let it go

Seni “merelakan pergi”

Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan? Continue reading

Makhluk Malam

Sejak menjalani pekerjaan sebagai gadis (penyortir) jeruk, kebiasaan hidup saya berubah 90 derajat. Biasanya saya memang kuat begadang sampai malam namun tetap bangun pagi (atau siang, tergantung situasi). Kini saya menjalani kehidupan nokturnal.

Rupanya cukup butuh beberapa minggu untuk mengubah kebiasaan hidup seseorang dari pagi ke siang menjadi siang ke pagi. Saya menjelma jadi makhluk malam.

Saya terbangun saat setiap orang sedang pulas tidur. Contohnya ya ini, lagi siaran iseng gara-gara tidak bisa tidur. Padahal ini tadi hari libur. Jam 9 malam saya sudah mapan di dipan, bercita-cita bangun pagi lalu sarapan scones yang saya bikin tadi dan lalala lain. 

Jam 11 malam saya terbangun. Melek. Segar bugar.

Lalu di sinilah saya, jam 2.30 pagi berjingkat ke dapur merebus mi. Kasihan yah. Apa boleh buat, biasanya tidur jam 4 atau 5 dini hari sih. Jadi tidur dua jam tadi? Mungkin dihitung tidur siang kali ya hahaha.

Masalahnya, pola makan saya jadi aneh dan mungkin tubuh saya bingung. Ini waktunya sarapan atau makan siang? Mi rebus ini kudapan atau makan malam? Tapi tadi jam 6 malam saya sudah makan kentang dan steak. Itu dihitung makan siang? Lalu cemilan jam 2 siang tadi sarapan? Aduhhh pusing ini badan, eh, kepala!

Tidak enaknya jadi makhluk malam, hidup seperti dalam kelam. Mau jalan-jalan ke luar, sudah gelap. Mana suhu musim dingin bikin badan beku. Mau nonton video lucu, enggak bisa ketawa keras-keras karena bakal ganggu teman serumah. Tidur juga terganggu karena saya mudah terbangun. Mulai tidur jam 5 pagi, terkaget bangun jam 10 pagi karena teman serumah mulai beraktivitas.

Mereka sering lupa, kalau di rumah ada satu makhluk nokturnal yang bercita-cita tidur 8 jam juga. Ah…cita-cita mulia. 

Gadis Jeruk Pindah Rumah

Dalam kurun waktu 3,5 minggu di South Australia, aku mengalami lebih banyak perubahan ketimbang saat hidup 3,5 bulan di Victoria. Selain jadi gadis jeruk, punya Oppa, si Toyota Corolla 85, sekarang aku juga tinggal di kos baru. Yap, gadis jeruk pindah rumah.

Di postingan terdahulu, aku pernah bilang bahwa harga yang kubayar untuk tinggal si hostel backpacker di Paringa sepadan. Aku perlu meralat pernyataan itu. 

Kenyataannya, untuk 8 orang dewasa tinggal bersama di satu rumah dengan fasilitas yang ada, situasi bisa jadi terlalu riuh. Ini bukan lagi masa sekolah asramaku dulu walau dengan perbandingan jumlah orang yang sama.

Saat SMA, kami tak perlu masak makanan sendiri dan belanja sendiri. Kami tidak punya ritme kerja yang berbeda karena semua sama: sekolah di pagi hari, makan bersama, dan punya rutinitas yang sama. Lagipula kami masih remaja, tinggal bersama sekurang-kurang setahun lamanya (sebelum perpisahan kelulusan kakak kelas).

Lalu aku juga menyadari bahwa aku terlalu soliter untuk menoleransi terbatasnya ruang privasi. Aku butuh jarak dan ritme yang bisa kusebut “hidup”. Tinggal beramai-ramai dalam lingkup perjalanan aku tak masalah. Hidup bersama untuk jangka panjang itu yang masalah. Maka, aku pun mencari rumah baru.

Ada beberapa kamar disewakan di sekitar Renmark. Misalnya saja satu kamar untuk diriku sendiri, berbagi rumah dengan satu penghuni lain di kamar berbeda. Harga murah tapi tak berperabot. Heu, bisa repot cari kasur tiup dan tetek bengek penghangat agar bertahan di musim dingin.

Lalu, aku menemukan Fiona. 

Dia adalah orang yang paling merespon komunikasiku melalui sandek. Saat ia tak segera menjawab pertanyaan kapan aku bisa melihat kamar yang disewakan, aku menelponnya dan langsung merasa klik. Logat Australia. Ibu-ibu Australia asli.

Mungkin ini dinamakan insting bawah sadar, tapi aku mendapati diriku memiliki hubungan baik dengan ibu-ibu Australia tanpa bermaksud mendiskriminasi ras lainnya. Ada sesuatu tentang mereka yang membuatku nyaman: keterusterangan, sifat santai dan blak-blakan tanpa menyimpan gerundelan. Aku belajar lebih asertif tanpa jadi agresif dari sikap macam itu.

