let it go

Seni “merelakan pergi”

Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan? Continue reading

Di Ujung Musim

Kuncup merah jambu mulai bermekaran dari ranting-ranting gundul tanpa daun di kebun sebelah rumah. Itu bunga plum, kata Fiona, ibu kos. Sementara di kejauhan, tampak hal senada terjadi di deretan pepohonan dua ratus meter dari rumah. Putih warnanya. Kalau itu, kata Fiona, cikal almond

Di berbagai sudut Riverland (Renmark, Paringa, Murtho dan seterusnya), menjelma hamparan pohon berbunga mirip musim mekar sakura di Jepang.

Ujung kaki musim semi sudah menyentuh bumi…

kuncup bakal plum

Tak terasa, karir saya sebagai gadis jeruk sudah hampir berakhir. Kurang dari 50 hari, saya akan angkat kaki dari negara ini. Menyudahi pengembaraan setahun di negara koala. 

Sama seperti musim dingin akan segera diusir musim semi, musim jeruk juga akan segera selesai. Teman-teman sekerja, satu per satu mulai berpamitan. Melanjutkan perjalanan ke sisi lain dunia, atau pulang ke negara asal. Saya patah hati berkali-kali. Dan ini bukan tentang romantika seperti banyak orang kira. Bukan.

Tadinya, saya berencana mengakhiri perjalanan setahun saya di Australia dengan bekerja saja. Kali ini fokusnya memang mau mengembalikan dana pinjaman lunak dari ibu tercinta. Tidak terpikir lagi untuk menjalin relasi dan bertekad menjauhi segala drama. Biar saja apapun terjadi, saya akan mengandalkan diri sendiri. 

Tapi siapa sangka, cuma beberapa bulan saja, saya bersentuhan dengan orang-orang yang menarik saya untuk membuka diri. Menjalin pertemanan. Suasana kerja yang menyenangkan, makan bersama, eksplorasi kota sekitar, hingga acara-acara di luar kerja yang akrab dan santai. Yang mau tak mau, saat perpisahan terjadi, ada yang hilang dari hati.

Saking terhanyut rasa melankoli yang menyebalkan, Kylie, ibu asuh Australia saya sampai turun tangan. Pada saat saya mewek karena baru mengantar teman pulang Indonesia duluan (sebelumnya dua teman asal Inggris Raya juga pamitan), Kylie mengirim foto cowok macho. Dasar.

Saya bilang, itu cukup menghibur soalnya saya lagi sedih. “Aku tahu ini resiko traveling, selalu akan ada perpisahan. Harusnya aku sudah terbiasa. Tapi tiap kali saat itu tiba, tetap sedih rasanya,” adu saya.

Yang kemudian dibalas Kylie, “My sister always said to me. Your heart breaks and you deal with it or you choose to never meet these people. I know how you feel. It was how I felt when I left Darwin. It’s how I will feel when you leave Australia.”

Sialan. Makin mewek kan!

Kylie punya kebijaksanaan dan kebaikan yang terlalu hangat untuk ditolak. Kata-kata itu seperti jari yang menyentuh dagu saya untuk mendongak memandang langit.

Saya membalas, I’d rather to go through thousand heartbreaks than never meet these people…” Saya memilih untuk patah hati berkali-kali ketimbang tak pernah bertemu orang-orang luar biasa itu. 

Dengan perubahan-perubahan tak terduga, tak ada yang tahu kapan saya harus meninggalkan Renmark. Kota kecil yang kalah ramai ketimbang Wonosari, Jogja :P 

Tapi, saya merasa bersyukur, waktu dan takdir membawa saya ke sini. Pemberhentian terakhir untuk menutup satu musim yang segera selesai. Mirip satu episode mimpi yang panjang. Diingat hingga saat sadar.

