let it go

Seni “merelakan pergi”

Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan? Continue reading

Menabrak Kangguru di Australia

Sepandai-pandai kangguru melompat, akhirnya tertabrak juga. Yeah, pagi ini saya menabrak kangguru. 

Adalah subuh yang biasa, kisaran 5.35 waktu South Australia. Saya menyetir mobil berangkat kerja dengan kecepatan sesuai panduan: 80-100 kilometer per jam. Penumpang saya hari ini cuma Sevgi (teman dari Jerman) dan Citra. Indah absen karena sakit. Langit sudah cukup terang, di kejauhan tampak beberapa mobil jalan berurutan.

Saya menyalakan lampu jauh karena jalan menuju pengepakan jeruk cukup berliku dan ada bagian tanpa garis marka. Lagipula mobil di depan saya cukup jauh dan tak bakal terganggu. Setiap orang di mobil sibuk dengan pikiran masing-masing.

Saya, misalnya, berpikir bahwa hari ini harus sudah menaikkan iklan di Gumtree (situs jual beli populer di Australia) untuk menjual si Ford tanpa nama pemberian Francesca. Saya akan meninggalkan Renmark kurang dari tiga pekan untuk kembali ke Indonesia. Masa berlibur dan bekerja saya sudah mencapai titik akhir.

Tiba-tiba, lampu menyorot 3-5 makhluk berekor panjang dan berkaki belakang besar. Semuanya dalam posisi tegak berdiri. Dan dua di antaranya ada di tengah jalan. Sial! Pikiran terakhir saya dalam sepersekian detik adalah “kali ini jangan menghindar, tubruk saja,” dan… BHAM! Satu kangguru besar sempat terlihat menghantam sisi pengemudi dan sekian detik berikutnya saya tak tahu apa yang terjadi.

Sevgi dengan suaranya yang lembut menginstruksikan saya untuk menepikan mobil dan otomatis kemudi saya belokkan ke kiri. Mobil penuh asap dan tenggorokan saya tercekat. “Kalian tidak apa-apa? Ayo semua orang keluar dari mobil,” perintah Sevgi. Saya tidak sadar kalau kantung udara di setir sudah terbuka dan menghantam (atau menyelamatkan) muka saya. Pintu pengemudi entah kenapa tidak terbuka sepenuhnya.

Di luar mobil, Citra terbatuk-batuk dan Sevgi terus menyakinkan kalau kejadian tadi tak terhindarkan dan bahwa kami sepantasnya bersyukur masih selamat. “Reaksi bagus Elga, kamu melakukan hal yang benar,” ujarnya sambil mengajak berpelukan bertiga.

Di bawah terang matahari yang masih samar, saya melihat kerusakan akibat kontak dengan keluarga kangguru tadi. Kap mobil sisi pengemudi ringsek dan lampunya pecah. Keluar asap dari mesin dan pemutar musik masih menyala. Ada bekas penyok besar di kap.

Begini kira-kira kondisi mobilnya

Saya terlalu banyak terlibat kecelakaan selama di Indonesia. Lalu sekarang, saat saya sudah mau pulang, harus banget ya nambah satu lagi pengalaman di Australia?  Yah, hidup kalau mulus tanpa drama kayak jalanan Antartika kan enggak seru, Ga, kata diri saya sendiri.

Seperti saat kecelakaan lain yang saya alami saat dewasa, saya tidak syok. Otak saya merespon situasi darurat dengan cara yang bisa diandalkan: bekerja. Saya langsung berpikir tentang sejuta daftar hal-yang harus-dilakukan setelah kejadian. Misalnya, saya harus memikirkan bagaimana menderek mobil ini pulang atau ke bengkel, apa ada pedagang besi yang bisa dihubungi, lalu apa bisa saya batalkan registrasi mobil ini. Oh ya, akinya masih baru jadi bisa dijual terpisah. Mungkin menelpon Mel di jam smoko break (istirahat) nanti, coba minta tolong menderek mobil. Dan lain-lain.

