Hari-hari Terakhir Gadis Jeruk


Waktuku di Australia hampir berakhir. Sesuai rencana semula saat aku kembali Juni lalu, aku akan kembali ke Indonesia melalui Melbourne. Jadi, kucatat sepekan terakhir bekerja di South Australia sebelum bergeser ke Victoria.

Rabu, 28 September 2016. 

Paringa. Malam.
Di luar hujan deras. Badai menghajar Paringa. Tak ada listrik sejak sore tadi. Dus, tak ada kegiatan memasak kali ini karena kompor di kabin-kabin menggunakan listrik alih-alih gas. Untuk menggunakan kompor gas di ruang barbekyu aku terlalu malas sebab ada angin kencang dan hujan yang harus diterabas.

Badai di Paringa

Beberapa teman asik bermain mahjong dengan penerangan senter yang diplester di langit-langit kabin. Suara-suara bersahutan dalam tiga bahasa: Mandarin, Inggris, dan Indonesia. Kadang tidak nyambung tapi semua santai saja.

Aku baru menghabiskan makan malam berupa mi instan yang kumasak di kompor kemping milik teman serumah. Beberapa senter sudah hilang dayanya. Jadi kunyalakan lilin aroma yang diberikan Tamara sebagai hadiah perpisahan. Hadiah yang secara tak terduga…berguna.

Ini pekan utuh terakhirku di Renmark Paringa, South Australia. Dalam beberapa hari, jabatan gadis jeruk akan kutanggalkan. Aku akan berkemas, menuju Melbourne lalu kembali Indonesia.

Tak perlu kuulangi betapa waktu tergesa berlari. Terlalu banyak hal terjadi belakangan. Yang kalau dikompilasi, mengalahkan perubahan-perubahan hidup yang kualami selama tiga tahun di Jakarta. Tentu saja tak bisa aku sebut satu-satu karena bisa jadi setebal buku.

Salah satunya, pindah kembali ke backpackers. Untung kali ini sudah tak terlalu padat. Aku bahkan menempati satu kamar untukku sendiri. Dua teman lain di kamar berbeda. Sesi kerja mereka juga berbeda. Jadi aku memiliki kabin untukku sendiri setiap kali. Tak perlu antri masak, tak perlu antri mandi. Tidak buruk. Tapi aku merindukan halaman belakang rumah Fiona dan anjingnya, Bella.

Kamis, 29 September 2016. 

Paringa. Subuh.
Listrik di Paringa sudah ada. Tapi setiba di pengemasan di Murtho, keadaan masih gelap. Wah…alamat tidak kerja. Tapi tidak apa, aku jadi bisa meneruskan tulisan ini.
Paringa, 30 September 2016
September berakhir. Waktunya menghitung mundur dua belas hari menuju kepulanganku ke Indonesia. Aku berencana memberikan album foto kenang-kenangan untuk keluarga asuhku yang terdahulu. 

Dalam beberapa hari aku akan mengakhiri kerjaku di pengemasan jeruk. Yah, siapa sangka empat bulan aku bisa bertahan? Dari makhluk malam jadi orang pagi. Aku masih mengantuk setiap hari. Tapi aku jadi mengenal lebih banyak orang, tahu lebih banyak seluk-beluk pengemasan jeruk.

Sabtu, 1 Oktober 2016

Renmark. Malam.
Aku tidak suka hari ini. Perpisahan yang lain lagi dan kali ini yang terberat untukku. Lucy dan Francesca. Perempuan Inggris dan Italia yang sangat aku sayangi di sini. Mereka adalah rekan kerja dan teman yang hangat, peduli dan bisa diandalkan. 

Ingatkah? Francesca yang memberiku mobilnya saat tahu Oppa mogok dan tak meminta ganti uang. Lucy selalu memberiku pelukan terhangat yang bisa diberikan seorang teman. Keberadaan mereka membuat sebagian besar saat kerjaku di sesi malam menyenangkan dan menenangkan.

Minggu, 2 Oktober 2016

Murtho. Pagi.
Sebagian besar pekerja mengambil hari liburnya sekalian jalan-jalan. Tapi aku menerima tawaran Avril untuk bekerja di hari Minggu sebagai pengganti Senin (3/10) yang merupakan hari libur negara bagian South Australia. Waktuku sudah semakin sedikit dan aku ingin menyelesaikan kewajibanku pada ibu.

Bekerja dengan bayaran per jam memang menggiurkan. Tapi kalau orang mengira aku menimbun uang, salah besar. Biaya hidup di Australia juga tinggi dan masih banyak masalah terkait mobil yang menguras isi dompetku. Aku juga bukan tipe yang berhemat sangat. 

Lagipula, aku meminjam uang ibuku untuk menuju Australia. Meski tanpa bunga dan tenggat waktu, hutang adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Tak peduli sedekat apapun kita pada pihak pemberi pinjaman. 

Maka, setelah Australia aku bakal memulai menata lagi hidup di Indonesia. Tak penting di mana, karena geografis tak pernah jadi masalah bagiku. Aku mudah beradaptasi dan lebih tahan banting dari yang kuperkirakan. Setahunku di Australia membuktikan itu dan mengajarkan banyak hal. 

Pemandangan yang menyambut tiap pagi sebelum kerja


Senin, 3 Oktober 2016

Mildura. Siang.
Perjalanan terakhirku ke Mildura. Kali ini mengantar Francesca (Cesca) untuk naik bus ke Melbourne. Kami menumpang mobil Lucy yang sudah dibeli dan akan dikemudikan Francesca (yang lain) bersama Mitsu-san. Mereka berempat (dan Lucy) adalah teman baik sejak tahun lalu.