Saat aku ke rumahnya, aku adalah calon penyewa pertama. Sebelumnya ada beberapa orang juga tapi mereka batal menyewa lantaran tak dapat pekerjaan di sekitar Renmark.

Rumah Fiona adalah rumah kayu khas pedesaan Australia. Tua, berantakan tapi juga rapi. Tidak sempurna ala rumah majalah tapi sempurna bagiku lantaran meneriakkan makna homey.

Sofa tua di ruang televisi alias lounge room dibalut selimut tua dan ditaruh di atas karpet lawas. Foto-foto anak dan cucu Fiona terpajang berserakan. Dapurnya kecil dan sempit tapi apik. Kamar yang ditujukan untukku memuat tempat tidur ukuran single dengan selimut penghangat. Perabotan yang ada adalah lemari kayu dan meja kecil di sisi tempat tidur. Harga sewa tak jauh beda dengan hostelku sebelumnya. Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan.

Pada hari kepindahan, Fiona mengirimiku sandek yang menjelaskan ia sudah memasang tirai tebal di kamar dan membeli modem wifi. Dia juga menyediakan sumbat telinga.Fiona paham aku kerja malam. Perlu tidur hingga siang.

Saat aku datang membawa barang, ia sedang memotong rumput di halaman. “Aku kerjakan sekarang daripada besok mengganggu waktu tidurmu,” ujarnya ceria. Aku tersentuh. Di kamar, ia sudah menghamparkan selimut tebal. “Beritahu aku kalau kau kedinginan. Aku carikan selimut lagi,” imbuhnya.

Dan benar, esoknya aku bilang masih merasa dingin. Ia langsung memberikan selimut rajut warna-warni yang keren sekali. “Ini buatan nenekku, jadi umurnya sudah hampir 100 tahun.” Wah. Dia pasti bercanda. “Sungguh. Nenekku membawa ini dari Inggris saat ia berumur 80an.”

Aku tak pernah menanyakan usia Fiona, tapi kutebak sekitar 70an. Ia janda, putri tunggalnya hidup di Amerika Serikat dan ia punya cucu perempuan yang sekarang sudah remaja. Fiona juga tipikal ibu-ibu tua Australia: bawel. Hahahaha.

Ada banyak aturan di rumahnya. Tapi semuanya masuk akal dan beralasan jadi aku berusaha mengingat seluruhnya. Misalnya saja:

  1. Matikan lampu dan stop kontak bila tak digunakan. Rumah Fiona adalah rumah kayu maka rawan sekali kebakaran. Selain itu, hemat energi tak ada salahnya.
  2. Semua sisa makanan dan sampah organik dibuang ke toples khusus kecuali kulit jeruk. Fiona melakukan proses kompos di halaman belakang. Sesuatu yang kudukung sepenuh hati. Kulit jeruk bersifat asam dan antibakteri yang bisa awet dalam waktu lama dan malah merusak bakteri pengurai.
  3. Semua peralatan masak harus kembali ke tempat semula. Supaya orang lain yang mau pakai tidak bingung mencari alat dan menyiapkan masakannya.
  4. Pakai sandal khusus dalam rumah dan luar rumah. Supaya tidak membawa kotoran dan penyakit tentu saja.
  5. Dan masih banyak lagi lainnya hahaha. Tapi aku senang-senang saja.

Sejak tinggal di rumah Fiona, aku merasa jauh lebih waras. Bangun, aku bisa membuat teh atau jus jeruk dan roti panggang untuk membuka hari. Menikmati sinar matahari di halaman belakang yang berbatasan dengan kebun anggur tetangga.

Tapi masa-masa aku tinggal sendiri cuma bertahan 3 hari. Dengan cepat rumah itu terisi. Selain aku, kini ada empat sekawan asal Perancis dan aku berbagi kamar dengan seorang perempuan Taiwan. Aku masih harus menoleransi level berisik empat sekawan itu yang kadang kelewatan. 

Kebiasaan mereka yang selalu mandi lama cukup bikin jengah Fiona lantaran terbatasnya air panas. Mereka juga gagap budaya karena baru datang dari Melbourne yang gegap gempita. Tapi aku tak mau ambil pusing selama mereka tak menggangguku. Kulkas anak kos berbeda dari kulkas Fiona tapi ukurannya lebih besar dari kabin hostelku sebelumnya. Aku lebih leluasa menyetok bahan makanan dan barang.

Setidaknya, sisa masa tinggalku di Australia bisa kuhabiskan dengan tinggal di sebuah tempat yang terasa rumah. Tidak mewah, tidak megah, tapi memberiku kenyamanan yang ramah.