Itu yang terlintas sambil mendengar Sevgi dan Citra bertanya “what we’re gonna do now?” Oh iya, kami masih harus berangkat kerja. Saat itu kami terdampar di tepi jalan sementara mobil-mobil jarang melintas. Teman-teman yang kami kenal pasti sudah berangkat duluan. Yah, ayo cari tumpangan, kata saya sambil mengacungkan jempol ke arah jalan. Yap, kami coba hitchhiking ke pabrik pengemasan. 

Beruntung, satu mobil kabin ganda menepi. Pengemudinya bapak-bapak Ostrali. Sevgi yang menanyakan apa kami boleh menumpang sementara saya memunguti barang berharga di mobil. Ugh, mobil perempuan. Isinya berantakan. Saya menyambar tas plastik, mengisinya dengan dompet teman yang ketinggalan, map berisi izin mengemudi, surat registrasi dan (uhuk) paspor saya. Tak ketinggalan tas ransel mahal yang baru saya beli di Adelaide kemarin yang masih di bagasi :p

Sepanjang jalan hanya Sevgi yang bisa mengobrol dengan si bapak dan saya hanya menimpali sesekali. Otak saya masih berputar. Saya cuma sempat bilang “thank you very much, we appreciate it,” dan Sevgi melihat saya sambil tersenyum. Eh, itu kalimat keluarnya bener enggak ya? Hahaha.

Ajaibnya, kami tidak telat kerja. Masih ada waktu 5 menit.Citra segera menelpon entah siapa, saya segera menaruh barang-barang di meja ruang makan. Cuma sempat mengabari beberapa teman dan memulai kerja seperti biasa. Kecuali, saat menyortir jeruk, kepala saya penuh puluhan rencana dan analisa.

Salah satunya, “duh, bakal kena denda enggak ya nabrak kangguru.” Dan itu saya tanyakan ke Nada, pengontrol mutu di sesi pagi. “Enggak. Kamu bisa menabrak sebanyak apapun kangguru yang kamu mau. Tapi mahal kan benerin mobilnya. Punya asuransi?”

Em…nope. Asuransi mobil di Australia rata-rata dibayar untuk kaver setahun. Saat saya diberi Francesca, waktu saya tinggal 1,5 bulan. Walaupun tahu ada resiko begini-begitu, tetap saja terlalu mahal buat saya untuk membelinya. Jadi, kalau masih punya waktu lebih dari 6 bulan saat punya mobil, belilah asuransi. Apalagi kalau bekerja di desa kayak saya. Kanggurunya lalalala di mana-mana.

Mungkin saya bisa ikutan isi form kayak ini kalau punya asuransi. Sumber: internet.

Selama di Australia, saya sudah bertemu kangguru di jalan berkali-kali. Saat trip Great Ocean Road, teman Italia saya bisa menghindar dan bikin deg-degan. Saat kerja di Murtho, saya sempat menghindar walau kecepatan tinggi bersama Oppa (Toyota lama saya). Waktu itu cuma sama Indah dan kami pulang kerja sesi malam. 

Herannya, ada beberapa orang yang tak pernah ketemu sama sekali. Mitsu-san misalnya, bertahun-tahun kerja di Renmark-Murtho, dia tak pernah ketemu kangguru. “Aku anggap mereka tidak eksis karena aku enggak pernah lihat.” Okelah.

Tapi terakhir pasang status menghindari kangguru di jalan, teman-teman pada kasih saran: jangan menghindar, tabrak saja. Karena kalau menghindar bisa makin bahaya buat isi mobilnya. Eh yaampun, saya dikasih kesempatan berikut untuk mencoba teori itu. Hahaha! Teman yang lain bilang, kalau mengemudi kecepatan tidak sampai 100km/jam bakal beda cerita. Well, saya cuma numpang tinggal sementara di Australia jadi enggak punya logika penanganan kehidupan liar di jalanan. Hiks.

Strayaaaaa! Enggak bisa banget ya, melepas saya pergi tanpa tambahan pengalaman tabrak kangguru dan hitchhiking (walau cuma beberapa kilometer)? Nah, sudah ya, setelah ini lepaskan aku pergi dengan situasi tenang dan tentram. Please.




Renmark, 20 September 2016

Sambil berkemas pindah lagi ke hostel karena sudah enggak punya mobil.

Elga OZ GIVEAWAY! Share Your Best Moment

​Gadis jeruk berbagi hadiah untuk pertama kalinya! 