Apa yang nanti terjadi, terjadilah…

Senjakala di South Australia

Nge-bengkel di Australia

Saya punya dua mobil sekarang. Satu Oppa, satu lagi Ford Futura hijau tosca keluaran 1995. Sepuluh tahun lebih muda dari Oppa, transmisi otomatis dan interior lebih mewah. Wih, Elga kaya dong ya? Di Australia, mobilnya dua, Ford pula salah satunya! Tunggu sebentaaar, ini panjang ceritanya hahaha!

Ini si Ford 1995 tanpa nama “pemberian teman”, adik Oppa

Pertama, saya harus ingatkan, punya mobil, apalagi yang sudah tua, berjarak tempuh ratusan ribu kilometer, entah sudah pindah tangan berapa kali, di Australia pula itu…mahal! Kalau tidak terpaksa, mending naik transportasi publik atau jalan kaki aja, kak!

Sayangnya, di kota sepi macam Renmark, moda transportasi yang memberi keleluasaan beraktivitas adalah mobil pribadi. Bus? Ada sih. Dua kali sehari, rute ke Adelaide tapi hihihi!

Seperti yang sudah saya ceritakan, Oppa sudah tua dan sakit. “Mirip aku kalau pagi, yang sakit punggung lah, yang sakit kaki lah,” ujar Mel, si mekanik tua Italia. Untuk kesekian kali, Oppa bikin masalah. Dan kali ini, saya menyerah.

Pada satu pagi, dini hari, Oppa mogok setelah distop polisi. Iyap! Saya dipinggirin polisi lagi untuk ketiga kali! Tapi enggak sempat nawarin kopi kali ini :p Padahal, paginya Oppa baruuuu saja saya ambil dari bengkel lantaran jalannya tersendat-sendat.

Bahkan saat saya bawa ke bengkel, mesin Oppa sempat mati. Di. Tengah. Jalan raya.

Itu ngeri lho. Karena saya tidak seharusnya berhenti di tengah persimpangan jalan yang tidak ada ruang berhenti. Untung para pengendara di sekitar saya cukup sabar dan tidak membunyikan klakson (bukan Jakartans, saudara!) Plus, bengkelnya tinggal beberapa jengkal. Nyaris saja saya harus turun dan dorong Oppa menyeberang!

Ongkos perbaikan Oppa kali ini nyaris sama dengan sebelumnya. Lalu, biarpun Mel mekanik yang baik dan pengertian, saya jengkel dengan cara dia langsung memperbaiki Oppa dan memberi saya tagihan. Lah, saya kan sudah minta untuk cek dulu saja. Lalu kasih tahu berapa kisaran biayanya baru saya putuskan mau apa. Ini sih kayak orang enggak dikasih pilihan mau amputasi lengan atau tidak, tahu-tahu dioperasi dan ditagih bayar. Kesal.

Oya, biaya bengkel di Australia bisa bikin sakit lambung dan migrain kalau dirupiahkan. Biaya tenaga mekanik (labour hire) dihitung per jam mulai dari AU$ 70 biasanya. Belum ongkos suku cadang atau lain-lain yang perlu diganti. Untuk minyak pelumas saja, satu jenis bisa minimal AU$ 8, padahal mobil butuh bermacam cairan mulai dari cairan kemudi, cairan pendingin, pelumas rem, pelumas mesin… Nah, hitunglah sendiri.

Singkat cerita, karena sudah diperbaiki, saya bawa deh si Oppa jalan-jalan sebentar. Enggak sengaja lewat jalan tanpa aspal. Eh, sengaja ding. Niatnya ke pinggir sungai cuma tidak lewat jalan biasanya.