Lain kali kuceritakan khusus soal Fiona. Perempuan tua luar biasa.

beranda belakang rumah

Sampai jumpa.

Oppa, si Mobil Jeruk (2)

Selamat merayakan lebaran bagi teman-teman pembaca blog sekalian. Maafkan aku bila tulisanku menimbulkan sakit hati atau ketidaknyamanan. Mari kita lanjut siaran :)

Ceritanya, kemarin aku membawa Oppa, si mobil jeruk, ke tempat Mel Scidone, mekanik Italia yang direkomendasikan ibu kosku, untuk diperiksa. Sama seperti manusia, sesekali mobil juga perlu periksa kesehatan.

Puh. Alasan. Padahal sebetulnya ini gara-gara aku lupa mengonfirmasi kapan Oppa terakhir menjalani perawatan pada pemilik sebelumnya. Lalu, beberapa kali saat mengendarai Oppa, mataku terasa cukup pedih karena gas buang yang aku curigai bocor entah di mana.

Mel, lelaki tua berambut putih dengan perawakan ala Godfather itu menerima mobilku jam 10 pagi. “Nanti kutelpon kalau sudah ada hasilnya,” katanya sambil menerima kunci dariku.

Sekitar dua jam kemudian aku menerima pesan suara dari Mel yang memintaku menghubungi dia. “Sebaiknya kau ke sini karena terlalu panjang kalau kujelaskan lewat telepon,” ujarnya. Karena Fiona tak di rumah, aku berniat jalan kaki ke tempat Mel. Tak jauh. Tapi, ia mengirim pegawainya untuk menjemputku.

Seperti masuk ruang praktek dokter, Mel memintaku duduk dan menghadap buku catatan diagnosa Oppa. Mel menghadapku dengan wajah serius. Hasilnya?

Oppa sakit. Sangat.

Kabar itu tidak mengejutkan tentu.Saat membeli Oppa, aku sudah berjanji dalam hati takkan menjual Oppa saat masa tinggalku di Australia habis. Sebagai Toyota Corolla keluaran 1985, umur manusia Oppa mungkin setara kakek-kakek 70 tahun. Akan kutinggal di pinggir jalan atau kujual ke wrecker alias penerima mobil rongsok, janjiku setengah bercanda.

Tapi biar begitu, vonis Mel tetap membuatku sedih. Secara umum, semua suku cadang Oppa sudah sekarat. Radiator Oppa bocor dan pompa airnya sudah tak berfungsi normal. Aku harus ingat mengisi ulang radiator dengan air setiap pagi sebelum mengendarainya. “Kalau tidak, tamat sudah,” cetus Mel.

Mel bilang, seseorang mencopot penutup gas buangan Oppa dan menggantinya dengan pipa (sialan). Lalu karet rem sudah tak sempurna dan bla bla bla lain yang tak aku pahami sungguh. Halo, ini mobil pertamaku dan level pemahamanku pada mesin kendaraan roda empat masih di level playgroup.

Mel bilang, untuk memperbaiki Oppa perlu biaya besar. “Aku yakin kau takkan mau menghabiskan ribuan dollar untuk kendaraan murah ini,” katanya. Tentu saja! Mana mampu aku menghabiskan sebanyak itu? Aku hanya nyengir dan bertanya apa yang harus kulakukan agar Oppa masih bertahan setidaknya untuk 3 bulan. Bisakah dia kubawa ke Adelaide yang 250 kilometer jauhnya dari Renmark?

Tentu saja bisa, kata Mel. Kalau aku mau mengalami mogok di tengah jalan karena mesin Oppa kepanasan. Baiklah. Lupakan Adelaide. Mungkin nasib Oppa memang hanya membawaku ke radius maksimal 50 kilometer saja dari Renmark. Well, that’s not much really.

Lalu tadi siang aku membawa Oppa ke tempat Mel lagi untuk perawatan dan ganti oli. Mel berjanji menyelesaikannya dalam waktu sejam karena aku harus berangkat kerja.

Lima belas menit jelang waktu yang dijanjikan, aku kembali ke tempat Mel. Aku menanyakan berapa biaya yang harus kubayar kali ini. Aku ancang-ancang kurang dari AUD80 karena temanku bilang biasanya ganti oli di bengkel habis sekitar AUD 50.

Mel memberikan nota pembayaran sambil menepuk pipiku, “karena kau gadis yang ramah dan baik, aku berikan diskon.” Aku menerima nota itu dengan senyum lebar dan….apaaaaa??? Seratus empat puluh dollar?? Huhuhu bukan cuma Oppa yang sekarat. Sekarang dompet Gadis Jeruk juga ikut sekarat.

Oppa, si Mobil Jeruk

Gadis Jeruk sudah punya mobil sekarang. Baru dibeli dua pekan lalu dan sudah resmi berganti nama pemilik. Secara tak resmi, mobil ini juga kuberi nama: Oppa.

