let it go

Seni “merelakan pergi”

Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan? Continue reading

Bertahan di Melbourne

Bagaimana cara “menampar” orang yang boros supaya belajar hemat? Gampang, lemparkan dia pada situasi penuh ketidakpastian. Itu yang terjadi pada saya.

Setelah periode “bersenang-senang” di awal kedatangan di Australia, tidak pusing soal makan dan tempat tinggal tapi masih dapat uang saku sebagai au pair penuh waktu, kini saya berhadapan dengan situasi tak pasti. Dari yang semula tidak berpikir panjang, jadi memikirkan segala hal.

Sebagai demi pair alias au pair paruh waktu, saya memang mendapatkan tempat tinggal dan makanan sebagai ganti 18 jam bekerja setiap minggunya (batas waktu maksimum demi pair adalah 20 jam per minggu). Tapi saya tidak mendapat uang saku, sehingga harus mencari pekerjaan lain agar bisa mengisi dompet kembali. Isi dompet saya sudah terbang bersama setiap pengalaman di Darwin, Alice Springs, Adelaide dan Tasmania. Saya ke Melbourne dengan sisa uang yang hanya cukup untuk seminggu :P

Jadilah saya mencoba untuk mengiklankan jasa bersih-bersih rumah, setrika, sampai pijat! Memangnya saya punya sertifikat terapis? Oho, tentu tidak. Saya menawarkan jasa pijat pada ibu-ibu di grup au pair untuk datang ke rumah mereka dan memijat ala Jawa. Gampang, soalnya saya memang orang Jawa dan sejauh ini pijatan saya banyak dipuji (oleh ayah, ibu, tante, teman hahahhaha!)

Tapi, tentu orang tidak memerlukan pijat setiap minggu bukan? Maka setelah periode keemasan (dalam 1 minggu saya dapat 5 ibu-ibu yang minta dipijat), saya bekerja serabutan mulai dari kerja di gudang kecil, jadi pembersih rumah sampai penyeterika baju. Padahal, setrika baju adalah pekerjaan yang paling saya hindari. Tapi ternyata ibu-ibu Melbourne tidak kecewa dengan hasil setrika saya dan saya dapat duit dari situ. Lumayan lah ya…

Karena pendapatan tidak tetap setiap minggu inilah, saya semakin berusaha untuk hemat. Soalnya biaya transportasi di Melbourne lumayan juga. Sekali bepergian dalam sehari, saya pasti mencapai batas tertinggi yaitu sekitar AU$8 karena menggunakan Myki money. Memang ada opsi lebih murah, Myki pass, tapi baru terasa murah kalau perginya setiap hari. Kalau tidak, malah rugi karena kuota tidak terpakai.

Saya juga berencana untuk ganti layanan telepon yang lebih murah dan menghentikan polis asuransi kesehatan saya sementara. Semoga sih enggak ada masalah hahaha. Nah, ya…semoga minggu depan ada rejeki lagi!

Malas Bergerak di Melbourne!

Halo semuanya! Selamat tahun baru! Semoga tahun ini penuh rejeki dan kebaikan untuk kita semua walaupun cobaan-cobaan bakal terus berdatangan!

Kalau misalnya ada yang bertanya, Elga kemana saja, kok lama enggak update blognya? Hmm…alasan utama ya sebetulnya sama dengan penyakit semua orang: malas. Tapi supaya enggak terlihat pemalas, aku memulai #Elgaminiblog di media sosial Instagram: @elgapotter. Menulis berdasarkan foto yang diunggah terlihat lebih mudah dan praktis sih ya! Hahahaha! Continue reading

2015 in review

Syukurlah, walau jarang nulis sepanjang 2015 kemarin, masih ada aja yang kesasar ke sini hahahha!

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 36,000 times in 2015. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 13 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Pergi Tanpa Ekspektasi, catatan 33 hari di Aussie (1)

Katanya, waktu berjalan cepat kalau tidak ditunggu. Mungkin karena itu, tanpa terasa (berarti), tiga puluh tiga hari sudah berlalu sejak kakiku menapak Australia, atau bisa juga disebut Aussie. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan, tapi rasa bosan, kantuk dan ketidaklihaianku mengelola waktu, sering membuatku urung. Lagipula, kalau tidak kupilah, kalian pasti bosan nantinya. Jadi, mumpung rasa kantuk belum menyergapku, aku ingin sedikit berbagi ingatan dan hasil pengamatan selama tinggal di negara bagian Australia: Northern Territory (NT),khususnya Darwin, ibukota NT dan area sekitarnya.

Suasana

Bisa kubilang aku pergi ke Aussie tanpa ekspektasi berarti. Oh tentu saja ada harapan-harapan serupa doa. Misalnya, aku berharap keluarga asuhku nanti menerimaku dengan terbuka, aku berharap bisa melakoni tugasku sebagai au pair dengan baik, dan seterusnya. Tentulah ada kecemasan bahwa nantinya aku akan merasa sendirian, gagap bahasa dan seterusnya, tapi dengan doa dan keputusan bulat, aku berangkat dengan mantap.

Salah seorang teman pemegang visa berlibur dan bekerja (work and holiday visa/WHV) di Jogja, yang pernah tinggal di Darwin, pernah mengatakan bahwa Darwin sebetulnya kota yang sangat kecil dan sangat sepi. “Mirip Wates (Kulonprogo, DIY) nggak sih?” tanyaku. “Lebih sepi!” jawab temanku. Ah, masa sih? Masa Wates yang isinya kebanyakan sawah ketimbang rumah masih lebih sepi, pikirku sangsi. Continue reading

Australia, Aku Tiba! (2)

Kylie, nama ibu asuhku (hostmum), sudah menungguku dengan tangan terentang di luar pintu kedatangan. Aku menyambutnya dan ia memelukku hangat. Kylie dan Jim, suaminya, akan menjadi atasan sekaligus keluargaku di Darwin, Australia. Kami menyepakati “kontrak kerja” sejak pertengahan Oktober, hingga akhir tahun 2015 ini. Aku akan menjadi au pair di rumah mereka.

Mengenai serba-serbi au pair ini, aku berencana menulisnya sebagai cuapan tersendiri. Sebab, saat aku menulis ini, genap sudah 28 hari aku berada di Australia. Selama itu pula banyak hal yang sudah kurasakan dan kuendapkan dalam pikiran. Untuk kali ini, aku ingin mengenang masa-masa awal kedatanganku di negara tetangga belakang Indonesia ini.

Sambil mendorong kereta barangku, aku mengikuti Kylie menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari pintu kedatangan. Astaga! Mobilnya besar! Aku langsung gugup dan mengirim pesan pada ayah ibuku “Waduh, mobilnya sebesar Alphard ma, pa,” tulisku. Kegugupanku bukan karena aku baru kali itu melihat mobil besar. Tapi dalam “kesepakatan” kami, tercantum salah satu pekerjaanku nanti adalah menyetir mobil untuk mengantar anak-anak Kylie ke sekolah. Continue reading