Menyadari jalan kerikil panjang itu terlalu bumpy, saya putuskan balik kucing. Di sinilah si Oppa mulai berulah. Suara mesinnya seperti orang tersedak sesuatu. Bleppp bleppp brrrmmm. Tapi saya masih percaya diri membawanya ke rumah teman bersama beberapa teman lain yang ikut menumpang. Agak cemas juga sih…

Lalu saya pergi berburu foto langit berbintang, Oppa saya tinggal di tempat teman. Saya minta teman membawa mobilnya karena saya tidak yakin dengan kondisi Oppa. Pulang dari berburu langit berbintang hampir 3 jam kemudian, saya bercanda soal distop polisi pada teman saya. Yang para pembaca budiman bisa tebak lanjutannya :p

Saya terpaksa meninggalkan Oppa di pinggir jalan dan pulang jalan kaki. Jam 4 dini hari! Zzzzz!

Lusanya, Mel membantu saya menderek Oppa ke bengkelnya sementara saya menumpang mobil teman untuk berangkat kerja. Selama beberapa hari berikutnya saya bahkan meminjam mobil teman. Haduh, terpujilah kebaikan kalian.

Sebelum dibantu derek, Irham dan Lylis (sesama teman WHV Indonesia) sempat membantu saya untuk mencoba jump start Oppa dengan mobil mereka yang…

Berakhir dengan surat tilang polisi karena Irham lupa bawa surat izin mengemudi. Tepat saat kami menepi mau menghadapi Oppa yang ada di pinggir jalan, mobil patroli berhenti tepat di belakang kami. Mereka sampai menyuruh Irham mengambil SIMnya di Paringa (menghabiskan 30menit perjalanan pulang-pergi) dan tetap memberi surat cinta denda pada Irham. Pada titik ini saya cuma ingin teriak histeris. Kenapaaaaaaaa???

Dengan segala situasi tak terduga, urusan mobil dan biayanya ini betul-betul bikin sakit kepala. Nah, di sinilah teman saya, Fran, berperan. Francesca, adalah rekan kerja senior saya di Murtho. Orang yang sangat tepat waktu, cerdas dan rekan kerja yang sangat bisa diandalkan.

Ngobrol-ngobrol di antara dia mengganti stiker mesin jeruk saya, dia bilang ingin menjual mobilnya lantaran tak pernah ia gunakan. Fran sudah punya tumpangan dari teman serumah dan mobilnya butuh ganti aki alias batere dan registrasinya hampir mati. “Aku enggak mau keluar ratusan dollar untuk batere dan rego sementara aku cuma tinggal beberapa minggu saja di sini,” katanya.

Cling! Tercetus ide, untuk membeli mobil Fran saja kalau sesuai harganya. Oppa sudah siap masuk peti. Tak terduga, Fran bilang, “apa aku berikan saja untukmu ya? Tapi aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa.” HAH?

Fran melanjutkan, ia akan mencoba menjual lebih dulu mobilnya. Jika dalam 2-3 hari mobil tak terjual, mobil itu jadi milikku. Alasannya, Fran tidak ingin merasa bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu padaku karena mobilnya. Baiklah, aku setuju.

Beberapa orang menghubungi Fran dengan berbagai ketentuan. Ada yang minta Fran belikan aki dulu untuk tahu mobilnya jalan atau tidak, baru memutuskan. Yang lebih aneh, ada yang mau datang dari Adelaide untuk melihat mobil itu. Halooo, mobil ini saja dari Adelaide! Pada saat itu, saya tidak tahu apa jenis mobil Fran. Pokoknya yang penting bisa jalan.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya yang mendapat hak mobil itu. Kami bertemu di bengkel Mel (saya datang sangat terlambat karena jalan kaki dari rumah. Rasanya bersalaaaah banget!) Lalu bersama kami ke Berri untuk memperbarui registrasi. Semua biaya saya yang tanggung. Lalu dibagi bersama Citra dan Indah.

Saya anggap ini mobil pinjaman. D akhir masa tinggal nanti, rencananya mobil ini saya jual untuk balik modal. Baik untuk saya, Citra dan Indah, maupun untuk Fran juga. Karena toh sebetulnya dia berhak menjual dan mendapatkan pembayaran atas mobil yang dia beli beberapa bulan silam ini.