Ceritanya, setelah sepuluh tahun lebih saya tidak mencetak foto, beberapa foto hasil jepretan di Australia saya cetak juga. Waah, ternyata hasilnya lumayan juga!

Banyak momen berharga dan kenangan melintas saat melihat foto yang tercetak di selembar kertas film ukuran kartu pos itu.

Nah, karena katanya September adalah bulan ceria, makanya, saya mau berbagi kartu pos dengan foto-foto saya itu untuk 10 orang! Caranya gampang:

1. Berlangganan (subscribe) blog saya http://www.elgaayudi.wordpress.com (untuk tahu cuapan siaran malam saya hahaha)

2. Jadi teman saya (follow) di Instagram @elgapotter (Potter??? Selalu).

3. Unggah momen berharga kamu di bulan September di Instagram dengan tagar (hashtag) #ElgaGiveaway #ElgaOZbestmoment dan colek saya (mention) @elgapotter 

*jangan lupa sisipkan cerita kalian! Saya suka cerita!

4. Periode berakhir 22 September 2016. 

5. Pengumuman pemenang akan ada di blog dan instagram pada 24 September 2016. Kartu pos akan saya kirim langsung dari Australia sebelum saya meninggalkan negara ini!

Nah, banjirilah lini masa dengan momen terbaik kamu di bulan September ini ya! Saya tunggu!!

Di Ujung Musim

Kuncup merah jambu mulai bermekaran dari ranting-ranting gundul tanpa daun di kebun sebelah rumah. Itu bunga plum, kata Fiona, ibu kos. Sementara di kejauhan, tampak hal senada terjadi di deretan pepohonan dua ratus meter dari rumah. Putih warnanya. Kalau itu, kata Fiona, cikal almond

Di berbagai sudut Riverland (Renmark, Paringa, Murtho dan seterusnya), menjelma hamparan pohon berbunga mirip musim mekar sakura di Jepang.

Ujung kaki musim semi sudah menyentuh bumi…

kuncup bakal plum

Tak terasa, karir saya sebagai gadis jeruk sudah hampir berakhir. Kurang dari 50 hari, saya akan angkat kaki dari negara ini. Menyudahi pengembaraan setahun di negara koala. 

Sama seperti musim dingin akan segera diusir musim semi, musim jeruk juga akan segera selesai. Teman-teman sekerja, satu per satu mulai berpamitan. Melanjutkan perjalanan ke sisi lain dunia, atau pulang ke negara asal. Saya patah hati berkali-kali. Dan ini bukan tentang romantika seperti banyak orang kira. Bukan.

Tadinya, saya berencana mengakhiri perjalanan setahun saya di Australia dengan bekerja saja. Kali ini fokusnya memang mau mengembalikan dana pinjaman lunak dari ibu tercinta. Tidak terpikir lagi untuk menjalin relasi dan bertekad menjauhi segala drama. Biar saja apapun terjadi, saya akan mengandalkan diri sendiri. 

Tapi siapa sangka, cuma beberapa bulan saja, saya bersentuhan dengan orang-orang yang menarik saya untuk membuka diri. Menjalin pertemanan. Suasana kerja yang menyenangkan, makan bersama, eksplorasi kota sekitar, hingga acara-acara di luar kerja yang akrab dan santai. Yang mau tak mau, saat perpisahan terjadi, ada yang hilang dari hati.

Saking terhanyut rasa melankoli yang menyebalkan, Kylie, ibu asuh Australia saya sampai turun tangan. Pada saat saya mewek karena baru mengantar teman pulang Indonesia duluan (sebelumnya dua teman asal Inggris Raya juga pamitan), Kylie mengirim foto cowok macho. Dasar.

Saya bilang, itu cukup menghibur soalnya saya lagi sedih. “Aku tahu ini resiko traveling, selalu akan ada perpisahan. Harusnya aku sudah terbiasa. Tapi tiap kali saat itu tiba, tetap sedih rasanya,” adu saya.

Yang kemudian dibalas Kylie, “My sister always said to me. Your heart breaks and you deal with it or you choose to never meet these people. I know how you feel. It was how I felt when I left Darwin. It’s how I will feel when you leave Australia.”

