let it go

Seni “merelakan pergi”

Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan? Continue reading

Ketika kakakku menikah

“Cinta adalah keputusan yang bertubi-tubi…” ~ Romo Istimoer Bayu Ajie

Captured from @hendiva87 on instagram

Captured from @hendiva87 on instagram

Delapan Mei Dua Ribu Enambelas. Bandung. Kakak laki-lakiku tersayang, Yudi, melepas lajang. Aku menghentikan sejenak perjalanan setahunku di Australia, terbang 6 jam dari Melbourne kembali ke Indonesia untuk menghadiri peristiwa sekali seumur hidup itu. Ini momen kakakku, saudara kandungku satu-satunya. Tak mungkin aku melewatkannya.
Continue reading

Berpisah dengan Melbourne

Bocah berumur 4 tahun itu terlihat enggan melakukan perintah ibunya: Beri Elga pelukan perpisahan yang erat. Sembari beringsut pelan, ia melingkarkan tangan kecilnya ke leherku dan memberiku pelukan berjarak. Gengsi. Aku tahu itu. Tapi, saat ibunya pergi ke dapur, ia menarikku mendekat padanya. “Cium,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Dan lelaki kecil itu menciumku. Tepat di bibir! Aduh nak…aku akan merindukanmu!

Sebut saja nama bocah itu O, aku hanya bertemu 4-5 kali dengannya sejak Februari lalu. Ibunya memintaku datang setiap dua minggu untuk bebersih rumah sekaligus menjaga dan bermain bersama O selama sang ibu bekerja 3 jam di luar rumah. Bebersih rumah dan mengasuh anak adalah sebagian pekerjaan serabutanku di Melbourne. Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan O karena aku akan meninggalkan Melbourne. Tak terasa, sudah 3,5 bulan lamanya aku di kota yang katanya “most liveable city” alias kota ternyaman sebagai tempat tinggal ini. Dan hari ini, adalah malam terakhirku di sini.

Aku tidak menyangka bahwa dalam tempo waktu singkat, aku bisa mengalami berbagai hal yang rumit, kompleks, memusingkan namun juga memperkaya pengalaman hidupku. Keputusanku untuk berpindah ke Melbourne dari Darwin memang tidak memberi manfaat finansial untukku karena aku tidak memiliki pekerjaan penuh waktu atau jam kerja yang panjang. Aku harus pandai mengelola keuangan dengan situasi pekerjaan tak menentu. Tapi, di sisi lain aku menemukan banyak jiwa-jiwa baik dalam perjalananku.

Keluarga asuhku di Darwin yang kini bermukim di Launceston, Tasmania, sudah menjadi keluarga kedua bagiku, teman-teman pemegang visa yang sama yang selalu memiliki cerita, kawan baru dari dunia maya dan jumpa darat, keluarga-keluarga baik yang mempekerjakan aku sekaligus menawariku tempat dan bantuan bila kubutuhkan serta kawan-kawan lama yang tak sengaja jumpa.

Minggu-minggu pertamaku di Melbourne tidak berjalan mulus untukku. Aku merasa mengambil keputusan salah tapi tak bisa berpindah. Situasi keluarga asuhku tak seperti yang aku bayangkan. Rumit, kompleks dan penuh tekanan. Rasanya kebahagiaanku dan rasa ingin tahuku untuk menjelajah tempat baru terserap dan bergumpal menjadi energi negatif siap ledak dan membebani pikiran. Melbourne menjadi tempat yang memusingkan dan mengungkungku dalam keramaian. Aku tidak suka kota ini, batinku saat itu.

Tapi berpindah tempat bukanlah opsi yang kumiliki dengan mudah. Aku harus pulang dalam tempo beberapa bulan untuk menghadiri pernikahan abangku. Pun, aku merasa tidak bisa mengingkari komitmen sebagai aupair yang telah kujanjikan. Bekerja dengan keluarga dan anak-anak, jauh lebih kompleks ketimbang bekerja sebagai karyawan resto, misalnya.