Lalu Oppa bagaimana? Saya sudah siap melepas Oppa. Ibarat transaksi perdagangan saham, apa yang saya lakukan adalah cut loss. Mencegah kerugian lebih dalam. Ya sudahlah ya…

Yang tidak terduga, dulu saat masih mencari mobil untuk dibeli, saya sempat mempertimbangkan membeli Ford karena mesinnya berpenggerak belakang (rear-wheel drive). Eh, siapa sangka saya bakal sempat mengemudikan mobil ini, di Australia pula!

Oya, jangan kira mobil ini baik-baik saja. Beberapa hari pertama, selalu ada asap keluar dari kap depannya. Rupanya saya memang ditakdirkan berurusan dengan bengkel. Semua tabung cairan sudah saya isi. Akhirnya setelah sekian kali, saya buka kap saat masih berasap. Nah lo! Asapnya muncul dari dekat pipa cairan setir. Cairan itu bocor dan mendarat di pipa pembuangan makanya berasap. Pantas, baru saya isi penuh kemarin, hari ini sudah nyaris kering. Ahhhh!

Untungnya (setelah sempat beli cairan “penambal”), ketahuan bahwa mobil ini perlu ganti satu komponen supaya tidak bocor. Kali ini tidak terlalu mahal, tapi semoga setelah ini tidak ada edisi lanjutan ke bengkel lagi! Lelaaaah!

Momen terakhir bersama Oppa. Selamat tinggal…mobil pertama.

Makhluk Malam

Sejak menjalani pekerjaan sebagai gadis (penyortir) jeruk, kebiasaan hidup saya berubah 90 derajat. Biasanya saya memang kuat begadang sampai malam namun tetap bangun pagi (atau siang, tergantung situasi). Kini saya menjalani kehidupan nokturnal.

Rupanya cukup butuh beberapa minggu untuk mengubah kebiasaan hidup seseorang dari pagi ke siang menjadi siang ke pagi. Saya menjelma jadi makhluk malam.

Saya terbangun saat setiap orang sedang pulas tidur. Contohnya ya ini, lagi siaran iseng gara-gara tidak bisa tidur. Padahal ini tadi hari libur. Jam 9 malam saya sudah mapan di dipan, bercita-cita bangun pagi lalu sarapan scones yang saya bikin tadi dan lalala lain. 

Jam 11 malam saya terbangun. Melek. Segar bugar.

Lalu di sinilah saya, jam 2.30 pagi berjingkat ke dapur merebus mi. Kasihan yah. Apa boleh buat, biasanya tidur jam 4 atau 5 dini hari sih. Jadi tidur dua jam tadi? Mungkin dihitung tidur siang kali ya hahaha.

Masalahnya, pola makan saya jadi aneh dan mungkin tubuh saya bingung. Ini waktunya sarapan atau makan siang? Mi rebus ini kudapan atau makan malam? Tapi tadi jam 6 malam saya sudah makan kentang dan steak. Itu dihitung makan siang? Lalu cemilan jam 2 siang tadi sarapan? Aduhhh pusing ini badan, eh, kepala!

Tidak enaknya jadi makhluk malam, hidup seperti dalam kelam. Mau jalan-jalan ke luar, sudah gelap. Mana suhu musim dingin bikin badan beku. Mau nonton video lucu, enggak bisa ketawa keras-keras karena bakal ganggu teman serumah. Tidur juga terganggu karena saya mudah terbangun. Mulai tidur jam 5 pagi, terkaget bangun jam 10 pagi karena teman serumah mulai beraktivitas.

Mereka sering lupa, kalau di rumah ada satu makhluk nokturnal yang bercita-cita tidur 8 jam juga. Ah…cita-cita mulia. 

Gadis Jeruk Pindah Rumah

Dalam kurun waktu 3,5 minggu di South Australia, aku mengalami lebih banyak perubahan ketimbang saat hidup 3,5 bulan di Victoria. Selain jadi gadis jeruk, punya Oppa, si Toyota Corolla 85, sekarang aku juga tinggal di kos baru. Yap, gadis jeruk pindah rumah.