Sialan. Makin mewek kan!

Kylie punya kebijaksanaan dan kebaikan yang terlalu hangat untuk ditolak. Kata-kata itu seperti jari yang menyentuh dagu saya untuk mendongak memandang langit.

Saya membalas, I’d rather to go through thousand heartbreaks than never meet these people…” Saya memilih untuk patah hati berkali-kali ketimbang tak pernah bertemu orang-orang luar biasa itu. 

Dengan perubahan-perubahan tak terduga, tak ada yang tahu kapan saya harus meninggalkan Renmark. Kota kecil yang kalah ramai ketimbang Wonosari, Jogja :P 

Tapi, saya merasa bersyukur, waktu dan takdir membawa saya ke sini. Pemberhentian terakhir untuk menutup satu musim yang segera selesai. Mirip satu episode mimpi yang panjang. Diingat hingga saat sadar.

Apa yang nanti terjadi, terjadilah…

Senjakala di South Australia

Nge-bengkel di Australia

Saya punya dua mobil sekarang. Satu Oppa, satu lagi Ford Futura hijau tosca keluaran 1995. Sepuluh tahun lebih muda dari Oppa, transmisi otomatis dan interior lebih mewah. Wih, Elga kaya dong ya? Di Australia, mobilnya dua, Ford pula salah satunya! Tunggu sebentaaar, ini panjang ceritanya hahaha!

Ini si Ford 1995 tanpa nama “pemberian teman”, adik Oppa

Pertama, saya harus ingatkan, punya mobil, apalagi yang sudah tua, berjarak tempuh ratusan ribu kilometer, entah sudah pindah tangan berapa kali, di Australia pula itu…mahal! Kalau tidak terpaksa, mending naik transportasi publik atau jalan kaki aja, kak!

Sayangnya, di kota sepi macam Renmark, moda transportasi yang memberi keleluasaan beraktivitas adalah mobil pribadi. Bus? Ada sih. Dua kali sehari, rute ke Adelaide tapi hihihi!

Seperti yang sudah saya ceritakan, Oppa sudah tua dan sakit. “Mirip aku kalau pagi, yang sakit punggung lah, yang sakit kaki lah,” ujar Mel, si mekanik tua Italia. Untuk kesekian kali, Oppa bikin masalah. Dan kali ini, saya menyerah.

Pada satu pagi, dini hari, Oppa mogok setelah distop polisi. Iyap! Saya dipinggirin polisi lagi untuk ketiga kali! Tapi enggak sempat nawarin kopi kali ini :p Padahal, paginya Oppa baruuuu saja saya ambil dari bengkel lantaran jalannya tersendat-sendat.

Bahkan saat saya bawa ke bengkel, mesin Oppa sempat mati. Di. Tengah. Jalan raya.

Itu ngeri lho. Karena saya tidak seharusnya berhenti di tengah persimpangan jalan yang tidak ada ruang berhenti. Untung para pengendara di sekitar saya cukup sabar dan tidak membunyikan klakson (bukan Jakartans, saudara!) Plus, bengkelnya tinggal beberapa jengkal. Nyaris saja saya harus turun dan dorong Oppa menyeberang!

Ongkos perbaikan Oppa kali ini nyaris sama dengan sebelumnya. Lalu, biarpun Mel mekanik yang baik dan pengertian, saya jengkel dengan cara dia langsung memperbaiki Oppa dan memberi saya tagihan. Lah, saya kan sudah minta untuk cek dulu saja. Lalu kasih tahu berapa kisaran biayanya baru saya putuskan mau apa. Ini sih kayak orang enggak dikasih pilihan mau amputasi lengan atau tidak, tahu-tahu dioperasi dan ditagih bayar. Kesal.

Oya, biaya bengkel di Australia bisa bikin sakit lambung dan migrain kalau dirupiahkan. Biaya tenaga mekanik (labour hire) dihitung per jam mulai dari AU$ 70 biasanya. Belum ongkos suku cadang atau lain-lain yang perlu diganti. Untuk minyak pelumas saja, satu jenis bisa minimal AU$ 8, padahal mobil butuh bermacam cairan mulai dari cairan kemudi, cairan pendingin, pelumas rem, pelumas mesin… Nah, hitunglah sendiri.