Ingat pepatah “hidup adalah rentetan peristiwa yang tak bisa diduga” (ini karanganku saja)? Well, terjadi juga pada Cesca. Dia belum memesan tiket bus karena saat ia telepon, tiketnya masih banyak dan dia sibuk dengan banyak hal. Lalu waktu kami ke konter…semua sudah terjual!

Jadi, Cesca harus menghabiskan semalam di Mildura dan mengejar bus keesokan harinya. Yah, akupun akhirnya mendapat kepastian bahwa aku harus menempuh perjalanan bus pula. Tapi lewat Adelaide. Tak ada yang bisa kuminta tolong mengantar ke Mildura di hari biasa. Tidak apa, begitulah resiko pejalan solo :) Setidaknya, keputusan apapun lebih mudah karena hanya perlu berdiskusi dengan diri sendiri.

Selasa, 4 Oktober 2016

Murtho. Pagi.
Hari ini aku kerja lagi. Sudah kuniatkan akan memberitahu Avril atau Chris, supervisor sesi pagi bahwa lusa aku tak bekerja di pengemasan jeruk lagi.

Semua tiket bus sudah kupesan. Dari Renmark ke Adelaide, lalu Adelaide ke Melbourne. Total waktu tempuh 15 jam dengan sedikit waktu luang di Adelaide. Roy, teman sesi malam dan sekabin bersedia mengantarku ke terminal. “Bangunkan saja kalau sudah waktunya,” katanya. Okelah.

Saat kuinformasikan bahwa aku tak lagi bekerja lusa, Chris bertanya “apa kamu akan kembali musim tahun depan? Oh aku ingin sekali, kataku, tapi aku tak punya visa tahun kedua seperti kebanyakan pejalan Eropa. “Well, that’s bad,” sahut Chris prihatin. 

Yah, buatku, satu tahun terlalu sebentar, tapi dua tahun mungkin berlebihan. Aku punya sekian banyak tujuan perjalanan yang tak melulu di negara koala.

Sebagai pekerja kasual, aku bisa saja pamit tak bekerja lagi semalam sebelum harinya. Tak perlu dua pekan pemberitahuan atau bahkan sebulan. Sebagai pekerja yang dibayar per jam, aku juga bisa didepak sewaktu-waktu. Cukup adil kan? Begitulah.

Rabu, 5 Oktober 2016

Murtho. Pagi.

Hari terakhir.
Aku tak yakin apa yang kurasakan sekarang. Tentu saja, ini masih pagi. Terlalu mengantuk untuk merasakan apapun. Tapi aku sadar betul, setelah hari ini, aku tak lagi jadi gadis jeruk.

Pabrik pengemasan jeruk tempat bekerja 4 bulan di Riverland

Akan kuucap selamat tinggal pada jalan Murtho yang kulalui setiap hari. Pada ribuan jeruk yang kuamati sejak pagi. Pada sungai Murray yang menjadi inti kehidupan Riverland.

Walau hari terakhir, aku tak bekerja penuh hari. Aku memutuskan pulang awal naik taksi. Sombong sekali :p Tapi bahkan di kota sepi, armada taksinya keren sekali. Bisa bayar pakai kartu debit, mobilnya besar untuk tujuh orang dan pengemudinya menggunakan perangkat tanpa kabel untuk komunikasi.

Aku menyelesaikan proses berkemas, menemui pengelola hostel untuk pengecekan terakhir dan mendapat uang jaminan kembali, mengumpulkan barang untuk didonasi, dan lain-lain. Padat. 

Aku juga menyempatkan perpisahan sederhana bersama teman-teman Indonesia dan teman kerja yang cukup dekat. Tak ada pesta karena hari biasa, semua orang bekerja. Tapi tidak apa.

Kamis, 6 Oktober 2016

Renmark. Pagi.
Aku terbangun jam 6.25, lima menit sebelum alarmku berbunyi. Segera aku bersiap dan membangunkan Roy yang tertidur di depan televisi. Kudorong koper dan ranselku keluar. Roy membantuku mengangkat ke mobilnya. Kami menuju pusat informasi Renmark di kota.

Busku berangkat 7.30 dan aku segera mengonfirmasi kehadiran. Masih ada waktu 15 menit, aku menyempatkan membeli kopi. Terlalu mahal untuk kopi yang tak enak dan encer. Tapi ya sudah.

Bus melaju melewati jalan yang sama dengan waktu kedatanganku empat bulan lalu. Sembari membuang pandangan ke jalan, kuucapkan selamat tinggal pada hal-hal yang sudah familiar.

Pada pepohonan serupa brokoli dan rerumputan tinggi sepanjang jalan. Pada tanah kemerahan yang merupakan ciri khas Australia. Pada deretan pokok anggur yang rapi berjajar. Dulu masih kering kecokelatan kini hijau bersemi. Pada pohon-pohon jeruk yang masih menyisakan beberapa butiran kuning di dahan. Sebagai gadis jeruk aku bahkan tak pernah menyentuh pohon jeruk.

Baiklah, selamat tinggal Riverland. Secara tak terduga hidup membawaku bertemu denganmu. Sampai jumpa lain waktu. Terima kasih.

Pagi di Renmark Riverfront

*catatan tambahan:

Siapa sangka aku berakhir menyetir bersama Kelly, teman asal Taiwan, dari Adelaide ke Melbourne dan sekarang kami melakukan perjalanan ke Great Ocean Road. Tiket bus hangus. Ahahaha

One thought on “Hari-hari Terakhir Gadis Jeruk

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s