Di postingan terdahulu, aku pernah bilang bahwa harga yang kubayar untuk tinggal si hostel backpacker di Paringa sepadan. Aku perlu meralat pernyataan itu. 

Kenyataannya, untuk 8 orang dewasa tinggal bersama di satu rumah dengan fasilitas yang ada, situasi bisa jadi terlalu riuh. Ini bukan lagi masa sekolah asramaku dulu walau dengan perbandingan jumlah orang yang sama.

Saat SMA, kami tak perlu masak makanan sendiri dan belanja sendiri. Kami tidak punya ritme kerja yang berbeda karena semua sama: sekolah di pagi hari, makan bersama, dan punya rutinitas yang sama. Lagipula kami masih remaja, tinggal bersama sekurang-kurang setahun lamanya (sebelum perpisahan kelulusan kakak kelas).

Lalu aku juga menyadari bahwa aku terlalu soliter untuk menoleransi terbatasnya ruang privasi. Aku butuh jarak dan ritme yang bisa kusebut “hidup”. Tinggal beramai-ramai dalam lingkup perjalanan aku tak masalah. Hidup bersama untuk jangka panjang itu yang masalah. Maka, aku pun mencari rumah baru.

Ada beberapa kamar disewakan di sekitar Renmark. Misalnya saja satu kamar untuk diriku sendiri, berbagi rumah dengan satu penghuni lain di kamar berbeda. Harga murah tapi tak berperabot. Heu, bisa repot cari kasur tiup dan tetek bengek penghangat agar bertahan di musim dingin.

Lalu, aku menemukan Fiona. 

Dia adalah orang yang paling merespon komunikasiku melalui sandek. Saat ia tak segera menjawab pertanyaan kapan aku bisa melihat kamar yang disewakan, aku menelponnya dan langsung merasa klik. Logat Australia. Ibu-ibu Australia asli.

Mungkin ini dinamakan insting bawah sadar, tapi aku mendapati diriku memiliki hubungan baik dengan ibu-ibu Australia tanpa bermaksud mendiskriminasi ras lainnya. Ada sesuatu tentang mereka yang membuatku nyaman: keterusterangan, sifat santai dan blak-blakan tanpa menyimpan gerundelan. Aku belajar lebih asertif tanpa jadi agresif dari sikap macam itu.

Saat aku ke rumahnya, aku adalah calon penyewa pertama. Sebelumnya ada beberapa orang juga tapi mereka batal menyewa lantaran tak dapat pekerjaan di sekitar Renmark.

Rumah Fiona adalah rumah kayu khas pedesaan Australia. Tua, berantakan tapi juga rapi. Tidak sempurna ala rumah majalah tapi sempurna bagiku lantaran meneriakkan makna homey.

Sofa tua di ruang televisi alias lounge room dibalut selimut tua dan ditaruh di atas karpet lawas. Foto-foto anak dan cucu Fiona terpajang berserakan. Dapurnya kecil dan sempit tapi apik. Kamar yang ditujukan untukku memuat tempat tidur ukuran single dengan selimut penghangat. Perabotan yang ada adalah lemari kayu dan meja kecil di sisi tempat tidur. Harga sewa tak jauh beda dengan hostelku sebelumnya. Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan.

Pada hari kepindahan, Fiona mengirimiku sandek yang menjelaskan ia sudah memasang tirai tebal di kamar dan membeli modem wifi. Dia juga menyediakan sumbat telinga.Fiona paham aku kerja malam. Perlu tidur hingga siang.

Saat aku datang membawa barang, ia sedang memotong rumput di halaman. “Aku kerjakan sekarang daripada besok mengganggu waktu tidurmu,” ujarnya ceria. Aku tersentuh. Di kamar, ia sudah menghamparkan selimut tebal. “Beritahu aku kalau kau kedinginan. Aku carikan selimut lagi,” imbuhnya.