Singkat cerita, karena sudah diperbaiki, saya bawa deh si Oppa jalan-jalan sebentar. Enggak sengaja lewat jalan tanpa aspal. Eh, sengaja ding. Niatnya ke pinggir sungai cuma tidak lewat jalan biasanya.

Menyadari jalan kerikil panjang itu terlalu bumpy, saya putuskan balik kucing. Di sinilah si Oppa mulai berulah. Suara mesinnya seperti orang tersedak sesuatu. Bleppp bleppp brrrmmm. Tapi saya masih percaya diri membawanya ke rumah teman bersama beberapa teman lain yang ikut menumpang. Agak cemas juga sih…

Lalu saya pergi berburu foto langit berbintang, Oppa saya tinggal di tempat teman. Saya minta teman membawa mobilnya karena saya tidak yakin dengan kondisi Oppa. Pulang dari berburu langit berbintang hampir 3 jam kemudian, saya bercanda soal distop polisi pada teman saya. Yang para pembaca budiman bisa tebak lanjutannya :p

Saya terpaksa meninggalkan Oppa di pinggir jalan dan pulang jalan kaki. Jam 4 dini hari! Zzzzz!

Lusanya, Mel membantu saya menderek Oppa ke bengkelnya sementara saya menumpang mobil teman untuk berangkat kerja. Selama beberapa hari berikutnya saya bahkan meminjam mobil teman. Haduh, terpujilah kebaikan kalian.

Sebelum dibantu derek, Irham dan Lylis (sesama teman WHV Indonesia) sempat membantu saya untuk mencoba jump start Oppa dengan mobil mereka yang…

Berakhir dengan surat tilang polisi karena Irham lupa bawa surat izin mengemudi. Tepat saat kami menepi mau menghadapi Oppa yang ada di pinggir jalan, mobil patroli berhenti tepat di belakang kami. Mereka sampai menyuruh Irham mengambil SIMnya di Paringa (menghabiskan 30menit perjalanan pulang-pergi) dan tetap memberi surat cinta denda pada Irham. Pada titik ini saya cuma ingin teriak histeris. Kenapaaaaaaaa???

Dengan segala situasi tak terduga, urusan mobil dan biayanya ini betul-betul bikin sakit kepala. Nah, di sinilah teman saya, Fran, berperan. Francesca, adalah rekan kerja senior saya di Murtho. Orang yang sangat tepat waktu, cerdas dan rekan kerja yang sangat bisa diandalkan.

Ngobrol-ngobrol di antara dia mengganti stiker mesin jeruk saya, dia bilang ingin menjual mobilnya lantaran tak pernah ia gunakan. Fran sudah punya tumpangan dari teman serumah dan mobilnya butuh ganti aki alias batere dan registrasinya hampir mati. “Aku enggak mau keluar ratusan dollar untuk batere dan rego sementara aku cuma tinggal beberapa minggu saja di sini,” katanya.

Cling! Tercetus ide, untuk membeli mobil Fran saja kalau sesuai harganya. Oppa sudah siap masuk peti. Tak terduga, Fran bilang, “apa aku berikan saja untukmu ya? Tapi aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa.” HAH?

Fran melanjutkan, ia akan mencoba menjual lebih dulu mobilnya. Jika dalam 2-3 hari mobil tak terjual, mobil itu jadi milikku. Alasannya, Fran tidak ingin merasa bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu padaku karena mobilnya. Baiklah, aku setuju.

Beberapa orang menghubungi Fran dengan berbagai ketentuan. Ada yang minta Fran belikan aki dulu untuk tahu mobilnya jalan atau tidak, baru memutuskan. Yang lebih aneh, ada yang mau datang dari Adelaide untuk melihat mobil itu. Halooo, mobil ini saja dari Adelaide! Pada saat itu, saya tidak tahu apa jenis mobil Fran. Pokoknya yang penting bisa jalan.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya yang mendapat hak mobil itu. Kami bertemu di bengkel Mel (saya datang sangat terlambat karena jalan kaki dari rumah. Rasanya bersalaaaah banget!) Lalu bersama kami ke Berri untuk memperbarui registrasi. Semua biaya saya yang tanggung. Lalu dibagi bersama Citra dan Indah.

