-Murtho, dia tak pernah ketemu kangguru. “Aku anggap mereka tidak eksis karena aku enggak pernah lihat.” Okelah.

Tapi terakhir pasang status menghindari kangguru di jalan, teman-teman pada kasih saran: jangan menghindar, tabrak saja. Karena kalau menghindar bisa makin bahaya buat isi mobilnya. Eh yaampun, saya dikasih kesempatan berikut untuk mencoba teori itu. Hahaha! Teman yang lain bilang, kalau mengemudi kecepatan tidak sampai 100km/jam bakal beda cerita. Well, saya cuma numpang tinggal sementara di Australia jadi enggak punya logika penanganan kehidupan liar di jalanan. Hiks.

Strayaaaaa! Enggak bisa banget ya, melepas saya pergi tanpa tambahan pengalaman tabrak kangguru dan hitchhiking (walau cuma beberapa kilometer)? Nah, sudah ya, setelah ini lepaskan aku pergi dengan situasi tenang dan tentram. Please.




Renmark, 20 September 2016

Sambil berkemas pindah lagi ke hostel karena sudah enggak punya mobil.

4 thoughts on “Menabrak Kangguru di Australia

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s