Oppa the Toyota Corolla 1985

Dari sekian mobil bekas yang ditawarkan di sekitar Renmark, mungkin memang Oppa yang berjodoh denganku. Ya, dari sisi harga, juga usia hahaha!

Siapa sangka, mobil pertamaku adalah Toyota Corolla yang umurnya lebih tua. Keluaran tahun 1985! Kalau sistem registrasi di Australia minimal per 3 bulan (ada yang per 6 bulan juga, dst), dan ia pindah tangan terus-terusan, maka bisa jadi aku adalah pemilik Oppa ke-120an sejak ia dilepas di pasaran!

Keluarga dan teman bertanya, “Memang masih enak disetirnya, Ga?” Yang paling kujawab sambil tertawa, “ya apa sih yang diharapkan dari mobil tua seharga Mio seken di Indonesia?” Paling tidak, Oppa masih lebih mending dari bus Kopaja di Jakarta lah hahaha!

Tapi aku memang merasa jadi sopir Kopaja.

Transmisi Oppa adalah manual dengan power steering dalam artian teknis dan sebenarnya. Kalau untuk dikemudikan dalam jarak super pendek, katakanlah manuver parkir atau belok, huaduhhhh mungkin begitu rasanya jadi sopir Kopaja. Berattttt!

Aku sudah menyerah pada parkir paralel. Terakhir mencoba, bemper belakang Oppa menabrak bus sedang parkir. Untung busnya enggak lecet sedikitpun. Kalau enggak, bisa ganti rugi seharga Oppa deh. Tapi harga Oppa rahasia ah ahahaha!

Proses serah terima Oppa cuma 5 menit. Orang yang menjualnya sudah menyiapkan form pergantian operator kendaraan alias semacam STNK. Tinggal tandatangan kedua pihak, lalu tinggal bawa form itu ke kantor layanan (kalau di sini namanya Service South Australia) sambil bawa bukti identitas residensi (surat pernyataan dari bank, paspor, bukti visa, kartu ATM bank di Australia dan bank di Indonesia yang penting ada nama kita tertera)) lalu bayar biaya balik nama. Kelar. Oppa sah jadi milik Elga.

Tua begitu Oppa cukup menghibur. Tiap ganti persneling, dia akan berdering..eh..berderik hahahaha! Kaca jendela tidak bisa diturunkan terlalu dalam karena sudah geser dari letaknya, dan aku harus menambah bantal di kursi pengemudi supaya tidak tenggelam. Eh, tapi pemilik sebelumnya meninggalkan pemutar keping musik dan radio. Lumayan lah ada suara-suara.

Omong-omong soal suara, knalpot Oppa berderum ala mobil balap juga hahaha! Entah tutup knalpotnya hilang, entah jadi knalpot blombongan tapi derumnya memang kencang. Tambah lagi, tiap kali akan dimatikan, gas Oppa masih jalan untuk sekian detik. Kadang harus kuakali dengan menekan pedal gas.

Bersama Oppa aku sudah ditepikan polisi dua kali. Berturut-turut. Keduanya pengecekan acak alkohol dan terjadi tiap aku pulang kerja yang artinya dini hari. Untung aku selalu membawa SIM internasionalku kemana-mana.

Pertama kali dihentikan aku tidak curiga. Kedua kali aku kira karena mengebut padahal Oppa tidak pernah kugeber lebih dari 100km/jam. Setiap kali berhenti pula, polisinya menertawakan beanie alias topi kupluk yang kupakai. Aku menemukan kupluk berbentuk wajah Bert, sahabat Ernie di Sesame Street di sebuah op shop dan langsung jatuh cinta. Cuma dua dolar saja dan bikin hangat telinga!

Mereka selalu bertanya “mana Ernie?” Tapi mereka juga menanyakan apa mobilku masih bagus? Apa ini memang mobilku?

Makanya, sejak dihentikan polisi kali kedua aku jadi curiga. Bukan khawatir denda apa karena aku yakin bersih alkohol dan obat, tapi ini pasti gara-gara Oppa! Fiona, ibu kos baruku (akan kuceritakan tentangnya nanti) bilang, “ini karena mobilmu bersuara keras jadi polisi berpikir yang mengendarai pasti laki-laki jadi mereka memutuskan minta kau menepi.”

Wah, para polisi itu enggak menyangka kali ya, bahwa saat mereka menyalakan lampu patroli dan memintaku menepi, yang keluar dari kursi pengemudi adalah gadis ceking bertopi kupluk kuning. Fiona usul, nanti kalau aku disuruh menepi ketiga kali, aku akan menawari mereka kopi! “Wah pak, bu polisi kita ketemu lagi! Ini ketiga kali jadi selamat anda dapat kopi!”

Siap bertualang berdua!