Saya anggap ini mobil pinjaman. D akhir masa tinggal nanti, rencananya mobil ini saya jual untuk balik modal. Baik untuk saya, Citra dan Indah, maupun untuk Fran juga. Karena toh sebetulnya dia berhak menjual dan mendapatkan pembayaran atas mobil yang dia beli beberapa bulan silam ini.

Lalu Oppa bagaimana? Saya sudah siap melepas Oppa. Ibarat transaksi perdagangan saham, apa yang saya lakukan adalah cut loss. Mencegah kerugian lebih dalam. Ya sudahlah ya…

Yang tidak terduga, dulu saat masih mencari mobil untuk dibeli, saya sempat mempertimbangkan membeli Ford karena mesinnya berpenggerak belakang (rear-wheel drive). Eh, siapa sangka saya bakal sempat mengemudikan mobil ini, di Australia pula!

Oya, jangan kira mobil ini baik-baik saja. Beberapa hari pertama, selalu ada asap keluar dari kap depannya. Rupanya saya memang ditakdirkan berurusan dengan bengkel. Semua tabung cairan sudah saya isi. Akhirnya setelah sekian kali, saya buka kap saat masih berasap. Nah lo! Asapnya muncul dari dekat pipa cairan setir. Cairan itu bocor dan mendarat di pipa pembuangan makanya berasap. Pantas, baru saya isi penuh kemarin, hari ini sudah nyaris kering. Ahhhh!

Untungnya (setelah sempat beli cairan “penambal”), ketahuan bahwa mobil ini perlu ganti satu komponen supaya tidak bocor. Kali ini tidak terlalu mahal, tapi semoga setelah ini tidak ada edisi lanjutan ke bengkel lagi! Lelaaaah!

Momen terakhir bersama Oppa. Selamat tinggal…mobil pertama.

Makhluk Malam

Sejak menjalani pekerjaan sebagai gadis (penyortir) jeruk, kebiasaan hidup saya berubah 90 derajat. Biasanya saya memang kuat begadang sampai malam namun tetap bangun pagi (atau siang, tergantung situasi). Kini saya menjalani kehidupan nokturnal.

Rupanya cukup butuh beberapa minggu untuk mengubah kebiasaan hidup seseorang dari pagi ke siang menjadi siang ke pagi. Saya menjelma jadi makhluk malam.

Saya terbangun saat setiap orang sedang pulas tidur. Contohnya ya ini, lagi siaran iseng gara-gara tidak bisa tidur. Padahal ini tadi hari libur. Jam 9 malam saya sudah mapan di dipan, bercita-cita bangun pagi lalu sarapan scones yang saya bikin tadi dan lalala lain. 

Jam 11 malam saya terbangun. Melek. Segar bugar.

Lalu di sinilah saya, jam 2.30 pagi berjingkat ke dapur merebus mi. Kasihan yah. Apa boleh buat, biasanya tidur jam 4 atau 5 dini hari sih. Jadi tidur dua jam tadi? Mungkin dihitung tidur siang kali ya hahaha.

Masalahnya, pola makan saya jadi aneh dan mungkin tubuh saya bingung. Ini waktunya sarapan atau makan siang? Mi rebus ini kudapan atau makan malam? Tapi tadi jam 6 malam saya sudah makan kentang dan steak. Itu dihitung makan siang? Lalu cemilan jam 2 siang tadi sarapan? Aduhhh pusing ini badan, eh, kepala!

Tidak enaknya jadi makhluk malam, hidup seperti dalam kelam. Mau jalan-jalan ke luar, sudah gelap. Mana suhu musim dingin bikin badan beku. Mau nonton video lucu, enggak bisa ketawa keras-keras karena bakal ganggu teman serumah. Tidur juga terganggu karena saya mudah terbangun. Mulai tidur jam 5 pagi, terkaget bangun jam 10 pagi karena teman serumah mulai beraktivitas.

Mereka sering lupa, kalau di rumah ada satu makhluk nokturnal yang bercita-cita tidur 8 jam juga. Ah…cita-cita mulia.