let it go

Seni “merelakan pergi”

Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan? Continue reading

Membeli Walau Tak Butuh

Perencanaan keuangan yang baik pasti memiliki unsur pengeluaran (spending) yang bijak. Belanja sesuai kebutuhan. Beli hanya untuk yang perlu, bukan yang dimau (buy what you need, NOT what you want). Seringnya, alih-alih hanya membeli yang sudah diniatkan, biasanya anggaran yang sudah disusun malah jebol gara-gara kebanyakan meleng beli ini-itu. Merasa butuh padahal tidak. Cuma nuruti nafsu saja. Kalau begini, namanya ya konsumtif. Sifat bahagia dari memiliki barang memang sementara, tapi saya juga terlalu sering melakukannya. Yep, guilty as charged.

Tapi, sepertinya perencanaan keuangan macam itu sudah tidak relevan bila dilakukan secara rigid alias kaku. Ada juga pengeluaran yang melenceng jalur tapi bersifat positif, seperti yang sudah dibahas banyak orang: membeli untuk membantu. Ajakan untuk membeli dari para pedagang keliling yang sudah renta atau memanfaatkan jasa dari orang yang tidak memiliki fungsi prima anggota tubuhnya pasti sudah sering Anda dengar. Bahkan banyak contohnya dengan foto-foto mengharukan. Ini bukan sarkasme ya. Memang mengharukan.

Orang-orang itu, dengan keterbatasan fisiknya masih mau bekerja sebagai sumber rejeki. Walaupun barang yang ditawarkan kadang tidak bermanfaat, kuno atau berkualitas buruk (contoh: sandal teklek (kayu), peralatan plastik murah, dan lain-lain), mereka ingin dibayar karena jerih payah itu. Bukan cuma menadah tangan lalu minta-minta. Kadang rasanya miris ya, menyaksikan mereka yang sudah tua masih harus bekerja. Bukannya mereka harusnya melakukan pekerjaan para manula? Yang santai-santai, yang tidak perlu banyak tenaga. Tapi hidup memang begitu cara kerjanya. Setidaknya dengan membeli dari mereka, kita bisa ikut meringankan beban tanpa menyinggung perasaan.  Continue reading

Belajar Tidur

Salah satu tantangan yang ingin saya lakukan di tahun ini adalah tidur sebelum jam 12 malam. Tidak perlu satu tahun penuh, cukup sebulan saja. Tadinya mau menjajal tantangan ini di Januari, tapi bulan itu berlalu begitu saja dengan ritme tidur yang kacau. Sekarang, Februari sudah setengah jalan, saya masih belum bisa melaksanakan.

Blame it to my habit. Salahkan kebiasaan saya yang seperti kalong. Bangun siang, tidur larut malam bahkan nyaris subuh. Semula saya menganggap hal itu tidak masalah. Ah, mirip kok dengan orang lain yang rutin bangun pagi dan tidur sebelum jam 10 malam. Sama-sama tidur 6-7 jam lalu melakukan kegiatan. Saya juga tetap makan 2-3 kali sehari ini.

Tapi itu dulu. Sebelum berat badan saya (eh atau massa yang betul?) makin turun dan saya merasa makin kurus. Saya merasa ada ketidakseimbangan yang terjadi dan tak lagi bisa saya nikmati. Saya mulai tidur terlalu larut, bahkan mencapai jam 4 subuh padahal saya harus bangun paling tidak jam 10 atau lebih pagi. Badan saya mulai bergerak otomatis (yang tentu saja sering salah program) dan pikiran yang rasanya makin lamban. Sedikit-sedikit, kelelahan itu terakumulasi dan saya mulai kehilangan konsentrasi.

Makanya saya mulai mengurut, apa sih masalahnya? Kalau mau jujur, mungkin saya sudah tahu apa saja sumber kekacauan ini. Pertama, kebiasaan memegang alat elektronik seperti ponsel…yap, klasik. Sejak ponsel pintar merambah kehidupan, ada saja hal yang harus dikerjakan bersamanya. Kecanduan? Mungkin. Saya yang juga tengah membatasi diri berkicau di media sosial tetap saja tidak bisa menghindari gejala anxiety atau ketidaknyamanan saat ponsel saya ketinggalan atau tidak saya cek selama…lima menit terakhir.