Selama masa-masa terberat itulah, keberadaan orang-orang ini menguatkan hatiku, mengusir sepi dan menjadi pengalih fokus energiku agar tak melulu murung karena situasi rumah keluarga asuhku. Aku mengalami berkemah pertama termewahku di Australia bersama Anne, trekking bersama teman WHV tetangga satu kawasan, berburu barang murah bersama teman au pair, daaaan banyak hal lain yang menempati sudut khusus ingatan abadiku nanti. Jika ada waktu, akan kutuliskan beberapa di antaranya. Janji yang tak ada batasan waktu tenggat tapinya ya. Pada akhirnya, keluarga asuhku di Melbourne membuatku belajar mengenai kesulitan hidup dan terus memegang integritas diri

Jadi, dengan ini aku berpamitan dengan Melbourne beserta isinya, dan kawasan sekitarnya, dan orang-orang yang sempat bersimpangan jalan denganku di sini. Pamit untuk sekarang, entah kapan akan kembali atau tidak, tiga setengah bulan di Melbourne akan tersimpan di hati. Selamat tinggal Australia (sekarang), sampai berjumpa lagi di bagian kawasan yang lain!

Bertahan di Melbourne

Bagaimana cara “menampar” orang yang boros supaya belajar hemat? Gampang, lemparkan dia pada situasi penuh ketidakpastian. Itu yang terjadi pada saya.

Setelah periode “bersenang-senang” di awal kedatangan di Australia, tidak pusing soal makan dan tempat tinggal tapi masih dapat uang saku sebagai au pair penuh waktu, kini saya berhadapan dengan situasi tak pasti. Dari yang semula tidak berpikir panjang, jadi memikirkan segala hal.

Sebagai demi pair alias au pair paruh waktu, saya memang mendapatkan tempat tinggal dan makanan sebagai ganti 18 jam bekerja setiap minggunya (batas waktu maksimum demi pair adalah 20 jam per minggu). Tapi saya tidak mendapat uang saku, sehingga harus mencari pekerjaan lain agar bisa mengisi dompet kembali. Isi dompet saya sudah terbang bersama setiap pengalaman di Darwin, Alice Springs, Adelaide dan Tasmania. Saya ke Melbourne dengan sisa uang yang hanya cukup untuk seminggu :P

Jadilah saya mencoba untuk mengiklankan jasa bersih-bersih rumah, setrika, sampai pijat! Memangnya saya punya sertifikat terapis? Oho, tentu tidak. Saya menawarkan jasa pijat pada ibu-ibu di grup au pair untuk datang ke rumah mereka dan memijat ala Jawa. Gampang, soalnya saya memang orang Jawa dan sejauh ini pijatan saya banyak dipuji (oleh ayah, ibu, tante, teman hahahhaha!)

Tapi, tentu orang tidak memerlukan pijat setiap minggu bukan? Maka setelah periode keemasan (dalam 1 minggu saya dapat 5 ibu-ibu yang minta dipijat), saya bekerja serabutan mulai dari kerja di gudang kecil, jadi pembersih rumah sampai penyeterika baju. Padahal, setrika baju adalah pekerjaan yang paling saya hindari. Tapi ternyata ibu-ibu Melbourne tidak kecewa dengan hasil setrika saya dan saya dapat duit dari situ. Lumayan lah ya…

Karena pendapatan tidak tetap setiap minggu inilah, saya semakin berusaha untuk hemat. Soalnya biaya transportasi di Melbourne lumayan juga. Sekali bepergian dalam sehari, saya pasti mencapai batas tertinggi yaitu sekitar AU$8 karena menggunakan Myki money. Memang ada opsi lebih murah, Myki pass, tapi baru terasa murah kalau perginya setiap hari. Kalau tidak, malah rugi karena kuota tidak terpakai.

Saya juga berencana untuk ganti layanan telepon yang lebih murah dan menghentikan polis asuransi kesehatan saya sementara. Semoga sih enggak ada masalah hahaha. Nah, ya…semoga minggu depan ada rejeki lagi!

Malas Bergerak di Melbourne!

Halo semuanya! Selamat tahun baru! Semoga tahun ini penuh rejeki dan kebaikan untuk kita semua walaupun cobaan-cobaan bakal terus berdatangan!

Kalau misalnya ada yang bertanya, Elga kemana saja, kok lama enggak update blognya? Hmm…alasan utama ya sebetulnya sama dengan penyakit semua orang: malas. Tapi supaya enggak terlihat pemalas, aku memulai #Elgaminiblog di media sosial Instagram: @elgapotter. Menulis berdasarkan foto yang diunggah terlihat lebih mudah dan praktis sih ya! Hahahaha! Continue reading

2015 in review

Syukurlah, walau jarang nulis sepanjang 2015 kemarin, masih ada aja yang kesasar ke sini hahahha!

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 36,000 times in 2015. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 13 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.