Pekerja Murah Itu Berlabel “Magang”


Sumber: beyondtheu.com
Sumber: beyondtheu.com

Sejak kembali ke kolam pencari kerja beberapa pekan terakhir dan mengamati aneka tawaran pekerjaan yang beredar, saya cukup bengong juga melihat banyaknya perusahaan yang mencari interns atau pekerja magang. Kebanyakan sih, perusahaan pionir alias start up. Kalau dibanding saat saya harus berpayah-payah mencari tempat magang saat kuliah dulu, situasi saat ini jelas menguntungkan para pelajar/mahasiswa yang mencari tempat praktek kerja lapangan. Betul?

Bisa ya, bisa tidak.

Karena, pekerjaan magang untuk posisi pekerjaan apapun sebetulnya bertujuan untuk memberi pelatihan (training) bagi pelajar/mahasiswa/lulusan baru yang belum memiliki pengalaman kerja formal. Mereka diberi wadah dan kesempatan untuk merasakan bekerja tanpa tekanan sesungguhnya. Tanpa target penjualan, tanpa revisi bahan dan tanpa tenggat waktu yang rigid. Sebagai kompensasi, perusahaan mendapatkan tenaga kerja yang murah namun berbatas waktu. Biasanya hanya beberapa bulan saja. Simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan, seharusnya.

Sayangnya, menurut saya, situasi ini cukup bikin prihatin juga. Pertama, hal ini mengindikasikan rendahnya kemampuan dunia usaha untuk mengupah pekerja sesuai standar. Seperti kita tahu, setiap pemerintah daerah telah menetapkan upah minimum rakyat (UMR) sesuai kajian wilayahnya. Untuk DKI Jakarta misalnya, UMR sekitar Rp 3,5 juta sementara DI Yogyakarta sekitar Rp 1,5 juta. Walau terlihat lebih besar, namun nominal UMR DKI Jakarta tersebut cukup pas-pasan bagi karyawan yang memiliki pengeluaran rutin sewa tempat tinggal, transportasi dan konsumsi di kawasan ibukota. Terlepas dari pengeluaran gaya hidup.

Gaji karyawan umumnya masuk komponen biaya operasional tetap perusahaan. Apalagi sistem pengupahan di Indonesia umumnya menggunakan gaji bulanan dan bukan upah per jam atau per pesanan. Sementara, kebanyakan perusahaan pionir biasanya bermodal sedang, bukan miliaran apalagi triliunan. Jadi terbayang kan, perusahaan yang baru merintis jalannya di sebuah bidang usaha, belum dapat banyak klien atau pesanan, sudah harus menggaji rutin karyawan. Misalnya ia memiliki total biaya operasional rutin per bulan sebesar Rp 25 juta, sementara pemasukan tahun-tahun awal bervariasi mulai dari Rp 0-40 juta per bulan, bisa dipastikan ruang gerak si perusahaan sangat sempit. Masih mending dapat Rp 40 juta, kalau berturut-turut Rp 0 juta? Sesaaaakkkk.

Kedua, bisa jadi ada fraud di situasi ini. Maaf jika terasa kasar, namun saya yakin banyak perusahaan yang sebenarnya cuma ingin mendapat tenaga murah dengan cara mudah. Memang benar, untuk posisi non-kunci yang tidak memerlukan keahlian dan kemampuan spesifik (namun tidak mungkin dihilangkan), mempekerjakan pekerja magang lebih menguntungkan (kedua pihak). Tidak perlu komitmen jangka panjang dan mudah berganti (atau diganti). Cuma, situasi jadi salah kaprah ketika pekerja magang diberi posisi non-supervisi. Misalnya, posisi di mana pekerja magang harus bekerja mandiri atau tanpaΒ  pengarahan atasan. Kenapa?

Ya kembali lagi ke esensi magang tadi yang merupakan pelatihan. Artinya, perusahaan punya kewajiban melatih anak magang atau memberi contoh bagaimana seharusnya pekerjaan itu dilakukan.

Contohnya, saat dulu saya magang jadi reporter di sebuah media nasional. Selama magang itu, saya akan disuruh redaktur pembimbing untuk mengikuti reporter media itu sebagai tandem. Saya ikut meliput dan menulis berita bersama reporter tersebut, tapi hasil kerja saya belum tentu dipakai. Kenapa? Ya karena saya masih belajar. Bisa jadi tulisan saya kurang nilai berita, kurang akurat, kurang begini, kurang begitu. Lalu, saya bisa minta masukan redaktur atas tulisan saya.

Karena berstatus magang, saya tidak diwajibkan setor berita seperti para reporter “asli,” saya juga tidak ditagih redaktur. Tapi kalau saya ingin laporan saya mendapat kesempatan dimuat, maka saya harus mengirim sebelum tenggat waktu. Ya iyalah!

Tugas utama saya sebetulnya cuma mengamati kerja para reporter sungguhan itu. Tapi saya ingin tulisan saya layak diterbitkan, makanya saya terus mengirim laporan dan minta masukan. Pada saat tulisan saya dimuat, kedua pihak mendapat keuntungan. Si media dapat bahan halaman, saya dapat pengakuan atas usaha saya.

Tapi, perusahaan yang fraud bakal menyuruh anak magang meliput langsung ke lapangan, menulis laporan, dan melakukan setiap tugas yang harus dilakukan seorang reporter profesional namun perusahaan itu tidak mempekerjakan reporter lain. Jadi, alih-alih belajar, anak magang ini malah jadi bekerja betulan. Lho, memangnya kenapa? Kan si anak magang malah dapat pengalaman berharga? Iya, tapi upahnya yang tidak sepadan. Bukannya anak magang hasil kerjanya belum tentu bagus? Perusahaan juga bisa rugi kan? Nah ini. Perusahaan apa yang mau jualan barang tidak bagus? Tambah lagi, label magang ini sudah pasti membebaskan perusahaan dari kewajiban pokok seperti tunjangan kesehatan, asuransi tenaga kerja, dana pensiun dan sudah pasti: upah minimum.

Lalu bagaimana? Ya bagi adik-adik mahasiswa atau lulusan baru yang sedang mencari tempat magang, sebaiknya hindari magang di perusahaan yang tidak memberi kompensasi sepadan atau memberikan ilmu yang kalian butuhkan. Mencari tempat magang memang merepotkan dan penuh persaingan, tapi jika kalian bisa dapat pengetahuan dan keahlian baru, juga menggali potensi diri, hal itu jauh lebih memuaskan ketimbang sekadar dimanfaatkan. Eh, tapi kalau cuma mau “yang penting magang” tidak peduli di mana dan dapat ilmu apa, ya silahkan juga. Sudah pada gede kan?

Iklan

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s