Otak saya tidak bisa berhenti berputar. Tidak tahu kapan harus berhenti. Tidak lagi peka pada sinyal berhenti.

Jadi saya bilang sama diri sendiri: kamu harus mulai belajar. Belajar untuk mengatasi kekacauan ini sedikit-sedikit. Mulai dari tidur teratur sebelum tengah malam. Mematikan ponsel dan tidak melakukan kegiatan yang bisa memicu otak untuk aktif seperti..eng..main game, nonton film, baca komik, baca novel, browsing instagram, buka Facebook, dan…stop. Daftar itu bisa berlanjut dan otak saya bisa karatan sebelum waktunya.

Dua hari terakhir saya sudah mencoba dengan mematikan semua penerangan dan berbaring di kasur sebelum jam 12. Gagal. Mata saya masih kedip-kedip jam 1 pagi sampai saya tidak sadar kapan saya mulai ketiduran. Bahkan saat saya menulis ini, rasanya kata-kata yang saya susun sudah tidak koheren sama seperti kerja otak dan hati saya.

Apa ada saran?

 

Kehidupan Blog sepanjang 2014 (WordPress review)

Hahahaha ini kedua (atau ketiga ya) kalinya WordPress kasih rangkuman setahun. Rasanya kayak baca laporan tahunan…tapi yang ini menyenangkan! :D

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 31,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 11 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Doraemon dan Ekspektasi Penonton

[Mungkin mengandung SPOILER]

Pada saat saya menulis ini, saya tidak berniat membuat sebuah ulasan menonton, ataupun mencoba meyakinkan pembaca tentang persepsi saya paska menonton film Doraemon (Stand By Me), yang tayang perdana 10 Desember 2014 lalu. Nantinya juga akan ada bias yang sangat kuat karena hal itu. Tapi justru karena itu saya tertarik membahasnya.

Sama seperti makanan, pilihan film adalah soal selera. Maka, reaksi penonton pun pada sebuah film sudah pasti berbeda-beda. Kalau ada film yang sangat laris di pasaran, pastinya karena ia bisa memenuhi sebagian besar selera yang kebetulan sama. Ada unsur kebaruan yang dijual, entah teknologi, cerita atau konsep. Tapi animasi besutan Ryuichi Yagi dan Takashi Yamazaki ini bukanlah film yang ditujukan untuk merengkuh pasar itu. 

Doraemon adalah karya komik klasik karangan Fujiko F. Fujio yang nyaris pernah dibaca setidaknya sekali oleh anak-anak di manapun, termasuk di Indonesia. Selain membaca komiknya, saya ingat selalu merengek untuk tidak ikut sekolah Minggu karena ingin menonton Doraemon. Robot kucing biru ini dengan mudah jadi favorit karena berbagai alat ajaib yang bisa dikeluarkannya. Walaupun ujung-ujungnya adaaaa saja masalah yang muncul sesudahnya. He he he. Bisa dibilang Doraemon adalah potongan masa kecil saya dulu, yang rupanya masih bisa jadi potongan masa kecil anak-anak jaman sekarang karena kartunnya masih tayang. Continue reading

Hujan di Bawah Jembatan

Saya adalah salah satu orang yang sebal waktu naik motor saat hujan, lalu tersendat macet akibat banyaknya orang yang berteduh di bawah jembatan. “Ihh, ini kan musim hujan. Bawa jas hujan dong!” Pikir saya sembari berusaha menghindari mobil di sisi kiri saya dan motor-motor yang diparkir ngawur di sisi lainnya. Begitu deh kebiasaan para pemotor yang enggak bawa jas hujan padahal sudah tahu ini musim hujan.

Tapi kali ini saya kena batunya. Continue reading