Dan benar, esoknya aku bilang masih merasa dingin. Ia langsung memberikan selimut rajut warna-warni yang keren sekali. “Ini buatan nenekku, jadi umurnya sudah hampir 100 tahun.” Wah. Dia pasti bercanda. “Sungguh. Nenekku membawa ini dari Inggris saat ia berumur 80an.”

Aku tak pernah menanyakan usia Fiona, tapi kutebak sekitar 70an. Ia janda, putri tunggalnya hidup di Amerika Serikat dan ia punya cucu perempuan yang sekarang sudah remaja. Fiona juga tipikal ibu-ibu tua Australia: bawel. Hahahaha.

Ada banyak aturan di rumahnya. Tapi semuanya masuk akal dan beralasan jadi aku berusaha mengingat seluruhnya. Misalnya saja:

  1. Matikan lampu dan stop kontak bila tak digunakan. Rumah Fiona adalah rumah kayu maka rawan sekali kebakaran. Selain itu, hemat energi tak ada salahnya.
  2. Semua sisa makanan dan sampah organik dibuang ke toples khusus kecuali kulit jeruk. Fiona melakukan proses kompos di halaman belakang. Sesuatu yang kudukung sepenuh hati. Kulit jeruk bersifat asam dan antibakteri yang bisa awet dalam waktu lama dan malah merusak bakteri pengurai.
  3. Semua peralatan masak harus kembali ke tempat semula. Supaya orang lain yang mau pakai tidak bingung mencari alat dan menyiapkan masakannya.
  4. Pakai sandal khusus dalam rumah dan luar rumah. Supaya tidak membawa kotoran dan penyakit tentu saja.
  5. Dan masih banyak lagi lainnya hahaha. Tapi aku senang-senang saja.

Sejak tinggal di rumah Fiona, aku merasa jauh lebih waras. Bangun, aku bisa membuat teh atau jus jeruk dan roti panggang untuk membuka hari. Menikmati sinar matahari di halaman belakang yang berbatasan dengan kebun anggur tetangga.

Tapi masa-masa aku tinggal sendiri cuma bertahan 3 hari. Dengan cepat rumah itu terisi. Selain aku, kini ada empat sekawan asal Perancis dan aku berbagi kamar dengan seorang perempuan Taiwan. Aku masih harus menoleransi level berisik empat sekawan itu yang kadang kelewatan. 

Kebiasaan mereka yang selalu mandi lama cukup bikin jengah Fiona lantaran terbatasnya air panas. Mereka juga gagap budaya karena baru datang dari Melbourne yang gegap gempita. Tapi aku tak mau ambil pusing selama mereka tak menggangguku. Kulkas anak kos berbeda dari kulkas Fiona tapi ukurannya lebih besar dari kabin hostelku sebelumnya. Aku lebih leluasa menyetok bahan makanan dan barang.

Setidaknya, sisa masa tinggalku di Australia bisa kuhabiskan dengan tinggal di sebuah tempat yang terasa rumah. Tidak mewah, tidak megah, tapi memberiku kenyamanan yang ramah.

Lain kali kuceritakan khusus soal Fiona. Perempuan tua luar biasa.

beranda belakang rumah

Sampai jumpa.

Oppa, si Mobil Jeruk (2)

Selamat merayakan lebaran bagi teman-teman pembaca blog sekalian. Maafkan aku bila tulisanku menimbulkan sakit hati atau ketidaknyamanan. Mari kita lanjut siaran :)

Ceritanya, kemarin aku membawa Oppa, si mobil jeruk, ke tempat Mel Scidone, mekanik Italia yang direkomendasikan ibu kosku, untuk diperiksa. Sama seperti manusia, sesekali mobil juga perlu periksa kesehatan.

