Negeri Keponesia


Sudah sepekan saya meninggalkan Australia. Visa berlibur dan bekerja saya sudah habis masa. Jadi, walaupun saya (misalnya) masih ingin merasakan jadi warga negeri koala dan bekerja di sana, pintu imigrasinya sudah tertutup. Kalau coba-coba dan ketahuan, bisa didepak sama Om Turnbull hahaha! 

Berminggu-minggu sebelum hengkang dari Australia, saya sudah menyiapkan diri untuk menghadapi serangan pertanyaan. Hey, maklum saja, saya akan kembali ke Keponesia, eh, Indonesia. Negeri tempat segala hal ditanya. 

Jenis pertanyaan yang diajukan macam-macam, mulai dari yang umum sampai kategori pribadi. Well… Lebih seringnya sih yang bersifat pribadi. Kadang terlalu pribadi. Sekitar 96 persen lah. 

Baru juga berapa jam saya mendarat di Bali, saya sudah dapat berondongan pertanyaan macam “Berarti mbaknya harusnya sudah punya anak ya?” / “Memang belum menikah mbak?” / “Wah dari Australia? Cari bule ya?” dannnn seterusnya. 

Saya sih karena sudah memperkirakan hal ini, maka jawabnya juga asal saja. Suka-suka. Sekeluarnya di mulut apa. “Oh,  harusnya sih sudah manajer pak, tapi masih suka jalan-jalan,” “Bukan bule, saya cari koala,” dan seterusnya. 

Saya sih maklum. Kadang, di kepala saya juga bermunculan pertanyaan-pertanyaan jika saya berkomunikasi dengan orang lain. Pertanyaan mulai dari yang dalam sampai yang dangkal. Nah, yang dangkal sejengkal ini kadang sekadar usil saja sifatnya. Bisa saja karena untuk memuaskan rasa ingin tahu atau terbersit rasa iri. 

Tapi, bukan berarti semua jenis pertanyaan ini bisa dan boleh saya tanyakan. 

Katakanlah saya orang yang sangat reserved alias tertutup, penyendiri,  pendiam atau sangat menjaga informasi yang sifatnya pribadi. Saya merasa tidak nyaman menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Orang bilang, perlakukanlah orang lain seperti kamu ingin mereka memperlakukan dirimu. 

Saya selalu berusaha menahan lidah saya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan macam itu. Kalau sangat penasaran, saya biasanya mengajukan dengan kalimat permintaan izin seperti “Maaf, kalau boleh saya tahu, apa alasan kamu ABCD.” yang sebisa mungkin jarang saya lontarkan. Toh, saya tidak bisa mengikat lidah orang lain untuk melakukan hal yang sama. 

Ini membuat saya sedikit kangen Australia. Yah, saya tidak bisa bilang kangen Jepang atau Korea karena belum sampai sana :p 

Saya menyukai ruang pribadi saya selama di Australia. Personal space. Hal langka yang bisa saya harapkan di Keponesia, di mana masyarakatnya adalah jenis komunal. Para individu melebur jadi satu dan saling mencampuri urusan. Ranah pribadi dan ranah komunitas tak punya batas jelas. Kabur. 

Di satu sisi, hal ini adalah bahan percakapan, menunjukkan kepedulian, kebersamaan, dan setidaknya kalau kamu kenapa-kenapa atau mati, kabar cepat tersebar. Waktu tinggal di Renmark, walau ada tetangga di seberang jalan, kalau saya terpeleset jatuh lalu pingsan mungkin baru berhari-hari kemudian ketahuan. Tapi di sisi lain, ke-kepo-an alias keingintahuan yang sifatnya dangkal atau usil tadi sungguh menyebalkan, lho. 

Soalnya, memangnya apa manfaatnya untuk Anda jika tahu informasi-informasi pribadi macam itu dari orang asing yang kebetulan duduk berhadapan di kereta menuju Jakarta? Atau selagi menunggu bus kota. Atau di ruang tunggu dokter gigi. 

Kadang pertanyaan-pertanyaan kepo itu ditambahi opini pribadi macam “Wah harusnya kan begini begitu,” “Lho, kalau begitu kan jadinya ini itu,” dan seterusnya. Ewh… Andai saya bisa pasang ekspresi wajah standar (tersenyum sopan dan tetap ramah tanpa terpancing membuat keributan) selama diinterogasi. 

Selain jawaban asal dan cengiran basi, saya sih menganggap ini latihan meditasi. Tarik napas. Buang napas. Dan berharap tangan tidak tergerak untuk mengkitik-kitik si penanya sampai mati. 

One thought on “Negeri Keponesia

  1. (((Cari koala))) hihihi..

    Etapi bener sih mba, aku juga rada keganggu sama yg kepo tentang kehidupan pribadi, apalagi sama yg belom deket.

    Kalo sama temen deket mah apa2 juga diceritain, gak perlu di kepo2in.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s