Puh. Alasan. Padahal sebetulnya ini gara-gara aku lupa mengonfirmasi kapan Oppa terakhir menjalani perawatan pada pemilik sebelumnya. Lalu, beberapa kali saat mengendarai Oppa, mataku terasa cukup pedih karena gas buang yang aku curigai bocor entah di mana.

Mel, lelaki tua berambut putih dengan perawakan ala Godfather itu menerima mobilku jam 10 pagi. “Nanti kutelpon kalau sudah ada hasilnya,” katanya sambil menerima kunci dariku.

Sekitar dua jam kemudian aku menerima pesan suara dari Mel yang memintaku menghubungi dia. “Sebaiknya kau ke sini karena terlalu panjang kalau kujelaskan lewat telepon,” ujarnya. Karena Fiona tak di rumah, aku berniat jalan kaki ke tempat Mel. Tak jauh. Tapi, ia mengirim pegawainya untuk menjemputku.

Seperti masuk ruang praktek dokter, Mel memintaku duduk dan menghadap buku catatan diagnosa Oppa. Mel menghadapku dengan wajah serius. Hasilnya?

Oppa sakit. Sangat.

Kabar itu tidak mengejutkan tentu.Saat membeli Oppa, aku sudah berjanji dalam hati takkan menjual Oppa saat masa tinggalku di Australia habis. Sebagai Toyota Corolla keluaran 1985, umur manusia Oppa mungkin setara kakek-kakek 70 tahun. Akan kutinggal di pinggir jalan atau kujual ke wrecker alias penerima mobil rongsok, janjiku setengah bercanda.

Tapi biar begitu, vonis Mel tetap membuatku sedih. Secara umum, semua suku cadang Oppa sudah sekarat. Radiator Oppa bocor dan pompa airnya sudah tak berfungsi normal. Aku harus ingat mengisi ulang radiator dengan air setiap pagi sebelum mengendarainya. “Kalau tidak, tamat sudah,” cetus Mel.

Mel bilang, seseorang mencopot penutup gas buangan Oppa dan menggantinya dengan pipa (sialan). Lalu karet rem sudah tak sempurna dan bla bla bla lain yang tak aku pahami sungguh. Halo, ini mobil pertamaku dan level pemahamanku pada mesin kendaraan roda empat masih di level playgroup.

Mel bilang, untuk memperbaiki Oppa perlu biaya besar. “Aku yakin kau takkan mau menghabiskan ribuan dollar untuk kendaraan murah ini,” katanya. Tentu saja! Mana mampu aku menghabiskan sebanyak itu? Aku hanya nyengir dan bertanya apa yang harus kulakukan agar Oppa masih bertahan setidaknya untuk 3 bulan. Bisakah dia kubawa ke Adelaide yang 250 kilometer jauhnya dari Renmark?

Tentu saja bisa, kata Mel. Kalau aku mau mengalami mogok di tengah jalan karena mesin Oppa kepanasan. Baiklah. Lupakan Adelaide. Mungkin nasib Oppa memang hanya membawaku ke radius maksimal 50 kilometer saja dari Renmark. Well, that’s not much really.

Lalu tadi siang aku membawa Oppa ke tempat Mel lagi untuk perawatan dan ganti oli. Mel berjanji menyelesaikannya dalam waktu sejam karena aku harus berangkat kerja.

Lima belas menit jelang waktu yang dijanjikan, aku kembali ke tempat Mel. Aku menanyakan berapa biaya yang harus kubayar kali ini. Aku ancang-ancang kurang dari AUD80 karena temanku bilang biasanya ganti oli di bengkel habis sekitar AUD 50.

Mel memberikan nota pembayaran sambil menepuk pipiku, “karena kau gadis yang ramah dan baik, aku berikan diskon.” Aku menerima nota itu dengan senyum lebar dan….apaaaaa??? Seratus empat puluh dollar?? Huhuhu bukan cuma Oppa yang sekarat. Sekarang dompet Gadis Jeruk juga ikut sekarat.